homescontents
homescontents

Repository Universitas Harapan Bangsa.
Digital collection of academic papers, undergraduate thesis, research

Repository Universitas Harapan Bangsa.
Digital collection of academic papers, undergraduate thesis, research


Detail Cantuman

Kembali

Asuhan Kebidanan Pada Ibu Nifas Ny. U Umur 34 Tahun P3A0AH3

XML
Pengarang
Heni Nirwanda - Personal Name
Pernyataan Tanggungjawab
Lampiran Berkas
LOADING LIST...
Bahasa
Indonesia
Penerbit
STIKES Harapan Bangsa
Tahun Terbit
2018
Tempat Terbit
Fakultas Ilmu Kesehatan SHB
Deskripsi Fisik

Abstract

Masa nifas (puerperium) dimulai sejak 2 jam setelah lahirnya plasenta sampai dengan 6 minggu (42 hari) setelah itu (Susilo dan Kumala, 2016). Pada masa nifas ini terjadi perubahan-perubahan fisiologis maupun psikologis, yakni perubahan fisik, involusi uterus dan pengeluaran lochea, laktasi atau pengeluaran air susu ibu, perubahan system tubuh lainnya serta perubahan psikis (Maryunani, 2009).
Berdasarkan data World Health Organization (WHO), sebanyak 99% kematian ibu akibat masalah persalinan atau kelahiran terjadi di negara-negara berkembang. Rasio kematian ibu di negara-negara berkembang merupakan yang tertinggi dengan 450 kematian ibu per 100.000 kelahiran bayi hidup jika dibandingkan dengan rasio kematian ibu di 9 negara maju dan 51 negara persemakmuran. Berdasarkan data WHO 81% Angka Kematian Ibu (AKI) akibat komplikasi selama hamil, bersalin dan 25% selama masa post partum, penyebabnya yaitu perdarahan post partum 20%, eklamsi 5%, infeksi 11% (Kemenkes, 2016).
Hasil Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2015, angka kematian ibu di Indonesia mencapai 359 per 100.000 kelahiran hidup, data laporan dari daerah yang diterima Kementerian Kesehatan RI menunjukan bahwa jumlah ibu yang meninggal karena selama dan setelah kehamilan dan persalinan tahun 2015 adalah sebanyak 5019 orang. Penyebab kematian ibu di Indonesia meliputi penyebab obstetri langsung yaitu perdarahan 28%, preeklamsi/eklamsi 24% , infeksi 11%, sedangkan penyebab tidak langsung adalah trauma obstetri 5% dan lain-lain 11%. Kematian masa nifas terjadi dalam 24 jam pertama yaitu 50%, dimana penyebab utamanya adalah perdarahan pasca persalinan (Kemenkes, 2016).
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Jawa Tengah, kasus kematian ibu tertinggi pada tahun 2015 adalah Brebes yaitu 52 kasus, diikuti Kota Semarang 35 kasus, dan Tegal 33 kasus. Kabupaten/Kota dengan kasus kematian ibu terendah adalah Temanggung yaitu 3 kasus, diikuti Kota Magelang 3 kasus, dan Kota Surakarta 5 kasus. Sebesar 60,90% kematian maternal terjadi pada waktu nifas, penyebab kematian meliputi perdarahan 21,14%, infeksi 2,76%, lain-lain 40,49% (Dinkes, Jawa Tengah, 2016).
Salah satu strategi yang dilakukan oleh Kementrian Kesehatan untuk menurunkan angka kematian ibu adalah peningkatan kualitas pelayanan kebidanan yang diberikan oleh tenaga kesehatan, termasuk bidan (Direktorat Bina Kesehatan Ibu, 2016). Komplikasi dapat dicegah dengan adanya asuhan masa nifas, bidan berperan penting dalam pemberian pelayanan pada masa nifas bertujuan untuk mendeteksi dini masalah yang mungkin terjadi sehingga dapat mencegah komplikasi yang mungkin terjadi, seperti perdarahan dan infeksi pada masa nifas (Susilo dan Kumala, 2016).


