Keadaan kesehatan reproduksi khususnya pada wanita menjadi perhatian bersama, dikarenakan gangguan kesehatan reproduksi paling banyak dialami wanita. Gangguan kesehatan reproduksi yang sering terjadi pada sistem reproduksi wanita dikalangan masyarakat diantaranya kanker servik, kanker payudara, kista ovarium, gangguan menstruasi, mioma uteri, dan lain sebagainya (Manuaba, 2009).
Masalah kesehatan reproduksi yang dialami sebagian besar wanita dikarenakan faktor pola hidup yang tidak baik, seperti tidak berolah raga, pola makan tidak teratur,mudah stres, mengkonsumsi makanan yang tinggi lemak dan kurang serat, mengkonsumsi zat tambahan pada makanan, merokok dan mengkonsumsi alkhohol, terpapar dengan agen infeksius semua itu merupakan pola hidup yang tidak sehat dan memancing penyakit untuk menyerang kesehatan reproduksi wanita di masa kini. Masalah kesehatan reproduksi yang sering terjadi oleh wanita yaitu berupa kista ovariun (Nasdaldy, 2009 ).
Angka kejadian kesehatan reproduksi wanita di negara berkembang berdasarkan data dari World Cancer Research tahun 2012 yaitu berupa kanker servik sejumlah 84 %, kanker ovarium sejumlah 58 % ( termasuk di
dalamnya insiden paling banyak adalah kista ovarium yaitu sebanyak 18 % dan yang terakhir adalah kanker payudara sebanyak 53 % ) (WCRFI, 2012).
Angka kejadian kista ovarium di Amerika Serikat adalah 15 kasus per 100.000 wanita pertahun. Sebanyak 204.000 wanita terdiagnosis kista ovarium bermetastase menjadi kanker ovarium, 125.000 diantaranya meninggal dunia. Penyakit ini awalnya bersifat asimptomatik, sehingga sulitnya mendeteksi penyakit ini menyebabkan 60% - 70% pasien datang pada stadium lanjut (Christian, 2013 ). Word Health Organitation(WHO) danUnion For International Cancer Control(UICC) memprediksi, akan terjadi peningkatan lonjakan.penderita kanker sebesar 300 persen di seluruh dunia pada tahun 2030. Jumlah tersebut 70 persennya berada di negara berkembang seperti Indonesia (WHO,2010)
Masalah kesehatan reproduksi yang sering terjadi oleh wanita yaitu berupa kista ovarium. Kista adalah sebutan untuk neoplasma atau lesi padat yang terbentuk akibat pertumbuhan sel tubuh yang tidak semestinya, yang mirip dengan simtoma bengkak. Tumor berasal dari kata tumere dalam bahasa lain yang berarti “bengkak”. Pertumbuhannya dapat di golongkan sebagai ganas atau jinak (Nugroho, 2010 )
Angka kematian wanita usia subur di Indonesia sekitar 25 – 50 % nya disebabkan karena masalah kehamilan, persalinan, dan penyakit sistem reproduksi seperti kista ovarium. Insiden kista ovarium di Indonesia terdapat 2,39% - 11,7% pada semua penderita ginekologi yang di rawat di Rumah Sakit dan paling sering terdapat pada wanita berusia 20 – 50 tahun, dimana kista ovarium sering terjadi pada wanita usia reproduksi (Linawati, 2013 ).
Berdasarkan data Dinkes Provisi Jawa Tengah pada tahun 2012, yang berasal dari Rumah Sakit dan Puskesmas, kasus penyakit kista ovarium terdapat 2.259 kasus (Dinkes Jateng, 2013), mioma uteri 37.000 kasus setiap tahun (Laurensia,2012) Kista ovarium sering terjadi pada wanita di masa reproduksi, pada pemeriksaan mikroskopik kista tampak dilapisi oleh epitel torak tinggi dengan ini pada dasar sel, jika terdapat sobekan di dinding kista maka sel-sel epitel menyebar pada permukaan peritoneum rongga perut yang akan menimbulkan penyakit menahun dengan musin terus bertambah dan menyebabkan banyak perlekatan sehingga penderita meninggal karena ileus dan inanisi. Risiko yang paling ditakuti dari kista ovarium yaitu mengalami degenerasi keganasan, disamping itu bisa mengalami torsi atau terpuntir sehingga menimbulkan nyeri akut, perdarahan atau infeksi. Kista ovarium memerlukan penanganan yang profesional dan multi disiplin. Penanganan kista ovarium yaitu dengan cara operasi (Wiknjosastro, 2009 ).
