Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu indikator untuk melihat derajat kesehatan perempuan.Sampai saat ini tingginya angka kematian ibu di Indonesia merupakan masalah yang menjadi prioritas di bidang kesehatan, disamping menunjukkan derajat kesehatan masyarakat, juga menggambarkan tingkat kesejahteraan masyarakat dan kualitas pelayanan kesehatan (Angrainy, 2017).
Menurut World Health Organization (WHO) 40% kematian ibu di negara berkembang berkaitan dengan anemia pada kehamilan disebabkan oleh defisiensi besi dan perdarahan akut, bahkan tidak jarang keduanya.Anemia defisiensi besi pada ibu hamil merupakan masalah kesehatan yang dialami oleh wanita seluruh dunia terutama di negara berkembang contohnya Indonesia (Rukiyah, 2011).
Anemia merupakan salah satu faktor penyebab tidak langsung kematian ibu hamil. Berdasarkan SDKI (Survey Demografi Kesehatan Indonesia) AKI (Angka Kematian Ibu) tahun 2015 sebesar 305/100.000 kelahiran hidup masih jauh dari target AKI Indonesia tahun 2016 yaitu 102/100.000 kelahiran hidup. Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia adalah tertinggi bila dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya (Depkes RI, 2016).
Angka kejadian anemia di Jawa Tengah pada tahun 2015 mencapai 56,2% lebih tinggi dari angka nasional yaitu 50,5% (Profil Dinas Kesehatan Jawa Tengah, 2015). Data Dinas Kesehatan Kabupaten Semarang 2015 menunjukkan jumlah ibu hamil di Kabupaten Semarang berjumlah 29.261 orang. Ibu hamil yang diukur kadar Hb kurang dari 11 gr% dengan persentase 20,79% (Profil Dinas Kesehatan Kabupaten Semarang, 2015).Anemia pada ibu hamil merupakan penyebab utama morbiditas pada janin dan bayi.Di kabupaten Banyumas, prevalensi anemia pada ibu hamil masih sangat tinggi, yaitu sekitar 65% (Laksana et al, 2012).
Anemia dalam kehamilan menurut WHO didefinisikan sebagai kadar hemoglobin yang kurang dari 11 gr/dl. Anemia menjadi masalah kesehatan utama pada negara berkembang dan berhubungan dengan meningkatnya angka kematian ibu dan bayi, persalinan prematur, bayi dengan berat badan lahir rendah dan efek merugikan lainnya. Penyebab paling besar anemia adalah anemia karena kekurangan zat besi. Faktor predisposisinya mencakup grandemultipara, status sosial ekonomi rendah, malaria, infeksi HIV dan jarak anak yang tidak teratur.Anemia kehamilan dapat terjadi karena perubahan normal yang terjadi selama kehamilan. Anemia pada ibu hamil dapat memperburuk atau diperburuk oleh kehamilan itu sendiri. Pengaruh anemia dalam kehamilan dapat berakibat fatal jika tidak segera di atasi diantaranya dapat menyebabkan keguguran, partus prematurus, inersia uteri, partus lama, atonia uteri dan menyebabkan perdarahan serta syok. Sedangkan pengaruh anemia terhadap hasil konsepsi diantaranya dapat menyebabkan keguguran, kematian janin dalam kandungan, kematian janin waktu lahir, kematian perinatal tinggi, prematuritas dan cacat bawaan. Beberapa pengaruh kasus anemia pada ibu hamil tersebut dapat muncul masalah risiko gangguan hubungan ibu janin, hal itu karena anemia merupakan penurunan kapasitas darah dalam membawa oksigen yang disebabkan oleh penurunan jumlah sel darah merah atau berkurangnya konsentrasi hemoglobin dalam sirkulasi darah. Dalam kehamilan, terjadi peningkatan plasma yang mengakibatkan meningkatnya volume darah ibu. Peningkatan plasma tersebut tidak mengalami keseimbangan dengan jumlah sel darah merah, sehingga mengakibatkan terjadinya penurunan kadar hemoglobin (Irianti et al., 2013).
Perawat dalam hal ini memiliki peran membantu pasien dengan penyakit anemia diantaranya: perawat sebagai tenaga promotif yaitu melakukan penyuluhan kesehatan terhadap pasien. Dengan meningkatkan kesehatan pasien agar tidak terjadi komplikasi atau akibat lanjut dari anemia. Perawat sebagai tenaga preventif yaitu mencegah agar pasien tersebut tidak mengalami komplikasi, yaitu dengan memberikan asuhan keperawatan pada pasien tersebut dengan tepat. Perawat sebagai tenaga kuratif yaitu memberikan tindakan pengobatan terhadap pasien anemia. Pengobatan ini dilakukan secara kolaboratif dengan dokter dan farmasi. Sedangkan gambaran untuk peran perawat dan tim medis di Puskesmas antara lain menimbang berat badan dan mengukur tinggi badan, mengukur tekanan darah, mengukur tinggi fundus uteri, memberikan tablet besi, memberikan penyuluhan mengenai supplement besi dan sumber-sumber besi dalam makanan sesuai indikasi, melakukan pemeriksaan laboratorium.
Hasil pra survey yang dilakukan oleh penulis di wilayah kerja Puskesmas Kedungbanteng Banyumas, berdasarkan rekam medis hasil pemeriksaan laboratorium di ruang KIA (Kesehatan Ibu dan Anak) diperoleh data dari bulan Agustus sampai bulan Oktober tahun 2017 sebanyak 74 ibu hamil didiagnosa anemia. Hal tersebut menunjukkan bahwa masih banyak kasus ibu hamil dengan anemia di Puskesmas Kedungbanteng Banyumas.
URL : https://repository.uhb.ac.id/index.php?p=show_detail&id=2169
APA Citation
. (2018). Asuhan Keperawatan Risiko Gangguan Hubungan Ibu Janin Pada Ny.N Dengan Anemia G1P0A0 Di Ruang KIA Puskesmas Kedung Banteng. (Digital collection of academic papers, undergraduate thesis & research). Retrieved from https://repository.shb.ac.id