Dengue Hemorragic Fever (DHF) merupakan penyakit daerah tropis yang sering menyebabkan kematian baik pada anak, remaja maupun dewasa serta merupakan menempati tingkat yang tinggi diantara penyakit infeksius lainnya. Menurut World Health Organization (WHO) menyatakan sekitar 2,5 milyar orang di dunia berisiko terinfeksi virus dengue. WHO menggambarkan kasus penyakit demam dengue di seluruh dunia setiap tahun terdapat 50–100 juta, dimana terdapat 250.000–500.000 kasus DBD dengan angka kematian sekitar 24.000 jiwa pada tahun 2015. Asia menempati urutan pertama dalam jumlah penderita DBD setiap tahunnya menurut WHO, salah satunya adalah negara Indonesia dengan kasus DBD tertinggi di Asia Tenggara (Syahria, Kaunang, & Ottay, 2015).
Di Indonesia, berdasarkan data yang diperoleh pada tahun 2013, jumlah penderita DBD yang ada sebanyak 112.511 kasus dengan jumlah kematian 871 orang, Incidence Rate (IR)/ Angka kesakitan sebanyak 45,85 per 100.000 penduduk dan Case Fatality Rate (CFR)/ angka kematian yaitu 0,77%. Tahun 2013 terjadi peningkatan jumlah kasus dibandingkan tahun 2012 yaitu sebanyak 37,27 dan tahun 2013 sebesar ≤ 52 per 100.000 penduduk (Kemenkes RI, 2015). Tiga tahun terakhir untuk kasus DBD provinsi Jawa Tengah mengalami peningkatan, pada tahun 2011 terdapat 4.946 kasus, IR 15,27, CFR 0,95%, tahun 2012 terdapat kasus 7.088 kasus, IR 19,29 per 100.000 penduduk, CFR 1,52 %, tahun 2013 terdapat 15.144 kasus, IR 45,52 per 100.000 penduduk dan CFR 1,27% (Astuti, 2016).
Masyarakat yang tinggal di daerah perkotaan hanya sedikit yang melaksanakan program 3M (menguras, mengubur dan menutup) dikarenakan jumlah penduduk yang cukup padat sehingga terbatasnya akses air bersih serta tidak adanya tempat untuk mengubur barang-barang bekas sehingga penyakit menular merupakan masalah prioritas dalam pembangunan kesehatan masyarakat Indonesia (Yuniarti, 2007). DHF dapat menimbulkan komplikasi seperti dapat muncul dalam bentuk enselopati dengue, komplikasi Iatrogenik, kelainan hati, gagal ginjal akut dan edema paru (Djunaedi, 2006).
Morbilitas dan mortalitas DHF bervariasi dan dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain status imun, kondisi vektor nyamuk, transmisi virus dengue, virulensi virus, dan kondisi geografi setempat. Pecegahan dan penanggulangan penyakit DHF saat ini adalah dengan memberantas sarang nyamuk, usaha tersebut akan menimbulkan efek yang maksimal apabila mendapatkan partisipasi dari seluruh lapisan masyarakat yang dimulai dari anggota keluraga. Sesuai dengan fungsi pemeliharaan kesehatan, keluarga mempunyai peran dan tugas di bidang kesehatan yang perlu dipahami dan dilakukan yang meliputi mengenal masalah kesehatan, memutuskan tindakan yang tepat bagi keluarga, memberikan perawatan terhadap keluarga yang sakit, memodifikasi lingkungan keluarga untuk menjamin kesehatan keluarga dan menggunakan pelayanan kesehatan (Sudiharto, 2007).
Partisipasi keluarga tersebut perlu lebih ditingkatkan melalui strategi yang lebih bersifat akomodatif, fasilitatif/ bottom up dan kemitraan dimana masyarakat termasuk lembaga swadaya masyarakat yang mempunyai peran yang lebih besar, terfokus (prioritas, local specific, bertahap), lebih mengoptimalkan lintas sector, didukung data (evidence base) terutama data sosialbudaya serta diprogramkan pembrantasan sarang nyamuk secara luas di Provinsi, Kabupaten/ Kota dan puskesmas (Sudiarto, 2007).
Masyarakat diharapkan untuk tidak menganggap penyakit DHF seperti penyakit yang biasa saja karena sebagian besar DHF yang tidak ditangani dapat mengalami dengue syok syndrome (DSS) yang dapat menyebabkan kematian. Keadaan ini dikarenakan pasien mengalami defisit volume cairan akibat meningkatnya permeabilitas kapiler pembuluh darah sehingga keluar dari pembuluh darah sehingga mengakibatkan syok hipovolemia dan meninggal. Tindakan yang dapat dilakukan khususnya perawat adalah memiliki ketrampilan dan pengetahuan dalam memberikan asuhan keperawatan, ketrampilan yang sangat dibutuhkan adalah kemampuan mengidentifikasi tanda-tanda syok dan kecepatan dalam menangani pasien yang mengalami DSS (Hidayat, 2008).
Pencegahan terjadinya DHF disekitar lingkungan adalah selalu menjaga kebersihan lingkungan tempat tinggal, jangan biarkan ada genangan air yang mengendap terlalu lama karena dapat menjadi tempat perkembangbiakan dari nyamuk aedes aegypti yang merupakan pencetus penyakit DHF tersebut, selalu sediakan obat nyamuk baik dalam bentuk batang atau dalam bentuk gas yang sering kita jumpai di took-toko serta jangan lupakan semboyan 4M yaitu Mengubur, Menguras, Menutup dan Memantau (Hidayat, 2008). Dengue Haemmoragic Fever (DHF)
. (2017). ASUHAN KEPERAWATAN PADA An. S DENGAN DENGUE HAEMORAGHIC FEVER (DHF) DI RUANG CEMPAKA
RSUD Dr. R. GOETENG TAROENADIBRATA
PURBALINGGA. (Digital collection of academic papers, undergraduate thesis & research). Retrieved from https://repository.shb.ac.id