asuhan keperawatan secara komprehensif pada pasien yang menderita penyakit Tuberculosis Paru ataulebih dikenal dengan TBC di Rumah Sakit Umum Daerah Purbalingga
Tuberculosis (TB) merupakan suatu penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium Tuberculosis (Black & Hawks, 2014). Bakteri ini berbentuk batang aerobik tahan asam yang tumbuh dengan lambat dan sensitif terhadap panas dan sinar ultraviolet (Wijaya & Putri, 2013). Sebagian kuman TB sering menyerang parenkim paru dan menyebabkan TB paru, penyakit ini dapat juga menyebar ke bagian tubuh lain seperti meninges, ginjal, tulang, dan nodus limfe (Somantri, 2009).
Tuberculosis menjadi penyakit yang sangat diperhitungkan dalam meningkatkan morbiditas penduduk, terutama di negara berkembang. Penderita TB semakin meningkat setiap tahunnya, diperkirakan sepertiga populasi dunia terinfeksi Mycobakterium Tuberkulosis. Dari seluruh kasus, sebayak 75% dialami oleh usia produktif dan 11% nya dialami oleh anak-anak di bawah 15 tahun (Somantri, 2009).
Usia produktif merupakan usia dimana seseorang berada pada tahap untuk bekerja / menghasilkan sesuatu baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Penderita TB paru 75% ditemukan pada usia yang paling produktif secara ekonomi (15-49 tahun), pada usia tersebut apabila seseorang menderita TB paru, maka dapat mengakibatkan individu tidak produktif lagi bahkan menjadi beban bagi keluarganya, selain merugikan secara ekonomis TB juga mengakibatkan dampak buruk lainnya yaitu stigma sosial bahkan dikucilkan dimasyarakat (Nurjana, 2015).
Penyakit Tuberculosis dapat menyerang balita hingga usia lanjut. Tuberkulosis paru merupakan salah satu penyakit infeksi yang menjadi masalah utama kesehatan masyarakat di dunia (Jumaelah, 2011). Menurut jenis kelamin jumlah kasus pada laki-laki lebih tinggi daripada perempuan yaitu 1,4 kali dibandingkan pada perempuan. Pada masing-masing provinsi di seluruh Indonesia kasus lebih bayak laki-laki dari pada perempuan (Kemenkes, 2016). Tuberkulosis paru lebih banyak terjadi pada laki-laki dibandingkan dengan wanita karena laki-laki sebagian besar mempunyai kebiasaan merokok sehingga memudahkan terjangkitnya TB paru. Pada pasien anak yang tidak menimbulkan gejala. Tuberkulosis dapat terdeteksi kalau diketahui adanya kontak dengan pasien TB dewasa. Kira-kira 30-50% anak yang kontak dengan penderita TB paru dewasa memberikan hasil uji tuberkuli positif. Pada anak usia 3 sampai 5 bulan yang tinggal serumah dengan pederita TB paru dewasa dengan BTA positif, dilaporkan 30% terinfeksi (Suryo, 2010).
Tuberculosis merupakan penyebab kesembilan kematian diseluruh dunia dan penyebab utama dari satu agen infeksius di atas dari HIV/AIDS. Diperkirakan 1,3 juta orang meninggal akibat penyakit ini, (turun dari tahun 2000 yaitu sebanyak 1.7 juta) dan sebanyak 374.000 diantaranya dengan positif HIV/AIDS. Diperkirakan 10,4 juta penduduk di dunia telah terinfeksi kuman tuberculosis, 90% adalah orang dewasa, 65% adalah laki-laki 10% adalah orang yang tinggal dengan HIV, (75% di Afrika) dan 56% di negara seperti India, Indonesia, China, Filiphina dan Pakistan. (WHO, 2016).
Hasil penelitian terakhir dari WHO global Tuberculosis paru (2016) Indonesia menempati posisi kedua dengan beban TB tertinggi di dunia, survei memperkirakan prevalensi TB sebesar 136/100.000 penduduk meningkat dibandingkan tahun 2015 sebesar 130/100.000 penduduk, pada tahun 2016 ditemukan jumlah kasus tuberculosis sebanyak 351.893 kasus, jumlah kasus tertinggi yang dilaporkan terdapat di provinsi dengan jumlah penduduk yang besar yaitu Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah. Kasus TB ditiga provinsi tersebut sebesar 44% dari jumlah seluruh kasus baru di Indonesia (Kementrian kesehatan, 2016).
Data Kementrian kesehatan (2016) menunjukan proporsi kasus Tuberculosis di Jawa Tengah tahun 2016 sebesar 105/100.000 penduduk. Prevalensi tuberculosis tertinggi yaitu DKI Jakarta 269/100.000 Papua 260/100.000, Maluku 223/100.000, dan Sulawesi utara 219/100.000 penduduk. Sedangkan prevalensi TB terendah yaitu provinsi Bali 73/100.000, Yogyakarta 83/100.000, Riau 95/100.000 penduduk, bila dibandingkan semua kasus TB tahun 2015 terdapat 24 provinsi (71%) yang mengalami kenaikan dan 10 provinsi (29%) yang mengalami penurunan.
