Masa balita merupakan masa pertumbuhan dan perkembangan berat badan yang paling pesat dibanding dengan kelompok umur lain, masa ini tidak terulang sehingga disebut window of opportunity dan periode penting dalam proses tumbuh kembang manusia. Masa tumbuh kembang di usia ini merupakan masa yang berlangsung cepat dan tidak akan pernah terulang, karena itu sering disebut golden age atau masa keemasan (Anggraeni, 2010).
Pertumbuhan balita sangat penting dilakukan pemantauan untuk mengetahui adanya gangguan pertumbuhan (growth faltering) secara dini. Untuk pemantauan pertumbuhan tersebut, penimbangan balita setiap bulan sangat diperlukan. Penimbangan balita dapat dilakukan di berbagai tempat seperti Posyandu, Polindes, Puskesmas atau sarana pelayanan kesehatan yang lain. Pemantauan pertumbuhan anak diperoleh dari frekuensi penimbangan anak umur 0-60 bulan selama enam bulan terakhir. Idealnya dalam enam bulan anak balita ditimbang minimal enam kali ( Riskesdas, 2013)
Gangguan pertumbuhan merupakan suatu keadaan apabila pertumbuhan anak secara bermakna lebih rendah atau pendek dibandingkan anak seusianya yang berdasarkan indeks tinggi badan menurut umur (TB/U) berada dibawah – 2 SD kurva pertumbuhan WHO 2005 (Kemenkes RI, 2010).
Penilaian pertumbuhan dapat dilakukan melalui penilaian pertumbuhan fisik salah satunya adalah melalui pemantauan tinggi badan anak. Dengan mengukur tinggi badan anak, pertumbuhan anak dapat dinilai dan dibandingkan dengan standar pertumbuhan yang bertujuan untuk menentukan apakah anak tumbuh secara normal atau mempunyai masalah pertumbuhan atau ada kecenderungan masalah pertumbuhan yang perlu ditangani. Gangguan pertumbuhan fisik meliputi gangguan pertumbuhan diatas normal dan gangguan pertumbuhan dibawah normal. Pemantauan berat badan menggunakan Kartu Menuju Sehat (KMS) dapat dilakukan secara mudah untuk mengetahui pola pertumbuhan anak (WHO, 2010).
Selain pertumbuhan anak, perkembangan anak juga perlu di pantau untuk mengetahui sedini mungkin gangguan perkembangan pada anak tersebut. Beberapa penelitian di Indonesia mendeteksi gangguan perkembangan anak pada usia prasekolah 12,8 % sampai dengan 28,5%. Sebuah penelitian di Jakarta Barat menggunakan uji tapis Denver II menemukan 25% populasi anak berusia 6 bulan 3 tahun termasuk dalam kategori tersangka menderita gangguan perkembangan. Empat penelitian lain di Bandung dengan subjek bayi berusia 12-14 bulan dengan riwayat berat badan lahir rendah (BBLR) mendapatkan hasil 22,4% mengalami tersangka gangguan perkembangan menurut uji tapis Denver II dan 17,6% menurut Kuesioner Praskrining Perkembangan (KPSP) (Hertanto dkk, 2014).
Periode 5 tahun pertama merupakan masa yang relatif pendek dan tidak terulang kembali maka orang tua, pengasuh, pendidik, masyarakat dan
tenaga kesehatan harus memanfaatkan kesempatan untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak sesuai dengan potensi yang dimilikinya dengan memenuhi kebutuhan dasar tumbuh kembang termasuk melakukan kegiatan Stimulasi, Deteksi dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK) (Riskesdas, 2013).
Wilayah Kabupaten Banjarnegara terdapat 35 Puskesmas, salah satunya yaitu Puskesmas Purwanegara 1. Jumlah balita keseluruhan di wilayah Puskesmas Purwanegara 1 pada tahun 2016 sampai maret 2017 sejumlah 4.700 balita. Berdasarkan data dari laporan bulanan UPGK Puskesmas Purwnegara 1 menunjukan balita dengan gizi buruk sejumlah 0,58%, gizi kurang sejumlah 3,55%, gizi baik sejumlah 93,47%, gizi lebih/obesitas sejumlah 2,38% , dapat disimpulkan bahwa status gizi balita di wilayah Puskesmas Purwanegara 1 sebagian besar balita berstatus gizi baik. Puskesmas Purwanegara 1 untuk kegiatan SDIDTK terutama untuk tes perkembangan belum dilaksanakan, sedangkan perkembangan anak juga perlu dipantau untuk mengetahui sedini mungkin gangguan perkembangan pada anak, serta untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak sesuai potensi yang dimiliki oleh anak.
Peran bidan sangat dibutuhkan untuk memberikan asuhan kebidanan balita dengan melibatkan keluarga. Agar pertumbuhan dan perkembangan balita tetap optimal dan sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Peran bidan dalam pemantauan pertumbuhan dan perkembangan menggunakan Stimulasi Deteksi dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK) dan buku KIA,
melaksanakan pemantauan dan menstimulasi tumbuh kembang bayi dan anak, menjelaskan kepada orang tua tentang tindakan yang dilakukan, melaksanakan penyuluhan pada orang tua tentang pemeliharaan bayi dan anak, melaksanakan penilaiaan status nutrisi pada anak, mendokumentasikan temuan-temuan dan intervensi yang dilakukan. Saat ini asuhan kebidanan yang berkelanjutan sudah diupayakan melalui pemberian buku KIA sebagai alat bantu pemantauan kesehatan ibu dan anak. Upaya yang dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan dalam membantu perkembangan anak adalah memberikan stimulasi yang tepat terhadap aspek perkembangan yang dimiliki oleh setiap anak. Stimulasi merupakan kegiatan merangsang kemampuan dasar anak usia 0-6 tahun agar berkembang secara optimal. Stimulasi perkembangan anak dilakukan oleh keluarga, serta bidan juga berperan untuk memberikan stimulasi pada perkembangan anak melalui kegiatan stimulasi, deteksi dan intervensi dini. Kurangnya stimulasi dapat menyebabkan penyimpangan tumbuh kembang bahkan gangguan yang bersifat menetap (Ari, 2014 ).
Berdasarkan uraian diatas dapat diketahui bahwa balita fisiologis dapat beresiko menjadi balita patologis apabila tidak mendapatkan pelayanan yang baik, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Asuhan kebidanan pada balita An.C umur 2 tahun 3 hari di Puskesmas Purwanegara 1 pada tahun 2017 ”.
. (2017). ASUHAN KEBIDANAN PADA BALITA An.C UMUR 2 TAHUN 3 HARI DI PUSKESMAS PURWANEGARA 1
TAHUN 2017. (Digital collection of academic papers, undergraduate thesis & research). Retrieved from https://repository.shb.ac.id