Peran bidan sebagai tenaga kesehatan sangat penting dalam persiapan sebelum dan sesudah operasi kista ovarium seperti peran pribadi dan kolaborasi dengan Dr. SpOG. Salah satun peran bidan mandiri seperti memberi asuhan kebidanan pada wanita dengan gangguan sistem reproduksi. Penanganan sebelum operasi pada kista yang berdiameter lebih dari 5 cm bidan akan melakukan pemantauan terkait dengan tanda – tanda vital, keadaan umum, jumlah perdarahan dan melakukan pemeriksaan seperti pemeriksaan darah lengkap, hal ini penting untuk persiapan pasien yang akan di lakukan operasi. Sedangkan tindakan yang di lakukan pasca operasi yaitu seperti memonitoring tanda – tanda vital, keadaan luka, kaji adanya perdarahan, nyeri, status nutrisi, dan terapi yang didapat ( Manuaba, 2009 ).
Peran bidan yaitu bertugas untuk memberikan komunikasi informasi, edukasi, dan motivasi (KIEM) tentang pengobatan kista dengan pengobatan modern dan tindakan operasi (Manuaba, 2009). Peran bidan pada kesehatan reproduksi wanita dalam masyarakat salah satunya dengan memberikan asuhan kebidanan pada wanita yang memiliki risiko gangguan reproduksi seperti memberikan penyuluhan tentang pentingnya kesehatan reproduksi wanita, menjelaskan masalah – masalah yang ada dalam kesehatan reproduksi, serta mengajarkan cara mendeteksi dini tanda – tanda penyakit kista ovarium seperti nyeri haid yang berlebihan, siklus haid yang tidak teratur, dan perdarahan yang terjadi di luar jadwal haid.
Hasil pra survei yang di lakukan pada tanggal 30 Desember tahun 2016 di RSUD Hj. Anna Lasmanah Banjarnegara dari data rekam medik, pada tahun 2014 jumlah kejadian gangguan reproduksi berjumlah 92 kasus dengan angka kejadian berturut-turut yaitu kista ovarium terdapat 42 kasus (45,6 %), mioma uteri terdapat 35 kasus (38%), dan ca servik terdapat 15 kasus (16,3%). Pada tahun 2015 jumlah kejadian gangguan reproduksi berjumlah 79 kasus dengan angka kejadian berturut-turut yaitu kasus kista ovarium terdapat 38 kasus (48,1 % ), mioma uteri terdapat 29 kasus (36,7%), dan ca servik terdapat 12 kasus (15,1%), dan pada tahun 2016 jumlah kejadian gangguan reproduksi berjumlah 92 kasus dengan angka kejadian berturut-turut yaitu kasus kista ovarium terdapat 42 kasus (45,6 % ), mioma uteri terdapat 35 kasus (38%), dan ca servik terdapat 15 kasus (16,3) dan dapat di simpulkan bahwa berdasarkan hasil presentase penderita kista ovarium pada tahun 2014 sampai 2015 mengalami peningkatan sedangkan pada tahun 2016 mengalami penurunan hal ini dapat disebabkan karena telah berkembangnya wawasan masyarakat tentang kista ovarium atau kualitas pelayanan kesehatan yang memadai untuk menanggulangi masalah ini. Dalam data 3 tahun terakhir kasus kista ovarium menempati urutan pertama. Angka kejadian kista ovarium pada wanita usia reproduksi di RSUD Hj. Anna Lasmanah Banjarnegara periode 2015 – 2016 mengalami peningkatanpada kelompok umur 20-50 tahun dimana sebagian besar usia tersebut merupakan usia reproduktif seorang wanita (Manuaba, 2009).
Berdasarkan uraian diatas maka peneliti tertarik untuk mengambil judul “Asuhan Kebidanan pada Ny S umur 28 tahun P1 A0 Ah1 dengan kista ovarium di RSUD Hj. Anna Lasmanah Banjarnegara. Asuhan kebidanan kista ovarium
. (2017). ASUHAN KEBIDANAN PADA NY “S” UMUR 28 TAHUN P1 A0 AH1 DENGAN KISTA OVARIUM DI RUANG TERATAI RSUD HJ.ANNA LASMANAH BANJARNEGARA
TAHUN 2017. (Digital collection of academic papers, undergraduate thesis & research). Retrieved from https://repository.shb.ac.id