Diabetes Melitus merupakan penyakit metabolik atau yang lebih dikenal penyakit gula, penyakit ini mematikan manusia secara mendadak atau “silent killer” yang dikarakteristikkan oleh tingginya kadar glukosa dalam darah (hiperglikemia) karena defek sekresi insulin, defek kerja insulin atau kombinasi keduanya (Smeltzer & Bare, 2013). Diabetes juga dikenal sebagai “Mother of Disease” Merupakan induk dari penyakit lain seperti hipertensi, penyakit jantung, stroke, gagal ginjal, dan kebutaan. Gejala Diabetes Mellitus yang bervariasi dapat timbul secara perlahan-lahan sehingga penderita tidak menyadari akan adanya perubahan seperti minum yang lebih banyak, buang air kecil lebih sering, mudah lapar, serta berat badan menurun. Gejala tersebut berlangsung lama tanpa memperhatikan diet, olah raga, dan pengobatan sampai orang tersebut memeriksakan kadar gula darahnya (Murwani, 2009).
Diabetes Mellitus disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya faktor genetik, imunologi dan lingkungan. Faktor lain yang dapat menyebabkan diabetes mellitus terjadi karena usia, obesitas, kegagalan italic sel beta dan resistensi insulin yang kadang tidak disadari oleh penderita diabetes mellitus. Seringkali manusia tidak menyadari apabila dirinya telah terkena penyakit diabetes sehingga terjadi keterlambatan dalam penanganan yang menyebabkan terjadinya komplikasi. Pada penderita diabetes mellitus biasanya
terjadi komplikasi bersifat akut yaitu koma, hipoglikemia, ketoasidosis, koma hipersolar nonketotatik. Komplikasi diabetes mellitus bersifat kronik yaitu mikroangiopati yang mengenai pembuluh darah kecil dan makroangiopati mengenai pembuluh darah besar (Atun, 2010).
Menurut World Health Organitation (WHO) pada tahun 2016, dari 415 juta orang dewasa mengalami diabetes, kenaikan ini merupakan kenaikan yang cukup besar sekitar 4 kali lipat dari 108 juta orang pada tahun 1980. Prevalensi global diabetes antara orang dewasa di atas usia 18 tahun telah meningkat menjadi 8,5% pada tahun 2015. Dari 3,7 juta kematian yang terjadi akibat gula darah tinggi sekitar 1,5 juta kematian secara langsung disebabkan oleh diabetes. WHO memproyeksikan bahwa diabetes akan menjadi penyebab utama 7 kematian pada tahun 2030.
Berdasarkan Profil Kesehatan Jawa Tengah (2013) menunjukan prevalensi DM tipe II di Provinsi Jawa Tengah mengalami penurunan dari 0,63% menjadi 0,55% pada tahun 2012 (Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, 2013). DM menduduki urutan kedua pada pola penyakit tidak menular berdasarkan profil Dinas Kesehatan Kota Surakarta 2014. Prevalensi DM tipe I sebanyak 2.480 kasus pada tahun 2013 kemudian meningkat menjadi 3.001 kasus pada tahun 2014, untuk penderita DM tipe II sebanyak 31.608 kasus pada tahun 2013 dan meningkat menjadi 46.741 kasus pada tahun 2014
Diabetes mellitus merupakan penyakit kronik yang tidak menyebabkan kematian secara langsung, tetapi dapat berakibat fatal bila pengelolaannya tidak tepat. Pengelolaan DM memerlukan penanganan secara multidisiplin yang mencakup terapi non-obat dan terapi obat. Penyakit DM memerlukan perawatan medis dan penyuluhan untuk self management yang berkesinambungan untuk mencegah komplikasi akut maupun kronis. Penanganan untuk mencegah dan menghambat komplikasi mikrovaskuler dan makrovaskuler, penatalaksanaan diabetes ditujukan untuk pengendalian faktor metabolik dan faktor risiko kardiovaskuler. Kontrol glukosa darah merupakan hal yang terpenting di dalam pengendalian dan pengelolaan DM (Arviana, 2015).
Penderita diabetes melitus dapat mengalami berbagai komplikasi jangka panjang jika diabetesnya tidak dikelola dengan baik. Komplikasi yang lebih sering terjadi dan mematikan adalah serangan jantung dan stroke. Kerusakan pada pembuluh darah mata dapat menyebabkan gangguan penglihatan akibat kerusakan pada retina mata (retinopati diabetikum). Kelainan fungsi ginjal bisa menyebabkan gagal ginjal sehingga penderita harus mengalami cuci darah (hemodialisa). Gangguan pada saraf dapat bermanifestasi dalam beberapa bentuk. Jika satu saraf mengalami kelainan fungsi (mononeuropati), maka sebuah lengan atau tungkai biasa secara tiba-tiba menjadi lemah. Berkurangnya aliran darah ke kulit dapat menyebabkan ulkus dan semua penyembuhan luka berjalan lambat. Ulkus di kaki dapat sangat dalam dan mengalami infeksi serta masa penyembuhannya lama sehingga tungkai harus diamputasi (Maulana, 2008).
Hampir 70 % orang mengidap diabetes mengalami beragam tingkat kerusakana saraf. Kerusakan saran ini disebut neuropati. Neuropati sebagai akibat diabetes disebut diabetic neuropathy. Gula darah yang tinggi merusak saraf dan laipasan disekitar saraf, saraf yang rusak tidak dapat menyampaikan sinyal ke dan dari otak dengan baik, akibatnya penderita akan kehilangan sensasi atau meningkatnya sensasi atau rasa sakit pada bagian yang terkena. Kerusakan ini biasanya dimulai dari jemari kaki dan berlanjut ke betis sera paha. Hal ini biasa menyebabkan rasa kebas, rasa kesemutan, rasa terbakar, rasa nyeri yang tumpul, rasa nyeri yang tajam atau kram. Maka dari itu pada ulkus DM mengalami nyeri akibat kerusakan saraf tepi (Ramaimah, 2008)
Seringkali pada komplikasi ulkus DM disertai rasa nyeri pada luka jika luka tidak kunjung sembuh, sehingga dapat mengganggu aktifitas serta rasa kenyamanan dari orang yang mengalami diabetes mellitus (Maulana, 2008). Nyeri menurut International Association for the Study of Pain (2016) adalah pengalaman sensorik dan motorik yang tidak menyenangkan sehubungan dengan kerusakan jaringan baik aktual maupun potensial. Nyeri yang terjadi biasanya karena adanya kerusakan jaringan pada luka ulkus diabetes mellitus. Penanganan nyeri pada langkah pertama yang harus dilakukan adalah penanganan non-farmakologi berupa tekhnik relaksasi nafas dalam. Apabila langkah pertama ini belum tercapai, dapat dengan langkah farmakologis berupa terapi analgetik, atau kombinasi keduanya (Sujono, 2008).
Keluhan nyeri terutama pada ekstremitas merupakan keluhan umum pada penderita diabetes mellitus, terutama pada penderita menahun apalagi dengan kendali glukosa yang tidak baik. Penyebab keluhan ini dikenal sebagai neuropati perifer, komplikasi kronis diabetes yang sulit diatasi dengan pengobatan. Kelainan yang memberikan gejala nyeri (neuropathic pain) ini, akibat lesi ataupun disfungsi primer yang seringkali terjadi pada sistem saraf peerifer namun juga dapat bersifat sentral, mislanya pada kelainan pasca stroke. Penanganan nyeri pada neuropati perifer pada penderita diabetes mellitus pada saat ini belum memberi hasil memuaskan. Hal ini disebabkan karena secara struktural kelainan jaringan telah bersifat ireversibel terutama pada keadaan diabetes lanjut. Permasalahan lain yang hampir selalu menyertai nyeri neuropathic pain adalah gangguan tidur dan gangguan kejiwaan berupa anxiety dan depresi (smelzer, 2013).
Pengobatan yang ideal diharapkan tidak hanya dalam hal mengatasi permasalahan nyeri yang mengganggu, tapi juga menyangkut penyakit dasarnya serta sebagai gejala tambahan tersebut. Mekanisme dari sensasi nyeri yang dirasakan adalah akibat abnormalis berupa hipereksitasi neuron presynaptic sehingga menimbulkan produksi neurotransmitter yang berlebihan. Oleh karena itu usaha penanganan terhadap neuropathic pain haruslah didasarkan pada pencegahan produksi neurotransmitter yang berlebihan ini. Pregabalin merupakan senyawa yang bekerja khusus mengatasi neurophatic pain melalui titik tangkapnya dalam memodulasi keadaan hipereksitasi neuron, dan terbukti jjuga memberi manfaat tambahan dalam memperbaiki gangguan tidur dan anxiety terkait nyeri ( Manaf, 2008 ).
Pasien diabetes di RSUD Hj. Anna Lasmanah Banjarnegara pada tahun 2017 sebanyak 2.795 kasus hal tersebut merupakan salah satu indikator bahwa penanganan dan penanggulangan diabetes mellitus belum optimal. Hal ini didasarkan bahwa setiap pasien yang sudah mengalami perawatan rumah sakit merupakan pasien yang memerlukan penanganan khusus dalam mengatasi penyakit diabetes ataupun komplikasi yang ditimbulkan. Berdasarkan hasil Pra survei di RSUD Hj. Anna Lasmanah Banjarnegara pada kurun waktu 1 tahum (1 Januari - 27 November 2017), terdapat kasus diabetes mellitus di rawat jalan sebanyak 2.795 kasus, di rawat inap sebanyak 345 kasus, serta di ruang Dahlia 113 kasus di bandingkan dengan kejadian tahun 2016 dalam 1 tahun sebanyak 1.235 kasus, ini menunjukan adanya peningkatan angka kejadian diabetes mellitus.
URL : https://repository.uhb.ac.id/index.php?p=show_detail&id=2193
APA Citation
. (2018). Asuhan Keperawatan nyeri akut pada Ny.A dengan Diabetes Mellitus Di RSUD Hj. Anna Lasmanah Banjarnegara. (Digital collection of academic papers, undergraduate thesis & research). Retrieved from https://repository.shb.ac.id