Asuhan pada ibu nifas tujuannya untuk mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri, mendeteksi dan adanya komplikasi penyebab lain masa nifas yaitu infeksi, preeklamsi/eklamsia, mastitis, gangguan psikologis, depresi, dan post partum blues (Susilo dan Kumala, 2016). Peran bidan dalam masa nifas memiliki peranan yang sangat penting dalam pemberian asuhan post partum. Adapun peran dan tanggung jawab dalam masa nifas antara lain memberikan asuhan pada ibu nifas dan menyusui, standar kompetensi bidan ke-5, bidan memberikan asuhan pada ibu nifas dan menyusui yang bermutu tinggi dan tanggap terhadap budaya setempat, mencegah komplikasi dengan memenuhi ibu dan bayi selama periode masa nifas (Sulistyawati, 2009).
Keberhasilan asuhan masa nifas dapat dilihat dalam cakupan kunjungan nifas, cakupan kunjungan nifas (KF3) di Indonesia menunjukan kecenderungan peningkatan dari tahun 2008 sampai dengan tahun 2015, demikian nampak adanya penurunan cakupan KF3 pada tahun 2016. Penurunan tersebut disebabkan karena banyaknya faktor, yaitu penetapan sasaran Kabupaten/Kota terlalu tinggi, kondisi geografi yang sulit di beberapa wilayah, belum optimalnya koordinasi dan pelaporan antar Kabupaten/Kota dan Provinsi, dan kurangnya kesadaran dan pengetahuan ibu dan keluarga tentang pentingnya pemeriksaan kesehatan pada masa nifas (Kemenkes, 2017)
Asuhan pada ibu masa nifas yang ke-1 dimulai 6-8 jam setelah persalinan, tujuannya untuk mencegah perdarahan masa nifas, memberikan konseling pada ibu untuk bagaimana mencegah perdarahan masa nifas, pemberian ASI awal, melakukan hubungan antara ibu dan bayi, menjaga bayi tetap hangat. Kunjungan nifas yang ke-2 yaitu pada masa nifas 6 hari setelah persalinan tujuannya untuk memastikan involusi uterus berjalan normal, uterus berkontraksi, fundus di bawah umbilicus, infeksi dan perdarahan abnormal, memastikan ibu mendapatkan cukup, makanan, cairan dan istirahat, memastikan ibu menyusui dengan baik, memberikan konseling pada ibu mengenai asuhan pada bayi, tali pusat, menjaga bayi tetap hangat dan merawat bayi sehari-hari. Kunjungan nifas yang ke-3 asuhan pada ibu nifas 2 minggu setelah persalinan tujuannya untuk memastikan rahim sudah kembali normal, asuhan pada ibu nifas 6 minggu setelah persalinan tujuannya untuk menanyakan pada ibu tentang penyulit-penyulit yang ibu dan bayi alami, memberikan konseling untuk KB (Susilo dan Kumala, 2016)
Hasil studi pendahuluan yang dilakukan di Puskesmas Punggelan 1 Banjarnegara tanggal 03 Januari 2018, diketahui bahwa data ibu nifas di Kabupaten Banjarnegara pada tahun 2016 yaitu 49.365 ibu nifas, akan tetapi capaian kunjungan nifas sebesar 15.491, hal ini berarti ibu masa nifas jauh dari capaian kunjungan nifas. Pada tahun 2016 terdapat ibu nifas yaitu 489 orang, sedangkan pada tahun 2017 tedapat ibu nifas 488 orang. Pada tahun 2017 cakupan KF1 telah mencapai 100%, KF2 telah mencapai 100% dan cakupan KF3 di Puskesmas Punggelan 1 Banjarnegara telah mencapai 99% dari target capaian 100%. Hal ini menunjukan masih perlunya peningkatan asuhan ibu nifas untuk mencapai cakupan kunjungan ibu nifas (KF3) 100% di Puskesmas Punggelan 1 Banjarnegara. (Dinkes, Banjarnegara, 2017)
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas maka peneliti tertarik untuk mengambil penelitian di Puskesmas Punggelan 1 Kabupaten Banjarnegara dengan judul “Asuhan Kebidanan Pada Ibu Nifas Ny. U Umur 34 Tahun P3A0AH3” yang di lakukan pada tahun 2018


URL : https://repository.uhb.ac.id/index.php?p=show_detail&id=2144
APA Citation
. (2018). Asuhan Kebidanan Pada Ibu Nifas Ny. U Umur 34 Tahun P3A0AH3. (Digital collection of academic papers, undergraduate thesis & research). Retrieved from https://repository.shb.ac.id




© 2018. UPT Perpustakaan - Universitas Harapan Bangsa, Formerly STIKes Harapan Bangsa Purwokerto, www.uhb.ac.id.
This software and this template are released Under GNU GPL License Version 3 II SLiMS distro version ETD
Made by The Happy Team :-D
web
statistics

SHB YPDP


https://103.189.235.100/

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor