homescontents
homescontents

Repository Universitas Harapan Bangsa.
Digital collection of academic papers, undergraduate thesis, research

Repository Universitas Harapan Bangsa.
Digital collection of academic papers, undergraduate thesis, research


Detail Cantuman

Kembali

Asuhan Keperawatan Retensi Urine pada Tn. N Dengan Benigna prostatic hyperplasia (BPH) Diruang Rawat Inap Edelweis Rumah Sakit Umum Daerah Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto

XML
Pengarang
Dimas Eka Prianggoro - Personal Name
Pernyataan Tanggungjawab
Lampiran Berkas
LOADING LIST...
Bahasa
Indonesia
Penerbit
STIKES Harapan Bangsa
Tahun Terbit
2018
Tempat Terbit
Fakultas Ilmu Kesehatan SHB
Deskripsi Fisik

Abstract

Benigna Prostat Hiperplasia (BPH) merupakan penyakit yang umum yang menyerang sistem reproduksi pada pria dewasa karena penyakit ini dipengaruhi oleh faktor umur seseorang. Menurut Lewis (2005) Benigna Prostat Hiperplasi (BPH) terjadi sekitar 50% pada pria umur 50 tahun ke atas dan sekitar 90% pria pada usia 80 tahun ke atas kurang lebih 25% membutuhkan terapi ketika mencapai umur 80 ke atas.
Benigna Prostate Hyperplasia (BPH) atau pembesaran prostat jinak merupakan suatu keadaan terjadinya proliferasi sel stroma prostat yang akan menyebabkan pembesaran dari kelenjar prostat (Kapoor, 2012). Pada pembesaran prostat jinak terjadi hiperplasia kelenjar perineutral yang akan mendesak jaringan prostat yang asli ke perifer (Sjamsuhidajat, 2007). Mediator utama dalam pertumbuhan kelenjar prostat yaitu dehidrotestosteron (DHT) yang merupakan metabolit testosteron yang dibentuk di dalam sel prostat oleh breakdown prostat (Kapoor, 2012).
Didunia, dapat dilihat kadar insidensi BPH, pada usia 40-an, kemungkinan seseorang itu menderita penyakit ini adalah sebesar 40%, dan setelah meningkatnya usia 60 hingga 70 tahun, persentasenya meningkat menjadi 50% dan diatas 70 tahun, persen untuk mendapatkannya bisa sehingga 90%. Hasil penelitian Di Amerika 20% penderita BPH terjadi pada usia 41-50 tahun, 50% terjadi pada usia 51-60 tahun dan 90% terjadi pada usia 80 tahun (Johan, 2015).
Pembesaran pada BPH terjadi secara bertahap mulai dari zona periuretral dan transisional. Hiperplasia ini terjadi secara nodular dan sering diiringi oleh poliferasi fibromuskular untuk di lepas dari jaringan epitel. Oleh karena itu, hiperplasia zona tradisional ditandai oleh banyaknya jaringan kelenjar yang tumbuh pada pucuk dan cabang dari pada duktus. Sebenarnya poliferasi, transisional dan zona sentral pada prostat berasal dari turunan duktus walffii dan proliferasi zona perifer berasal dari sinus urogenenital. Dengan pembesaran yang sudah melebihi normal, maka akan terjadi desakan pada traktus urinarius. Pada tahap awal, obstruksi traktus urinarius jarang menimbulkan keluhan, karena dengan dorongan mengejan dan kontraksi yang kuat dari otot detrusor mampu mengeluarkan urine secara spontan. Namun, obstruksi yang sudah kronis membuat dekompensasi dari otot detrusor untuk berkontraksi yang akhirnya menimbulkan obstruksi saluran kemih (Prabowo & Pranata, 2014).
Ketika prostat membesar, maka akan meluas ke atas (kandung kemih) sehingga pada bagian dalam akan mempersempit saluran uretra prostatica dan menyumbat aliran urine (Muttaqin, 2012). Pada vesika urinnaria jika terdapat pembesaran pada medial lobus maka akan menyebabkan post prostatika yaitu sumber terbentuknya residual urine (urine yang tersisa) dan pada post prostatika pouchini juga selalu didapati adanya batu-batu kandung kemih. Pada ureter dan ginjal bila uretra vesika valve rusak maka akan menyebabkan otot-otot calyyes, pelvis, ureter sendiri mengalami hipertropi dan akan mengakibatkan hidronefrosis dan akibat lanjut uremia (Haryono,2013).
