Gangguan kesehatan yang sering terjadi pada sistem reproduksi wanita dikalangan masyarakat diantaranya kanker serviks, kanker payudara, kista ovarium, gangguan menstruasi, mioma uteri dan lain sebagainya. Data tahun
2013 mengemukakan kista ovarium merupakan penyakit kelima yang sering menyebabkan kematian wanita setelah kanker paru-paru, kolorental, payudara dan pancreas, insidennya pada wanita di bawah 50 tahun sebanyak 5,3 per
100.000 dan meningkat menjadi 41,4 per 100.000 pada wanita diatas 50 tahun. Jumlah ini diprediksikan akan terjadi peningkatan sebesar 300% diseluruh dunia pada tahun 2030 jumlah tersebut 70% berada di negara berkembang seperti Indonesia (WHO, 2013). Pada tahun 2015 angka kejadian tertinggi ditemukan pada negara maju dengan rata-rata 10 per 100.000, kecuali di Jepang (6,4 per 100.000) (WHO, 2015).
Beberapa ahli menemukan bahwa kanker ovarium disebabkan oleh metastase dari sel-sel epitel yang sebelumnya berasal dari kista ovarium, dilaporkan bahwa 30-35% pada kista ini memiliki potensi keganasan menjadi sel kanker ovarium (Prawiharjo, 2010). Sejumlah 204.000 wanita di seluruh dunia yang terdiagnosis kista ovarium dapat bermetastase menjadi kanker ovarium (Rasjidi, 2009). Kista ovarium merupakan suatu pengumpulan cairan
yang terjadi pada indung telur atau ovarium. Cairan yang terkumpul ini
1
dibungkus oleh semacam selaput yang tebentuk dari lapisan telur dari ovarium (Wirawan, 2010). Kista ovarium tidak semuanya ganas, ada juga yang jinak bahkan dapat menghilang dengan sendirinya. Beberapa ahli menemukan kista ovarium dapat berpotensi menjadi kanker ovarium pada wanita diatas 40 tahun dan kanker ovarium ini merupakan penyebab kematian terbanyak dari semua kanker ginekologi (Eman, 2009).
Berdasarkan Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun
2012, angka kejadian kista ovarium di Indonesia mencapai 37,2% dan paling sering terjadi pada wanita berusia antara 20-50 tahun, dan jarang sekali pada masa pubertas (Kemenkes, 2012). Angka kejadian kista ovarium di Indonesia pada tahun 2015 sebanyak 23.400 orang dan yang meninggal sebanyak 13.900 orang. Angka kematian yang tinggi ini disebabkan karena penyakit ini pada awalnya bersifat asimptomatik dan baru menimbulkan keluhan apabila sudah terjadi metastasis sehingga 60-70% pasien datang dengan stadium lanjut (Kemenkes, 2015). Kasus kista ovarium di provinsi Jawa Tengah sejumlah
2.299 kasus yang di dapatkan dari laporan Puskesmas dan Rumah Sakit. Dari jumlah tersebut jumlah penderita kista ovarium paling banyak diderita pada usia 25-44 tahun (Dinkes Jateng, 2015).
Komplikasi-komplikasi yang dapat terjadi pada kista ovarium adalah perdarahan dalam kista, biasanya terjadi sedikit demi sedikit sehingga berangsur-angsur banyak dan menyebabkan pembesaran kista dan menimbulkan gejala-gejala klinik minimal. Perdarahan yang terjadi sewaktu- waktu dalam jumlah banyak akan menyebabkan distensi cepat dari kista yang
menimbulkan nyeri perut mendadak pada ibu. Komplikasi selanjutnya yang ditimbulkan adalah putaran tangkai terjadi pada tumor bertangkai dengan diameter 5 cm atau lebih yang menimbulkan tarikan melalui ligamentum infundibulopelvikum peritoneum parietal yang menimbulkan rasa sakit. Komplikasi selanjutnya yang dapat terjadi adalah robeknya dinding kista, terjadi pada torsi tangkai sebagai akibat trauma, seperti jatuh atau pukulan pada perut dan lebih sering pada saat berhubungan yang apabila terjadi hemoragi maka perdarahan dapat terjadi pada uterus kemudian kedalam rongga peritoneum dan mengakibatkan nyeri akut dan terjadi perubahan keganasan (Wiknjosastro, 2009).
Tanda dan gejala terjadinya kista ovarium pada stadium awal dapat berupa rasa nyeri yang menetap dirongga panggul disertai agak gatal, nyeri saat bersetubuh, siklus menstruasi yang tidak teratur, perut membesar, nyeri tekan pada perut bagian bawah, obstipasi dan sering berkemih. Pada stadium lanjut dintandai dengan asites, penyebaran lemak pada organ dirongga perut (usus dan hati) dan sesak nafas akibat penumpukan cairan dirongga dada (Delfi,
2009).
Penanganan yang dilakukan pada penderita kista ovarium tergantung ukuran dari masing-masing kista. Pada kista yang berukuran kurang dari 5 cm dilakukan laparaskopi, dengan cara memasukan alat laparaskopi ke dalam rongga panggul dengan melakukan sayatan kecil pada dinding perut yaitu sayatan searah dengan rambut kemaluan. Pada kista yang berukuran lebih dari
5 cm dilakukan laparatomi yang dilakukan dengan pembiusan total. Kista
dengan diameter lebih dari 5 cm lebih berisiko akan terjadi komplikasi seperti putaran tangkai, degradasi keganasan, dan torsi pada kista (Sastrawinata,
2010). Pada saat dilakukan laparatomi, kista sudah diperiksa apakah sudah mengalami proses keganasan atau tidak melalui pemeriksaan patologi anatomi. Patologi anatomi adalah spesialis medis yang melakukan diagnosis penyakit berdasarkan pemeriksaan makroskopik, molekul atas organ, jaringan, dan sel yang diambil saat dilakukan laparatomi (Yatim, 2008).
Bidan sebagai tenaga kesehatan yang sangat dekat dengan asuhan kepada wanita sangatlah berperan penting dalam upaya penanganan pada, pencegahan maupun penyembuhan. Upaya penanganan pada kasus kista ovarium yang dilakukan bidan yang pertama adalah membantu menegakkan kemungkinan adanya kista di bagian bawah abdomen, kemudian bila pada pemeriksaan fisik dan penunjang ditemukan adanya tanda-tanda yang dicurigai hasil pemeriksaan yang mengarah pada kista ovarium, bidan dapat segera melakukan konsultasi untuk merujuk pasien ke dokter ahli kandungan. Bidan juga bertugas untuk memberikan informasi, edukasi dan motivasi seperti konseling tentang pengobatan dengan pengobatan modern dan tindakan operasi (Manuba, 2009).
Upaya pencegahan yang dilakukan bidan pada kasus kista adalah memberikan informasi kepada penderita kista untuk menjauhi fakto-faktor penyebabnya. Faktor-faktor etiologi yang menyebabkan kista ovarium adalah faktor genetik, gaya hidup yang tidak sehat seperti mengkonsumsi makanan tinggi lemak, merokok, kurang olahraga dan sering stres (Febri, 2011). Upaya penyembuhan yang dapat dilakukan bidan yaitu berupa memonitor keadaan
umum, tanda-tanda vital, mengkaji keadaan luka pasien, mengkaji perdarahan, membantu mengatai nyeri dengan mengajarkan teknik relaksasi seperti teknik pernafasan atau kompres hangat, memberikan konseling mengenai nutrisi yang dapat membantu proses penyembuhan, dan memberikan therapy sesuai advis dokter (Manuaba, 2009).
Rumah Sakit Umum Daerah Prof. Dr. Margono Soekardjo Purwokerto merupakan RSUD kelas B yang merupakan milik pemerintah Jawa Tengah yang berada di Purwokerto dengan jangkauan untuk pelayanan untuk masyarakat di wilayah Jawa Tengah bagian barat – selatan. Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan macam-macam kasus gangguan reproduksi yang terjadi di RSUD Margono Soekardjo selama 3 tahun terakhir adalah kanker serviks sebanyak 1.145 kasus, kanker ovarium 897 kasus, mioma uteri 501 kasus, kista ovarium 384 kasus dan endometriosis sebanyak 105 kasus. Jumlah pasien kista ovarium pada tahun 2015 terdapat sebanyak 95 kasus, tahun 2016 terdapat 119 kasus, tahun 2017 terdapat 147 kasus. Dari data tersebut diketahui terjadi peningkatan setiap tahun pada kasus ovarium.
Berdasarkan uraian di atas maka dari itu penulis merasa tertarik untuk mengambil judul “Asuhan Kebidanan Pada Ny. E Umur 43 Tahun P2 A4 Ah2 dengan Kista Ovarium Di Ruang Teratai RSUD Prof. Dr. Margono Soekardjo”.
URL : https://repository.uhb.ac.id/index.php?p=show_detail&id=2138
APA Citation
. (2018). Asuhan Kebidanan Pada Ny. E Umur 43 Tahun P2 A4 Ah2 dengan Kista Ovarium Di Ruang Teratai RSUD Prof. Dr. Margono Soekardjo. (Digital collection of academic papers, undergraduate thesis & research). Retrieved from https://repository.shb.ac.id