Asuhan Keperawatan Gangguan Pernafasan dengan Diagnosa Ketidakefektifan Bersihan Jalan Nafas Pada Ny.X dengan Bronkhitis Akut di Ruang Kenanga RSUD Goeteng Taroenadibrata Purbalingga
Penyakit infeksi umum terjadi pada manusia, keadaan infeksi ialah cedera selular lokal yang disebabkan oleh keadaan invasi dan multiplikasi dari mikroorganisme. Cuaca ekstrim di negara akhir-akhir ini sangat berpengaruh terhadap daya tahan tubuh. Penyakit yang menyerang pada masyarakat saat musim hujan salah satunya ialah infeksi saluran pernafasan. Infeksi saluran pernafasan yang paling sering adalah bronkitis akut. Kebanyakan pasien dengan penyakit bronkitis akut ditemukan dengan sejumlah keluhan yang terbatas. Batuk, mengi, sputum dan sesak napas merupakan keluhan yang ditemukan. Bronkitis bisa bersifat akut atau kronis, dan dapat terjadi di segala usia (Ikawati, 2011).
World Health Organization (WHO) memperkirakan ada total 10 miliar infeksi baru diseluruh dunia setiap tahun. Penyakit menular juga merupakan salah satu penyebab paling umum kematian manusia. Jumlah korban di seluruh dunia akibat infeksi adalah sekitar 13 juta orang pertahun. Bronkhitis merupakan penyakit tidak menular yang berawal dari infeksi bronkus, namun bronkhitis bisa menjadi kronis (Cowan, 2012).
Bronkhitis adalah radang pada selaput lendir bronkhus, yaitu saluran pernafasan yang membawa saluran udara dari trakea ke paru. Brpnkhitis berbahaya bagi kesehatan di seluruh dunia. Bronkhitis dibagi menjadi dua berdasarkan onset, yaitu bronkhitis akut dan kronis (Enright, 2005). Bronkhitis merupakan penyakit infeksi saluran pernafasan bawah yang ditandai dengan adanya peradanagan pada daerah trakeobronkhial. Bronkhitis akut merupakan salah satu penyakit umum pada masyarakat (Ringel, 2012).
Bronkhitis akut ini terjadi pada sekitar 5% orang dewasa, dan tingkat kejadiannya meningkat pada musim dingin dan musim gugur dibandingkan dengan musim panas dan musim semi. Di amerika bronkhitis akut merupakan penyakit paling sering ke sembilan pada pasien rawat jalan. Virus dipandang sebagai kasus bronkhitis akut, 37% disebabkan oleh virus, 21% diantaranya adalah rhinovirus. Sedangkan peran dari bakteri sebagai penyebab bronkhitis akut masih belum jelas, karena biopsi bronkhus tidak menunjukan invasi bakteri. Beberapa data menunjukan bordetella pertussis sebagai penyebab sebanyak 13-23% dari kasus batuk yang bertahan 6 hari atau lebih, dan hanya 1% sebagai penyebab bronkhitis akut. Dalam sebuah studi, 34% pasien bronkhitis akut akan terdiagnosis bronkhitis kronik atau asma setelah follow up 3 tahun (Wenzel dan Fowler, 2006).
Ditinjau dari prevalensinya, di Indonesia dari 10 penyakit terbanyak pada rawat jalan, penyakit infeksi saluran pernafasan menempati urutan pertama pada tahun 2008, dan berdasarkan hasil survey kesehatan nasional diketahui bahwa infeksi pernafasan menjadi kematian tertinggi (22,8%) di Indonesia. ISPA semakin bertambah tiap tahun, pada tahun 2011 tercatat penderita mencapai 18.790.481 orang dengan 756.777 orang lainnya menderita pneumonia, (Depkes RI, 2009).
Sedangkan berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah kejadian infeksi saluran pernafasan yang sering terjadi adalah bronkhitis, cakupan penemuan dan penanganan bronkhitis di provinsi jawa tengah tahun 2012 sebesar 0,06% (Dinkes Provinsi Jateng, 2012). Dari jumlah 100.000 penduduk yang menderita ISPA sekitar 74,4 %, tertinggi terjadi di wilayah Kabupaten Pekalongan, sedangkan yang terendah di Kota Magelang sebesar 20,6 % terdiagnosa ISPA, (Dinkes Provinsi Jateng, 2014).
Lima Rumah Sakit provinsi Indonesia (Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Lampung, Sumatera Selatan) pada tahun 2008, menunjukan bahwa penyakit bronkhitis akut dan kronis menempati urutan pertama angka kesakitan (35%), di ikuti asma bronkial (33%), kanker paru-paru (30%), dan lainnya (2%). Sedangkan menurut Pratiwi (2015), bahwa angka kematian bronkhitis akut, menempati urutan ke 6-10 penyebab kematian utama di Indonesia hasil survei penyakit ini tidak menular (Depkes RI, 2008).
Pengobatan klinis untuk menangani penyakit infeksi yaitu dengan penggunaan antibiotik. Banyaknya jenis pembagian, klasifikasi, pola kepekaan kuman, dan penemuan antibiotika baru seringkali menyulitkan klinisi dalam menentukan pilihan antibiotika yang tepat ketika menangani suatu kasus penyakit infeksi. Efek samping penggunaan antibiotik dapat berupa reaksi alergi, reaksi idiosinkrasi, reaksi toksik, serta perubahan biologik dan metabolik pada hospes (Setiabudy, 2007).
Pada pasien Bronkhitis memiliki berbagai macam keluhan, namun sebagian besar keluhan yaitu batuk kering atau berdahak yang disebabkan produksi sputum yang berlebihan, sesak nafas saat bernafas, serta nyeri pada dada karena penyebaran bakteri ke organ lain (Ardiansyah, 2012).
Batuk, sesak nafas dan jumlah sputum yang berlebihan memunculkan diagnosa keperawatan ketidakefektifan bersihan jalan nafas. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas adalah ketidakmampuan seseorang dalam mengeluarkan sekret maupun obstruksi dari jalan nafas untuk mempertahankan bersihan jalan nafas. Batasan karakteristik dari ketidakefektifan bersihan jalan nafas adalah batuk yang tidak efektif, dispnea, ortopnea, sputum yang berlebihan, gelisah, kesulitan verbalisasi, mata terbuka lebar, penurunan bunyi nafas, perubahan frekuensi nafas dan pola nafas, sianosis, jumlah suara nafas tambahan, tidak batuk (Herdman & Kamitsuru, 2015).
Pada pasien bronkhitis akut mengalami batuk-batuk kering, nafas agak sesak lama-kelamaan batuk disertai adanya peningkatan suhu tubuh. Batuk, sesak nafas dan kenaikan suhu tubuh memunculkan diagnosa keperawatan Ketidakefektifan Bersihan Jalan Nafas (Rahajoe, 2012).
Bronkhitis penyakit infeksi saluran pernapasan bawah yang ditandai dengan kondisi peradangan pada daerah trakheobronkhial. Peradangan tidak meluas sampai alveoli. Bronkhitis bisa bersifat akut dan kronis, dan dapat terjadi pada semua usia. Bronkhitis akut disebabkan 95% infeksi virus dan bronkhitis kronis sebagian besar disebabkan oleh bakteri. Klebsiella pneumoniae merupakan salah satu bakteri yang menyebabkan bronkhitis kronik dikemukakan oleh (Ikawati, 2011).
Bersihan jalan nafas tidak efektif adalah ketidakmampuan saluran pernafasan dalam membersihkan sekret atau obstruksi yang bertujuan untuk mempertahankan bersihan jalan nafas (Herdman & Kamitsuru, 2015).
Berdasarkan hasil penelitian dari Susilowati dan Kristiani (2011) tindakan batuk efektif memiliki pengaruh dalam pengeluaran sekret. Ini dibuktikan dengan hasil penelitian yang menyatakan terjadi peningkatan jumlah sekret yang dikeluarkan tubuh. Terdapat dua faktor dalam batuk efektif yang mendukung pengeluaran nafas yaitu nafas dalam dan batuk yang terkontrol. Nafas dalam dilakukan untuk membantu dalam pengeluaran sekret dengan usaha yang sedikit. Batuk yang terkontrol merupakan batuk yang dilakukan secara benar dengan waktu yang tepat (Kozier, Erb, Berman & Snyder, 2009).
Dari hasil data pasien bronkhitis yang didapat dari RSUD Goeteng Taroenadibrata Purbalingga dari Bulan Januari-Oktober 2017 terdapat 30 pasien bronkhitis dan pasien yang terkena bronkhitis usia terendah 15 tahun. Berdasarkan hasil yang sudah dilakukan di RSUD Goeteng Taroena Dibrata tentang penyakit bronkhitis, maka dalam hal ini penulis mengambil kasus kelolaan selama 3 hari dengan Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem Pernapasan dengan Diagnosa Ketidakefektifan Bersihan Jalan Nafas khususnya Penyakit Bronkhitis Akut yang di ambil di Ruang Perawatan Penyakit Dalam Kenanga, Rumah Sakit Umum Daerah Goeteng Taroena Dibrata Purbalingga pada bulan Oktober 2017 yang bertujuan untuk mendapatkan pengetahuan dan pengalaman serta dapat menetapkan standar asuhan keperawatan .
Berdasarkan uraian latar belakang di atas mendorong penulis untuk melakukan kasus kelolaan dengan judul Asuhan Keperawatan Gangguan Pernafasan dengan Diagnosa Ketidakefektifan Bersihan Jalan Nafas Pada Ny.X dengan Bronkhitis Akut di Ruang Kenanga RSUD Goeteng Taroenadibrata Purbalingga.
URL : https://repository.uhb.ac.id/index.php?p=show_detail&id=2185
APA Citation
. (2018). Asuhan Keperawatan Gangguan Pernafasan dengan Diagnosa Ketidakefektifan Bersihan Jalan Nafas Pada Ny.X dengan Bronkhitis Akut di Ruang Kenanga RSUD Goeteng Taroenadibrata Purbalingga. (Digital collection of academic papers, undergraduate thesis & research). Retrieved from https://repository.shb.ac.id