Angka Kematian Balita (AKABA) adalah jumlah kematian anak berumur 1-5 tahun per 1000 kelahiran hidup. Angka kematian balita menggambarkan tingkat permasalahan kesehaatan anak dan faktor-faktor lain yang berpengaruh terhadap kesehatan anak balita seperti gizi, sanitasi dan penyakit infeksi. Jumlah kematian balita diseluruh dunia menurut WHO (World Health Organization) menurun dari 12.7 juta anak pada tahun 1990 menjadi 5.9 juta anak pada tahun 2015. Penurunan angka kematian balita ini merupakan salah satu target dari SDG’s (Sustainable Development Goals), yaitu target ke 3 yang berisi menjamin kehidupan yang sehat dan mendorong kesejahteraan bagi semua orang disegala usia. Target SDG’s pada tahun 2030, ialah mengakhiri kematian balita dan balita yang dapat dicegah, dengan seluruh Negara berusaha menurunkan Angka Kematian Neonatal setidaknya hingga 12 per 1.000 kelahiran hidup dan Angka Kematian Balita 25 per 1.000 kelahiran hidup.(United Nations Development Programme, 2017).
Menurut data WHO (World Health Organization) 2017, Penyebab utama kematian pada anak balita pada tahun 2015 adalah komplikasi kelahiran prematur, pneumonia, komplikasi terkait intrapartum, diare, dan kelainan bawaan. Data WHO menunjukkan bahwa jumlah kematian balita
(1-5 tahun) di Indonesia karena diare mengalami kenaikan dan penurunanpadatahun 2000 berjumlah 25478 (10.7%) kasus mengalami penurunan menjadi 8551 (5.1%) kasus pada tahun 2015.
Angka Kematian Balita tahun 2015 menggambarkan tingkat permasalahan kesehatan balita, tingkat pelayanan KIA/Posyandu, tingkat keberhasilan program KIA/Posyandu dan kondisi sanitasi lingkungan.Penyakit diare merupakan penyakit endemis di Indonesia dan juga merupakan penyakit potensial KLB (Kejadian Luar Biasa) yang sering disertai dengan kematian. Pada tahun 2015 terjadi 18 kali KLB diare yang tersebar di 11 provinsi. Provinsi Jawa Tengah menduduki peringkat ketiga dalam angka kematian yang disebabkan oleh diare dengan jumlah 116 kasus (Profil Kesehatan Indonesia, 2015).
Diare adalah pengeluaran feses yang tidak normal dan cair. Bisa juga didefinisikan sebagai buang air besar yang tidak normal dan berbentuk cair dengan frekuensi lebih banyak dari biasanya. Balita dikatakan diare bila sudah lebih dari 3 kali buang air besar, sedangkan nenoatus dikatakan diare bila lebih dari 4 kali buang air besar (Vivian, 2010).
AKABA di provinsi Jawa Tengah tahun 2015 sebesar 11.64 per 1000 kelahiran hidup. Kabupaten/kota dengan AKABA tertinggi adalah Temanggung sebesar 18.92 per 1000 kelahiran hidup, Rembang sebesar 18.08 per 1000 kelahiran hidup dan Purbalingga sebesar 11.74 per 1000 kelahiran hidup. Untuk kasus berdasarkan gender antara laki-laki dan perempuan lebih banyak perempuan, hal ini disebabkan bahwa perempuan lebih banyak berhubungan dengan faktor resiko diare, yang penularannya melalui fekal oral, terutama berhubungan dengan sarana air bersih, cara penyajian makanan dan PHBS (Profil Kesehatan Jawa Tengah, 2015).
Penyakit diare masih merupakan salah satu penyebab kematian balita dan balita. Dari perkiraan 18.932 kasus diare pada tahun 2014 terdapat kejadian kasus diare sebesar 14.238 kasus (75.20)%, bila dibandingkan dengan tahun 2013 sebesar 37.10% (Profil Kesehatan Kabupaten Purbalingga Tahun 2014).
Peran bidan dalam kasus diare pada balita adalah memberikan asuhan kebidanan sesuai kebutuhan balita yang memerlukan konsultasi pada dokter Spesialis Anak serta melibatkan peran keluarga saat memberikan asuhan kebidanan pada balita dengan diare, seperti memberikan terapi sesuai anjuran dokter Spesialis Anak, memantau keadaan pasien dan memberikan KIE pada orangtua pasien (Nurhobikka dan Burhan, 2015).
Berdasarkan hasil survey pendahuluan tanggal 01 Desember 2016 di RSUD dr. R. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga, terdapat beberapa kasus yang menjadi penyebab kematian balita di RSUD R. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga pada tahun 2014 terdapat 1327 kasus diantaranya adalah Diare 470 kasus (35,41%), Febris Thypoid248 kasus (18,68%), Thalassaemia 238 kasus (18%). Sedangkan pada tahun 2015 mengalami penurunan menjadi 1295 kasus diantaranya adalah Diare 440 kasus (34%), Febris Thypoid 307 kasus (24%), Thalassaemia 260kasus(20%). Lalu padatahun 2016 terdapat 1128 kasus diantaranya adalah kenaikan Febris Thypoid 388 kasus (34.3%), Diare 272 kasus (24.1%), Thalassaemia 175 kasus (15.5 %).
Berdasarkan data diatas, kasus kematian balita karena diare menjadi peringkat pertama pada tahun 2014 yaitu sebesar 470 kasus (35.41%) lalu menurun menjadi 440 kasus (34%) pada tahun 2015 dan mengalami penurunan kembali pada tahun 2016 yaitu sebesar 272 kasus (24.1%), meski mengalami penurunan diare masih menjadi 3 besar penyebab kematian balita. Sehingga penulis tertarik melakukan studi kasus yang berjudul “Asuhan Kebidanan pada An. A umur 1 tahun 3 hari dengan Diare dehidrasi sedang di RSUD dr. R. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga”. Asuhan kebidanan Diare Dehidrasi Sedang
. (2017). ASUHAN KEBIDANAN PADA AN. A UMUR 1 TAHUN 3 HARI DENGAN DIARE DEHIDRASI SEDANG DI RSUD dr. R. GOETENG TAROENADIBRATA PURBALINGGA
TAHUN 2017. (Digital collection of academic papers, undergraduate thesis & research). Retrieved from https://repository.shb.ac.id