Derajat Kesehatan merupakan salah satu ukuran kesejahteraan disuatu negara. Data World Health Organization (WHO) menunjukkan bahwa angka kelahiran hidup (AKH) mencapai 40 juta kelahiran hidup setiap tahunnya dan pada tahun 2015 jumlah kelahiran hidup didunia yaitu sebesar 136 juta kelahiran. Kondisi bayi sehat adalah indikator penentu kesehatan nasional di suatu negara. Hal ini dapat ditandai dengan tingginya Angka Kematian Neonatal (AKN), Angka Kematian Bayi (AKB), dan Angka Kematian Balita (AKABA). Hingga kini AKB masih menjadi prioritas pada bidang pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak di dunia sehingga asuhan terhadap status kesehatan pada bayi penting untuk dilakukan (Kemenkes RI, 2016).
Indonesia merupakan negara dengan populasi penduduk keempat terbesar di dunia yang memiliki tingkat kelahiran relatif tinggi. Tingkat kelahiran (birth rate) atau kelahiran kasar di Indonesia berada pada angka 16,20% menempati urutan 113 dunia urutan pertama diduduki oleh Angola sebesar
44,20%, kedua oleh Nigeria sebesar 44,20% dan ketiga oleh Mali sebesar
43,90% (Central Intelligence Asia, 2017).
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2016 menyebutkan bahwa Angka kelahiran hidup (AKH) di Indonesia sejumlah 4.867.813 dengan
jumlah kelahiran terbanyak yaitu di Pulau Jawa. Provinsi di Pulau Jawa yang
1
memiliki AKH tertinggi yang pertama yaitu Provinsi Jawa Barat sejumlah
887.073 kelahiran hidup, kedua adalah Jawa Timur sejumlah 580.153 kelahiran hidup dan ketiga adalah Jawa Tengah sejumlah 542.475 kelahiran hidup (Kemenkes RI, 2017).
Data dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2016 AKH tertinggi pertama adalah Kabupaten Brebes sejumlah 33.086 kelahiran hidup, kedua adalah Kabupaten Cilacap sejumlah 28.680 kelahirah hidup, ketiga adalah Kabupaten Banyumas sejumlah 28.246 kelahiran hidup dan Kabupaten Banjarnegara menempati urutan kelima belas yaitu sejumlah 15.733 kelahiran hidup (Dinkes Jateng, 2017).
Data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Banjarnegara tahun 2016 AKH berdasarkan klasifikasi Puskesmas tertinggi yang pertama yaitu Puskesmas Punggelan 1 sejumlah 798 kelahiran hidup, kedua adalah Puskesmas Susukan
1 sejumlah 769 kelahiran hidup, ketiga adalah Puskesmas Kalibening sejumlah 739 kelahiran hidup dan Puskesmas Pagentan 2 menempati urutan terakhir yaitu sejumlah 179 kelahiran hidup (Dinkes Banjarnegara, 2017).
Hasil pra survey yang dilakukan pada bulan November 2017 Puskesmas Pagentan 2 merupakan salah satu Puskesmas di wilayah Kabupaten Banjarnegara dengan jumlah kelahiran hidup pada tahun 2017 yaitu 129 kelahiran hidup mengalami penurunan di bandingkan pada tahun 2016 sejumlah 179 kelahiran hidup. Pada tahun 2016 Angka Kematian Bayi (AKB) sejumlah 3 kematian yang paling banyak disebabkan karena BBLR serta asfiksia dan tahun 2017 Puskesmas Pagentan 2 tidak ada AKB. Berdasarkan data tersebut dapat kita tarik kesimpulan bahwa terjadi penurunan kelahiran hidup antara tahun 2016 dan 2017 sejumlah 50 kelahiran dan penurunan
Angka Kematian Bayi antara tahun 2016 dan 2017 sejumlah 3 kematian. Oleh karena itu Puskesmas Pagentan 2 selalu berupaya menekan AKB dengan memberikan asuhan yang komperhensif pada bayi.
Peningkatan derajat kesehatan dalam mengurangi AKB dilakukan dengan upaya pemantauan status nutrisi, penyakit infeksi, imunisasi dan tumbuh kembang. Pertumbuhan dan perkembangan merupakan proses yang berkesinambungan, bersifat kontinyu dan pertumbuhan merupakan bagian dari proses perkembangan (Wong, 2009).
Kesehatan bayi harus dipantau untuk memastikan kesehatan mereka selalu dalam kondisi optimal. Pelayanan kesehatan bayi termasuk salah satu dari beberapa indikator yang bisa menjadi ukuran keberhasilan upaya peningkatan kesehatan bayi. Pelayanan kesehatan pada bayi ditunjukan pada bayi usia 29 hari sampai 11 bulan dengan memberikan pelayanan kesehatan sesuai dengan standar oleh tenaga kesehatan yang memiiki kompetensi klinis kesehatan (dokter, bidan dan perawat) minimal 4 kali yaitu usia 29 hari – 2 bulan, usia 3 – 5 bulan, usia 6 – 8 bulan sesuai standar suatu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu (Kemenkes RI, 2016).
Data dari Puskesmas Pagentan 2 pada bulan Januari-Maret 2018 total bayi yang berusia 6 bulan sejumlah 8 bayi, usia 7 bulan sejumlah 13 bayi, usia 8 bulan sejumlah 10 bayi, dan usia 9 bulan sejumlah 13 bayi, dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa bayi berusia 7 dan 9 bulan lebih banyak dibandingkan bayi yang berusia 6 dan 8 bulan.
Peran bidan dalam memberikan asuhan pada bayi sehat tercantum dalam Peraturan Menteri Kesehatan RI nomer 28 tahun 2017 tentang izin penyelenggaraan praktik bidan, bab III tentang penyelenggaraan keprofesian
seperti terdapat pada pasal 18 huruf b yaitu bidan dalam memberikan pelayanan kesehatan anak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berwenang untuk melakukan asuhan pada bayi yaitu pemberian imunisasi rutin sesuai program pemerintah, pemantauan tumbuh kembang bayi, anak balita dan anak pra sekolah, pemberian konseling dan penyuluhan.
Asuhan yang dilakukan di Puskesmas Pagentan 2 pada bayi yaitu imunisasi terpadu yang wajib dilakukan setiap satu minggu sekali pada hari Rabu, sedangkan untuk pemeriksaan pertumbuhan sudah dilakukan secara rutin di posyandu dan pemeriksaan perkembangan sendiri belum dilakukan secara rutin dan belum menjadi asuhan terpadu.
Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis merasa tertarik untuk mengetahui dan memperoleh pengetahuan serta keterampilan dalam melaksanakan suhan pada bayi sehat melalui pendekatan manajemen dengan menyusun Karya Tulis Ilmiah berjudul ”Asuhan kebidanan pada By. A umur 9 bulan 2 hari dengan status gizi baik dan perkembangan normal di Puskesmas Pagentan 2”.
URL : https://repository.uhb.ac.id/index.php?p=show_detail&id=2164
APA Citation
. (2018). Asuhan kebidanan pada By. A umur 9 bulan 2 hari dengan status gizi baik dan perkembangan normal di Puskesmas Pagentan 2. (Digital collection of academic papers, undergraduate thesis & research). Retrieved from https://repository.shb.ac.id