homescontents
homescontents

Repository Universitas Harapan Bangsa.
Digital collection of academic papers, undergraduate thesis, research

Repository Universitas Harapan Bangsa.
Digital collection of academic papers, undergraduate thesis, research


Detail Cantuman

Kembali

Asuhan kebidanan pada akseptor Lama KB Implan pada Ny N Umur 43 Tahun P3A0AH3 di Puskesmas Karangkobar Kabupaten Banjarnegara

XML
Pengarang
WARSIH - Personal Name
Pernyataan Tanggungjawab
Lampiran Berkas
LOADING LIST...
Bahasa
Indonesia
Penerbit
STIKES Harapan Bangsa
Tahun Terbit
2018
Tempat Terbit
Fakultas Ilmu Kesehatan SHB
Deskripsi Fisik

Abstract

Keluarga Berencana (KB) menurut Word Health Organisation (WHO) merupakan tindakan yang membantu individu atau pasangan suami istri untuk mendapatkan objektif-objektif tertentu, menghindari kelahiran yang tidak diinginkan, mendapatkan kelahiran yang diinginkan, mengatur interval diantara kehamilan, mengontrol waktu saat kelahiran dalam hubungan dengan umur suami istri, menentukan jumlah anak dalam keluarga (WHO, 2009).
Indonesia merupakan negara yang dilihat dari jumlah penduduknya ada pada posisi keempat di dunia, dengan laju pertumbuhan yang masih relatif tinggi. Esensi tugas program Keluarga Berencana (KB) dalam hal ini telah jelas yaitu menurunkan fertilitas agar dapat mengurangi beban pembangunan demi terwujudnya kebahagiaan dan kesejahteraan bagi rakyat dan bangsa Indonesia. Seperti yang disebutkan dalam UU No.10 Tahun 1992 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Sejahtera, definisi KB yakni upaya meningkatan kepedulian dan peran serta masyarakat melalui pendewasaan usia perkawinan, pengaturan kelahiran, pembinaan ketahanan keluarga, dan peningkatan kesejahteraan keluarga guna mewujudkan keluarga kecil, bahagia dan sejahtera (BKKBN, 2012).
Program KB tidak hanya bertujuan untuk mengendalikan laju pertumbuhan penduduk, melainkan juga untuk memenuhi permintaan masyarakat akan pelayanan KB dan kesehatan reproduksi untuk membentuk yang berkualitas, menurunkan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) serta penanggulangan masalah kesehatan reproduksi untuk membentuk keluarga kecil berkualitas (Kurniawati, 2013).
Macam-macam metode kontrasepsi tanpa alat meliputi Metode Amenorhea Laktasi (MAL), Coitus Interuptus (senggama terputus), Metode Kalender, Metode Suhu Basal, Metode Lendir Serviks. Metode kontrasepsi dengan alat meliputi Kondom, Spermisida, Diafragma, Cup Servik. Kontrasepsi dibedakan menjadi dua yaitu metode kontrasepsi jangka pendek (Non MKJP) meliputi Suntik, Pil, Kondom dan metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP) meliputi AKDR, Implan, MOW, MOP (Handayani, 2010).
Metode Kontrasepsi Jangka panjang (MKJP) dengan implan merupakan salah satu metode unggulan, dinilai efektif dari segi kegunaan dan biaya dengan tingkat keberhasilan mencapai 99% dibandingkan dengan Non MKJP. Alat Kontrasepsi Bawah Kulit (AKBK) atau yang disebut Implan (susuk) adalah alat kontrasepsi yang disusupkan dibawah kulit dengan lengan atas sebelah dalam, yang terbuat dari sejenis silastik yang berisi hormon. Implan sangat efektif (kegagalan 0,2-1 kehamilan per 100 perempuan). Implan mempunyai keuntungan yang tinggi yaitu sebagai perlindungan kehamilan jangak panjang, pengembalian kesuburan cepat, tidak mengganggu produksi ASI, dan tidak mengganggu hubungan seksual (Handayani, 2012).
Implan adalah alat kontasepsi yang dipakai dilengan atas bagian sebelah dalam. Berbentuk silastik (lentur). Berukuran hampir sebesar korek api. Mengandung levonorgetrel yang sangat efektif untuk wanita usia subur yang menginginkan dan atau belum menghendaki kehamilan, kesuburan akan segera kembali setelah implant dicabut, aman dipakai pada masa laktasi dapat digunakan dalam jangka panjang, perdarahan lebih terjadi sangat ringan, tidak dapat menaikan tekanan darah, dipasang oleh tenaga kesehatan yang berkompeten dan komprehensif, bila tidak dilakukan pemasangan implant oleh tenaga kesehatan efek samping bisa terjadi seperti infeksi pada luka insisi, terdapat pus atau nanah akibat luka tidak dirawat benar, sehingga bidan memberi asuhan sesuai dengan prosedur (Prawirohardjo, 2009).
Presentasi peserta KB Aktif terhadap Pasangan Usia Subur (PUS) di Indonesia pada tahun 2016 sebesar 48.536.690. Jumlah peserta KB aktif sebanyak 36.306.062, dengan penggunaan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) dan Non MKJP yaitu Suntik sebanyak (47,96%), Pil sebanyak (22,81%), Implan sebanyak (11,20%), IUD sebanyak (10,61%), MOW sebanyak (3,54%), Kondom sebanyak (3,23%), MOP sebanyak (0,64%), dari data tersebut diketahui bahwa penggunaan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) yang paling tinggi adalah Implan (Profil kesehatan, 2016).
