Derajat kesehatan yang optimal salah satunya adalah dengan memperhatikan kesehatanwanita,khususnyakesehatan reproduksi karena haltersebut berdampakluas,menyangkutberbagai aspekkehidupan,serta merupakan parameter kemampuan negara dalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan terhadap masyarakat (Pratiwi, 2013). Menurut World Health Organization (WHO) 2008, kesehatan reproduksi merupakan suatu keadaan kesejahteraan fisik, mental dan sosial secara utuh bukan hanya bebas dari penyakit atau kecacatan dalam segala aspek yang berhubungan dengan sistem reproduksi, fungsi, serta prosesnya.
Kesehatan reproduksi wanita adalah kemampuan seorang wanita untuk memanfaatkan alat reproduksi dan mengatur kesuburannya (fertilitas), dapat menjalankan kehamilan dan persalinan secara aman serta mendapatkan bayi tanpa resiko atau well health mother and well born baby dan selanjutnya mengembalikan kesehatan dalam batas normal. Dengan demikian kesehatan reproduksi merupakan masalah vital dalam pembangunan kesehatan umumnya,karena tidak akan dapat diselesaikan dengan jalan melakukan tindakan kuratif (pengobatan),tetapi jauh daripada itu merupakan masalah masyarakat yang masih dapat diperbaiki. (Marmi dkk, 2011).
Permasalahan kesehatan yang sering terjadi pada sistem reproduksi wanita di kalangan masyarakat diantaranya kanker servik,kanker payudara,kista ovarium, gangguan menstruasi dan mioma uteri dan lain sebagainya (Manuaba, 2009). Mioma uteri merupakan salah satu tumor jinak pada daerah rahim atau lebih tepatnya otot rahim dan jaringan ikat disekitarnya. Tumor jinak ini berasal dari otot uterus dan jaringan ikat yang menumpanginya. Mioma uteri dikenal juga dengan istilah fibromioma, leoimioma atau fibroid (Desen, 2013). Komplikasi yang dapat timbul apabila miomauteri tidak segera ditangani yaitu dapat menimbulkan perlukaan pada dinding uterus, terjadinya ketidakseimbangan elektrolit dan komplikasi paling parah yang terjadi pada mioma uteri adalah perdarahan (Prawirohardjo, 2009)
Angka kejadian gangguan reproduksi di negara berkembang mencapai 36% dari total beban sakit yang diderita selama masa produktif. Diperkirakan insiden mioma uteri sekitar 20%-35% dari seluruh wanita di dunia (Ekine dkk, 2015). Biasanya penyakit ini ditemukan secara tidak sengaja pada pemeriksaan rutin atau saat sedang melakukan medical check up tahunan. Berdasarkan penelitian Word Health Organitation (WHO)penyebab angka kematian ibu karena mioma uteri pada tahun 2013 sebanyak 22 (1,95%) kasus dan tahun 2014 sebanyak 21 (2,04%) kasus (Depkes RI,2014)
Di Indonesia pada tahun 2011 kasus mioma uteri ditemukan sebesar 2,39-11,7% pada semua pasien kebidanan yang di rawat. Tumor ini paling sering ditemukan pada wanita umur 35-45 tahun (kurang lebih 25%) dan jarang pada wanita umur 20 tahun dan wanita post menopause. Wanita yang sering melahirkan, sedikit kemungkinan untuk perkembangan mioma ini dibandingkan dengan wanita yang tidak pernah hamil atau hanya satu kali hamil. Statistik menunjukan 60% mioma uteri berkembang pada wanita yang tidak pernah hamil atau hanya satu kali hamil prevelensi meningkat apabila ditemukan riwayat keluarga,ras,kegemukan dan nullipara (Nurana&Sjamsudin, 2007)
Kasus mioma uteri di Jawa Tengah merupakan indikasi utama dilakukannya histerektomi yaitu sekitar 600.000 kasus setiap tahun, sedangkan miomektomi hanya sekitar 37.000 kasus setiap tahun (Laurensia, 2012). Berdasarkan Profil Kesehatan Jawa Tengah Tahun 2013 menyatakan bahwa mioma uteri menempati urutan kedua penyakit tidak menular setelah kanker payudara. Mioma uteri termasuk dalam neoplasma jinak ginekologi asimptomatik tersering dengan insiden satu dari empat wanita selama masa reproduksi aktif (Profil Kesehatan Jawa Tengah, 2013)
Berdasarkan hasil prasurvei yang dilakukan pada tanggal 30 Desember 2016 di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. R. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga pada bulan Januari sampai Desember didapatkan data dari ruang rawat inap bahwa jumlah kasus gangguan reproduksi tahun 2014 mencapai 56 orang yang terdiri atas mioma uteri 41 orang (73%),kista ovarium 8 orang (14%), carsinoma cervix 7 orang(12%), lalu pada tahun 2015 kasus gangguan reproduksi mencapai 44 orang terdiri atas mioma uteri 34 orang (77%),kista ovarium 4 orang (9%),carsinoma cervix 6 orang (13%). Dan pada tahun 2016 kasus gangguan reproduksi mencapai 84 orang terdiri atas mioma uteri 43 orang (51%),kista ovarium 33 orang (39%), carsinoma cervix 8 orang (9.3%) dan dapat disimpulkan bahwa berdasarkan hasil prosentase penderita mioma uteri pada tahun 2014-2015 meningkat sedangkan tahun 2015-2016 menurun hal ini dapatdi sebabkan karena telah berkembangnya wawasan masyarakat tentang mioma uteri dan di dukung oleh pelayanan kesehatan yang telah memadai untuk menanggulangi masalah mioma uteri, namun walaupun jumlahnya menurun mioma uteri di RSUD dr.R. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga dalam 3 tahun terakhir ini menempati urutan pertama dari kasus-kasus gangguan reproduksi lainnya.
Peran bidan pada kesehatan reproduksi wanita dalam masyarakat salah satunya dengan memberikan asuhan kebidanan pada ibu yang memiliki resiko gangguan reproduksi seperti memberikan penyuluhan pada wanita –wanita produktif tentang pentingnya kesehatan reproduksi wanita, menjelaskan masalah-masalah yang ada dalam kesehatan reproduksi,serta mengajarkan cara mendeteksi secara dini tanda- tanda penyakit mioma uteri seperti nyeri saat haid yang berlebihan,menstruasi yang banyak diluar siklus haid,nyeri bagian perut dan punggung bagian bawah,susah buang air besar,muncul rasa sakit saat sedang melakukan senggama dengan suami. Selain itu bidan juga dapat mengadakan pemeriksaan ginekology seperti pap smear dan iva test secara gratis di tempat pelayanan kesehatan (Manuaba, 2009)
Sedangkan peran bidan pada wanita yang sudah menderita mioma maka sebagai seorang tenaga kesehatan sangat berperan penting dalam persiapan pasien sebelum dan sesudah operasi mioma uteri seperti peran mandiri dan kolaborasi. Salah satu peran bidan mandiri seperti memberi asuhan kebidanan pada wanita dengan gangguan sistem reproduksi. Penanganan sebelum operasi bidan akan melakukan pemantauan terkait dengan tanda-tanda vital pasien,keadaan umum,jumlah perdarahan dan melakukan pemeriksaan seperti darah lengkap,hal ini penting untuk persiapan pasien melakukan tindakan operasi. Tindakan pasca operasi yang dilakukan seperti monitor tanda-tanda vital,nyeri,status nutrisi dan terapi yang didapat (Manuaba, 2009)
Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis tertarik mengambil kasus “Asuhan Kebidanan Pada Ibu Gangguan Sistem Reproduksi Ny. Rumur 42 tahun P2A1AH2 dengan Mioma Uteri di RSUD dr. R. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga tahun 2017 “ dengan menerapkan manajemen kebidanan menurut Varney, serta pendokumentasian menurut SOAP. mioma uteri Asuhan Kebidanan Pada Ibu Gangguan Reproduksi
. (2017). ASUHAN KEBIDANAN PADA IBUGANGGUAN REPRODUKSI
NY.R UMUR 42 TAHUN P2 A1 AH2 DENGAN MIOMA UTERI
DI RSUDdr.R.GOETENG TAROENADIBRATA
PURBALINGGA TAHUN 2017. (Digital collection of academic papers, undergraduate thesis & research). Retrieved from https://repository.shb.ac.id