Dari hasil studi pendahuluan yang dilakukan penelitian pada bulan November 2017 di Rumah Sakit Umum Daerah Purbalingga, didapatkan penderita Tuberculosis Paru selama 5 tahun terakhir sejumlah 464, dengan rincian, pada anak usia di atas 1 tahun (yang sudah bisa dahak) 6 penderita, semua TB yang BTA positif 23 penderita dan BTA negatif rontgen positif 435 penderita(Data angka kesakitan RSUD Purbalingga 2017).
Sumber penularan salah satunya adalah penderita TB BTA positif, pada waktu batuk atau bersin, penderita menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk droplet (percikan dahak), droplet yang mengandung kuman dapat bertahan di udara pada suhu kamar selama beberapa jam, orang dapat terinfeksi kalau droplet tersebut terhirup ke dalam saluran pernafasan, selama kuman TB masuk ke dalam tubuh manusia melalui pernafasan, kuman TB tersebut dapat menyebar dari paru-paru ke bagian tubuh lainnya (Suryo, 2010).
Tuberculosis sering dijuluki the great imitator yaitu suatu penyakit yang mempunyai banyak kemiripan dengan penyakit lain yang juga memberikan gejala umum seperti lemah dan demam, pada sejumlah penderita gejala yang timbul tidak jelas sehingga diabaikan bahkan kadang-kadang asimtomatik, gambaran klinik TB paru dapat dibagi menjadi 2 golongan, gejala respiratorik dan gejala sistemik, gejala respiratorik meliputi, batuk, batuk darah, sesak nafas, nyeri dada dan gejala sistemik meliputi demam, keringat malam, anoreksia, penurunan berat badan serta malaise (Wijaya & Putri, 2013). Penatalaksanan yang diberikan bisa berupa metode preventiv dan kuratif meliputi cara-cara seperti penyuluhan, pencegahan, fisioterapi, rehabilitasi, konsultasi secara teratur serta pemberian obat-obatan, seperti, OAT (obat anti-Tubeculosis), bronkodilator, ekspektoran, OBH, vitamin (Somantri, 2009).
Tuberculosis paru masih menjadi masalah kesehatan global utama, pada tahun 2016, di perkirakan 1.3 juta meninggal karena penyakit ini (WHO, 2016) komplikasi dari penyakit ini beragam, terdiri dari batuk darah, hematogen, tuberkulosis laring, pneumotoraks, abses paru (Somantri, 2008). Asuhan keperawatan pada tuberculosis paru ditangani dengan penatalaksanaan keperawatan seperti, meningkatkan bersihan jalan nafas, dukung kepatuhan terhadap regimen terapi, meningkatkan aktivitas dan nutrisi yang adekuat serta mencegah penyebaran infeksi TB, selain itu, terapi farmakologis juga berpengaruh seperti obat-obatan agens antituberculosis selama 6-12 bulan (Smeltzer, 2014). Selain terapi farmakologis juga bisa diimbangi dengan terapi nonfarmakologis seperti posisi duduk yang benar (fowler/semi fowler), batuk efektif, fisioterapi dada dan lain-lain (Muttaqin, 2008).
Perawat di Rumah Sakit Umum Daerah Purbalingga umumya melakukan perawatan dengan teknik farmakologis, sedangkan untuk teknik nonfarmakologis jarang dilakukan seperti batuk efektif, fisioterapi dada, perawat hanya menerapkan seperti duduk semifowler dan nafas dalam saja, padahal teknik nonfarmakologis mempunyai manfaat yang sama baiknya dengan teknik farmakologis, dan akan lebih tercapai evaluasinya jika kedua teknik ini di implementasikan bersamaan, dengan penanganan serta perawatan yang benar memungkinkan para pasien akan lebih nyaman dan bisa sembuh dengan baik.
Berdasarkan latar belakang yang telah penulis uraikan tersebut, maka penulis tertarik untuk memberikan asuhan keperawatan secara komprehensif pada pasien yang menderita penyakit Tuberculosis Paru ataulebih dikenal dengan TBC di Rumah Sakit Umum Daerah Purbalingga.
URL : https://repository.uhb.ac.id/index.php?p=show_detail&id=2188
APA Citation
. (2018). asuhan keperawatan secara komprehensif pada pasien yang menderita penyakit Tuberculosis Paru ataulebih dikenal dengan TBC di Rumah Sakit Umum Daerah Purbalingga. (Digital collection of academic papers, undergraduate thesis & research). Retrieved from https://repository.shb.ac.id