Jumlah peserta KB Aktif di Jawa Tengah tahun 2016 jumlah Pasangan Usia Subur (PUS) 6.727.894 orang, peserta KB Aktif sebanyak 5.290.679 sedangkan dengan cakupan proporsi Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) dan Non MKJP yaitu Suntik sebanyak 2.94.931 akseptor (56,02%), Pil sebanyak 704.004 akseptor (13,31%), Implan sebanyak 667.103 akseptor (12,61%), IUD sebanyak 478.157 akseptor (9,04%), MOW sebanyak 294,931 akseptor (5,57%), Kondom sebanyak 135.403 aksseptor (2,56%), MOP sebanyak 47,399 akseptor (0,90%) dari data tersebut diketahui bahwa penggunaan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) yang paling tinggi adalah Implan (Profil kesehatan, 2016).
Pada Tahun 2016 jumlah peserta KB aktif di Kabupaten Banjarnegara sebanyak 211.732 peserta, jumlah peserta KB Aktif 167.120. sedangkan cakupan memilih Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) dan Non MKJP terdiri dari Suntik sebanyak 92.000 (55.1%) peserta, Pil sebanyak 18.083 (10,8%) peserta, Implan sebanyak 17.395 (10,4%) peserta, IUD sebanyak 16.638 (10,0%) peserta, kondom sebanyak 11.232 (6,7%) peserta, MOW sebanyak 10.016 (6.0%) peserta, MOP sebanyak 1.756 (1,1%) peserta, dari data tersebut diketahui bahwa penggunaan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) yang paling tinggi adalah Implan (Profil Kesehatan, 2016).
Berdasarkan pra survei yang dilakukan pada bulan Januari-Oktober tahun 2017 di Puskesmas Karangkobar. Jumlah akseptor KB pada tahun 2017 Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) yaitu Implan (8,99%), IUD (8,61%), MOW (4,34%), MOP (2,83%). Sedangkan yang tidak menggunakan Metode Kontrasepsi Jangka Pendek (Non MKJP) yaitu Suntik (46,64%), Pil (9,57%), Kondom (1,87%) berdasarkan data diatas presentasi tertinggi untuk Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) yaitu Implan. Dari hal tersebut dapat disimpulkan bahwa peserta KB aktif tahun 2016 mengalami peningkatan sebanyak 305 peserta dibandingkan dengan tahun 2015, sedangkan jumlah akseptor Implan tahun 2016 sejumlah 319 akseptor mengalami peningkatan dibandingkan dengan akseptor implan tahun 2015 sejumlah 281 akseptor mengalami kenaikan sebanyak 38 akseptor (Puskesmas Karangkobar, 2017).
Hasil wawancara terhadap salah satu bidan di Puskesmas Karangkobar diketahui bahwa keluhan yang pernah dikeluhkan oleh akseptor KB implan adalah nyeri, bengkak pada daerah luka, dan spotting namun kejadiannya sangat jarang. Asuhan kebidanan yang dapat dilakukan untuk keluhan nyeri, bengkak pada daerah luka adalah memberikan KIE tentang perawatan luka seperti hindarkan luka terkena air, luka tetap kering. Sedangkan asuhan kebidanan kepada ibu yang mengalami spotting adalah jika ringan atau tidak mengganggu tidak perlu diberikan obat, jika cukup mengganggu dapat diberikan Pil KB dosis rendah 3x1 tablet selama 7 hari (Irianto, 2014).
Bidan dalam menjalankan praktik berwenang untuk memberikan pelayanan diantaranya adalah pelayanan keluarga berencana dan salah satunya dari kewenangan bidan dalam pelayanan keluarga berencana adalah dengan memberikan pelayanan kesehatan yang meliputi pemberian alat kontrasepsi suntik, alat kontrasepsi dalam rahim dan memberikan pelayanan alat kontrasepsi bawah kulit. Bidan dalam memberikan asuhan kepada akseptor KB implan perlu dilanjutkan pada asuhan pasca pemasangan diantaranya adalah konseling pasca pemasangan implan serta anjuran untuk melakukan kunjungan ulang untuk memantau keadaan akseptor (Saifuddin, 2010).
Berdasarkan uraian diatas maka penulis tertarik untuk melakukan Asuhan kebidanan pada akseptor Lama KB Implan pada Ny N Umur 43 Tahun P3A0AH3 di Puskesmas Karangkobar Kabupaten Banjarnegara.


URL : https://repository.uhb.ac.id/index.php?p=show_detail&id=2162
APA Citation
. (2018). Asuhan kebidanan pada akseptor Lama KB Implan pada Ny N Umur 43 Tahun P3A0AH3 di Puskesmas Karangkobar Kabupaten Banjarnegara. (Digital collection of academic papers, undergraduate thesis & research). Retrieved from https://repository.shb.ac.id




© 2018. UPT Perpustakaan - Universitas Harapan Bangsa, Formerly STIKes Harapan Bangsa Purwokerto, www.uhb.ac.id.
This software and this template are released Under GNU GPL License Version 3 II SLiMS distro version ETD
Made by The Happy Team :-D
web
statistics

SHB YPDP


https://103.189.235.100/

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor