Hernia inguinalis merupakan permasalahan yang biasa ditemukan dalam kasus bedah. Di Indonesia hernia menempati urutan ke 8 dengan jumlah 291.145 kasus. Peningkatan angka kejadian penyakit hernia inguinalis di Indonesia bisa disebabkan karena ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin berkembang dengan pesat, sejalan dengan hal tersebut, maka permasalahan manusiapun semakin kompleks, salah satunya yaitu kebutuhan ekonomi yang semakin mendesak. Hal tersebut menuntut manusia untuk berusaha memenuhi kebutuhannya dengan usaha yang ekstra, tentunya itu mempengaruhi pola hidup dan kesehatannya yang dapat menyebabkan kerja tubuh yang berat yang dapat menimbulkan kelelahan dan kelemahan dari berbagai organ tubuh (Sugeng & Weni, 2010).
Hernia terdapat 6 kali lebih banyak pada pria dibanding wanita. Pada pria, 97% dari hernia terjadi di daerah inguinalis, 2% sebagai hernia femoralis dan 1% sebagai hernia umbilicalis. Pada wanita variasinya berbeda, yaitu 50% terjadi pada daerah inguinalis, 34% pada canalis femoralis dan 16% pada umbilicus (Harjadi, 2008).
Tindakan yang paling memungkinkan untuk terapi hernia inguinalis adalah tindakan pembedahan. Setiap tahun diperkirakan terdapat 20 juta kasus prosedur bedah mengenai hernia inguinalis. Insiden dan prevalensi di seluruh dunia tidak diketahui pasti. Tingkat prosedur operasi dalam berbagai negara memiliki tingkat yang bervariasi, berkisar antara 100 hingga 300 prosedur per 100.000 orang dalam satu tahun (Burney, 2012). Berdasarkan data yang diperoleh dari ruang rekam medik RSUD Hj. Anna Lasmanah sealama tahun 2016 tercatat 490 pasien yang datang dengan hernia dan 178 diantaranya melakukan operasi herniography. Sedangkan pada tahun 2017 tercatat 467 pasien yang datang dan melakukan operasi herniography.
Hernia inguinalis merupakan hernia yang paling umum terjadi dan muncul sebagai tonjolan di selangkangan atau skrotum. Hernia inguinalis terjadi ketika dinding abdomen berkembang sehingga usus menerobos kebawah melalui celah (Huda dan Kusuma, 2015). Hernia inguinalis terjadi akibat kelemahan otot-otot dinding abdomen atau tidak sempurnanya penutupan processus vaginalis. Hernia dapat terjadi setelah terjadi peningkatan tekanan intra-abdominal yang tiba-tiba dan kuat seperti waktu mengangkat barang yang sangat berat, mendorong, batuk atau mengejan dengan kuat pada waktu miksi atau defekasi (Harjadi, 2008).
Tanda gejala yang sering mucul pada penderita hernia inguinalis ialah tanpa keluhan (asimtomatis), daerah hernia agak menonjol, bertambah besar terutama saat berdiri, nyeri mendadak pada tempat hernia. Tindakan yang paling memungkinkan untuk mengatasi penyakit hernia biasanya dilakukan pembedahan yaitu dapat dilakukan herniotomi dan herniografi (menjahit kantong hernia), biasanya setelah dilakukan tindakan pembedahan pasien akan mengalami rasa sakit dan ketidaknyamanan setelah operasi, dan mungkin akan membutuhkan obat penghilang rasa sakit dalam beberapa hari paska operasi, karena setelah pembedahan dilakukan, umumnya terjadi pembengkakan di atas sayatan operasi, sayatan terasa hangat dan berwarna merah. (Dermawan dan Rahayuningsih, 2010).
Berdasarkan data diatas maka penulis tertarik untuk melakukan asuhan keperawatan secara komprehensif pada salah satu pasien yang menderita penyakit tersebut, dalam karya tulis ilmiah dengan judul “Asuhan Keperawatan Nyeri Akut pada Tn.S dengan Hernia Inguinalis di ruang kenanga RSUD Hj. Anna Lasmanah Banjarnegara.
URL : https://repository.uhb.ac.id/index.php?p=show_detail&id=2190
APA Citation
. (2018). Asuhan Keperawatan Nyeri Akut pada Tn.S dengan Hernia Inguinalis di ruang kenanga RSUD Hj. Anna Lasmanah Banjarnegara. (Digital collection of academic papers, undergraduate thesis & research). Retrieved from https://repository.shb.ac.id