Asuhan Keperawatan Nyeri Akut pada Tn. T pasien post operasi TURP dengan Benigna Prostat Hyperplasia di Ruang Edelweis RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto
Menurut Padila (2013), diseluruh dunia jumlah orang lanjut usia diperkirakan 500 juta dengan usia rata-rata 60 tahun keatas dan di perkirakan pada tahun 2025 akan mencapai 1,2 milyar. Berdasarkan sensus penduduk tahun 2010, jumlah lanjut usia di Indonesia mencapai 18,78 juta orang lebih. Bertambahnya populasi lanjut usia maka mendatangkan sejumlah konsekuensi antara lain yaitu masalah fisik, mental, sosial, serta kebutuhan pelayanan kesehatan dan keperawatan, terutama akibat penyakit keturunan, salah satu contohnya yaitu Benigna Prostat Hyperplasia (BPH). Penyebab terjadinya BPH sampai sekarang belum diketahui secara pasti, namun faktor usia dan hormonal menjadi faktor predisposisi terjadinya BPH. Beberapa faktor menyebutkan bahwa BPH sangat erat kaitannya dengan peningkatan Dihidrotestosteron (DHT), peningkatan esterogen-testosteron, interaksi antar sel stroma dan sel epitel prostat, berkurangnya kematian sel (Prabowo dan Pranata, 2014).
Menurut data (World Health Organization) (2013), memperkirakan terdapat sekitar 70 juta kasus degeneratif. Salah satunya BPH, dengan insidensi di negara maju sebanyak 19%, sedangkan di negara berkembang sebanyak 5,35% kasus. Usia yang rentan terhadap BPH
berada pada usia lebih dari 60 tahun dan dilakukan pembedahan setiap tahunnya. Tinggi kejadian BPH di Indonesia telah menempatkan sebagai penyebab angka kesakitan nomor 2 terbanyak setelah penyakit batu pada saluran kemih. Tahun 2013 di Indonesia terdapat 9,2 juta kasus BPH, diantaranya diderita oleh pria berusia di atas 60 tahun (Rakhmawati, 2016).
Benigna Prostat Hyperplasia (BPH) merupakan suatu penyakit pembesaran atau hipertrofi dari prostat. BPH merupakan pembesaran ukuran sel (kualitas) dan diikuti oleh penambahan jumlah sel (kuantitas). Pembesaran pada prostat seringkali menyebabkan gangguan dalam eliminasi urin, khususnya yang cenderung kearah depan atau menekan kandung kemih (vesika urinaria) (Prabowo & Pranata, 2014).
Zakariyah (2015), menyatakan bahwa pembesaran pada Benigna Prostat Hyperplasia terjadi secara bertahap mulai dari zona periuretral dan tradisional. BPH ini terjadi secara nodular dan sering diiringi oleh poliferasi fibromuskular untuk dilepas dari jaringan epitel. BPH pada kelenjar prostat dapat menyebabkan rasa tidak nyaman (nyeri), penatalaksanaan yang diberikan yaitu mengajarkan tehnik relaksasi nafas dalam, genggam jari dan distraksi, pemberian analgetik dan antibiotik. Pembedahan kelenjar prostat pada pasien BPH bertujuan untuk menghilangkan obstruksi aliran urin. Transurethral Resection Prostat (TURP) dan Prostatektomi menjadi salah satu pilihan tindakan pembedahan untuk mengatasi obstruksi saluran kemih (Smeltser , 2014).
Prosedur TURP banyak diminati merupakan tindakan invasif yang umum, masih dianggap aman dan tingkat morbiditas minimal, merupakan operasi tertutup tanpa insisi terbuka serta tidak mempunyai efek merugikan terhadap potensi kesembuhan. Operasi ini dilakukan pada prostat yang mengalami pembesaran antara 30-60 gram (Haryono, 2013). Operasi TURP yaitu pengangkatan jaringan prostat dengan cara memasukkan alat (retroskop) melalui uretra. Pada pasien selama menjalani operasi TURP tidak mengalami rasa sakit/nyeri dikarenakan masih ada efek anestesi, nyeri akan muncul ketika efek anastesinya hilang dikarenakan terputusnya kontinuitas jaringan akibat pengangkatan kelenjar pada prostat. Nyeri merupakan kondisi berupa perasaan tidak menyenangkan bersifat sangat subyektif karena perasaan nyeri berada pada setiap orang dalam skala atau tingkatanya, dan hanya orang tersebutlah yang dapat menjelaskan atau mengevaluasi rasa nyeri yang dialaminya (Zakiyah, 2015).
Prostatektomi adalah proses operasi atau pembedahan yang dilakukan untuk mengangkat kelenjar prostat. Adapun macam-macam pembedahan prostatektomi yaitu : prostatektomi suprapubis, prostatektomi perineal, prostatektomi retropubik.
Dari hasil data yang didapatkan di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto kasus post operasi TURP mengalami peningkatan setiap tahun. Pada tanggal 11-17 Desember 2017 selama satu minggu terdapat 6 kasus BPH. Pasien BPH di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo sebagian besar dilakukan tindakan Operasi TURP dan mayoritas pasienya mengeluh nyeri setelah dilakukan pembedahan. Penanganan nyeri pada BPH ada dua macam yaitu farmakologi dan nonfarmakologi. Di ruang Edelweis tindakan farmakologi dengan pemberian analgesik seperti ketorolac diindikasikan untuk penatalaksanaan jangka pendek terhadap nyeri akut derajat sedang hingga berat segera setelah operasi dan non farmakologi dengan mengajarkan teknik relaksasi nafas dalam, genggam jari dan distraksi.
Dengan banyaknya angka kejadian pada kasus BPH dan komplikasi yang ditimbulkan pada BPH seperti yang dipaparkan di atas, mendorong penulis untuk membuat karya tulis ilmiah dengan judul Asuhan Keperawatan Nyeri Akut pada Tn. T pasien post operasi TURP dengan Benigna Prostat Hyperplasia di Ruang Edelweis RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto.
URL : https://repository.uhb.ac.id/index.php?p=show_detail&id=2175
APA Citation
. (2018). Asuhan Keperawatan Nyeri Akut pada Tn. T pasien post operasi TURP dengan Benigna Prostat Hyperplasia di Ruang Edelweis RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto. (Digital collection of academic papers, undergraduate thesis & research). Retrieved from https://repository.shb.ac.id