Pasien BPH dapat mengalami gangguan retensi urine yang akan menimbulkan gangguan berkemih, dan infeksi (Haryono,2013), sehingga dapat menurunkan aktifitas dan produktivitas pasien. Pasien yang mengalami hambatan dalam berkemih terkadang memerlukan tindakan untuk mengatasinya dan mengharuskan mendapatkan perawatan secara intensif (Kusnadi & Atoilah,2013). Retensi urine adalah kesulitan miksi (berkemih) karena kegagalan mengeluarkan urine dari vesika urinaria. Retensi urine adalah disfungsi pengosongan kandung kemih termasuk untuk memulai buang air kecil, pancaran lemah, pelan atau aliran terputus-putus, perasaan tidak tuntas berkemih dan perlu usaha keras atau dengan penekanan pada suprapubik untuk mengosongkannya (Purnomo, 2011).
Penderita yang mengalami BPH biasanya terbangun dimalam hari (Nocturia), dorongan yang mendesak ingin miksi (urgency), nyeri pada saat miksi (disuria), pancaran melemah, miksi tidak puas, harus mengedan, dan retensi urin (Wijaya & Putri, 2013). Keadaan ini akan menimbulkan rasa nyeri dan selanjutnya menimbulkan infeksi pada kandung kemih. Infeksi pada kandung kemih akan menyebabkan air kencing tidak bisa keluar dan harus menggunakan kateter (Amalia, 2011). Komplikasi yang mungkin terjadi pada pasien BPH yang dibiarkan tanpa pengobatan akan berakibat yang pertama, yaitu pembentukan batu vesika akibat selalu terdapat sisa urin setelah buang air kecil, sehingga terjadi pengendapan batu. Kedua, akan mengalami kerusakan ginjal akibat terjadinya infeksi pada waktu miksi (Wijaya & Putri, 2013).
Pasien BPH perlu mendapat asuhan keperawatan baik pre operasi, tindakan pembedahan prostatektomi serta proses penyembuhan post operasi. Asuhan keperawatan pada pasien BPH bertujuan untuk meminimalkan komplikasi yang terjadi pada pasien dan mendukung penyembuhan luka setelah proses pembedahan. Menurut pengamatan peneliti selama praktek di ruang Rawat Inap Edelweis Rumah Sakit Umum Prof. Dr. Margono Purwokerto, dari hasil Rekam Medik Rumah Sakit Umum Prof. Dr. Margono Purwokerto terdapat 30 % yang menderita BPH, dengan rata-rata penderita berusia 50 tahun keatas dan berjenis kelamin laki-laki, dari 10 % penderita harus dilakukan operasi, dan 20 % penderita harus dilakukan tindakan pre operasi. Berdasarkan masalah diatas, maka peneliti tertarik untuk melakukan tindakan Asuhan Keperawatan Retensi Urine pada Tn. N Dengan Benigna prostatic hyperplasia (BPH) Diruang Rawat Inap Edelweis Rumah Sakit Umum Daerah Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto


URL : https://repository.uhb.ac.id/index.php?p=show_detail&id=2184
APA Citation
. (2018). Asuhan Keperawatan Retensi Urine pada Tn. N Dengan Benigna prostatic hyperplasia (BPH) Diruang Rawat Inap Edelweis Rumah Sakit Umum Daerah Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto. (Digital collection of academic papers, undergraduate thesis & research). Retrieved from https://repository.shb.ac.id




© 2018. UPT Perpustakaan - Universitas Harapan Bangsa, Formerly STIKes Harapan Bangsa Purwokerto, www.uhb.ac.id.
This software and this template are released Under GNU GPL License Version 3 II SLiMS distro version ETD
Made by The Happy Team :-D
web
statistics

SHB YPDP


https://103.189.235.100/

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor