Dermatitis berasal dari kata derm (kulit) dan itis (radang/inflamasi), sehingga dermatitis dapat diterjemahkan sebagai suatu keadaan di mana kulit mengalami inflamasi. Dermatitis merupakan peradangan kulit (epidermis dan dermis) sebagai respon terhadap pengaruh faktor eksogen dan atau faktor endogen, menimbulkan kelainan klinis berupa eflorensasi polimorfik (eritama, edema, papul, vesikel, skuama, likenifikasi) dan keluhan gatal. Tanda polimorfik tidak timbul bersamaan, bahakan mungkin hanya beberapa (oligomorfik). Dermatitis cenderung residif dan menjadi kronis. (Sri Adi Sularsito dan Suri Djuanda, 2010).
Menurut badan kesehatan dunia World Health Organization (WHO) pada survei American Academy of Allergy, Asthma and Immunology (AAAAI) tahun 2013, dermatitis merupakan masalah kulit yang umum dimana terdapat 5,7 juta kunjungan dokter pertahun akibat penyakit dermatitis. Pada umumnya penyakit dermatitis sering terjadi pada remaja atau dewasa yang berlangsung lama, kemudian cenderung menurun dan membaik (sembuh) setelah usia 30 tahun, jarang sampai usia pertengahan, hanya sebagian kecil terus berlangsung sampai tua (WHO, 2014). Data Ditjen Pelayanan Medik Departemen Kesehatan RI tahun 2014, ditemukan jumlah kasus penyakit kulit dan jaringan subkutan lainnya sebesar 15,6%, dimana penyakit dermatitis sebesar 66,3% (Kemenkes RI, 2014).
Data pra survey merupakan data yang diperoleh dengan cara melakukan wawancara atau observasi. Peneliti melakukan kegiatan pra survey pada tanggal 14 november 2017 di Panti Pelayanan Sosial Lanjut Usia Dewanata Cilacap.Panti ini merupakan tempat khusus lanjut usia untuk bisa dilakukan asuhan keperawatan secara komprehensif. Terdapat 100 penerima manfaat yang diantaranya terdiri dari 42 laki-laki dan 58 perempuan. Berdasarkan hasil pra survey yang telah dilakukan, terdapat 8 lansia yang menderita dermatitis. Data ini didapatkan dari data angka kesakitan penerima manfaat pada bulan November 2017.
Penyebab pasti dermatitis belum diketahui, namun berbagai penelitian menunjukkan dermatitis disebabkan interaksi faktor genetik. Beberapa penyebab dari penyakit dermatitis juga dapat disebabkan oleh alergen, suhu yang ekstrem, kelembaban, berkeringat dan stress (Bilotta, 2013). Sampai sekarang belum ditemukan jelas tentang pemahaman gambaran klinis dermatitis, mengingat kondisi di Indonesia dengan kondisi iklim, sosial, budaya dan ekonomi yang berbeda dengan negara - negara barat (Sartiwi, Weni. 2016)
Kelompok usia lanjut (lansia) mengalami kenaikan yang substasial dalam beberapa dekade terakhir. Kelompok ini merupakan segmen populasi yang rawan di samping anak, yang memerlukan perhatian, termasuk masalah kulit. Meskipun penyakit kulit tidak memberikan andil penting pada statistik kematian, namun masalah kulit yang dihadapi kelompok ini cukup banyak. Sebagian penyakit kulit yang menyerang lansia adalah penyakit kulit yang dapat terjadi pada kelompok umur yang lain. Kondisi fisik lansia yang sudah tidak memungkinkan lagi untuk berobat secara rutin di rumah sakit maupun pusat-pusat kesehatan yang lain, menyebabkan banyak penyakit kulit yang tidak dapat di monitor lagi, yang pada gilirannya akan menjadikan kelainan tersebut semakin parah ataupun berubah menjadi sesuatu keganasan. (Martono, Hadi dan Kris, 2014).
Proses keperawatan merupakan cara yang sistematis yang dapat dilakukan oleh perawat bersama dengan klien.Proses keperawatan ini dapat digunakan untuk menentukan kebutuhan asuhan keperawatan dengan melakukan pengkajian, menentukan diagnosis, merencanakan tindakan yang akan dilakukan, melaksanakan tindakan serta mengevaluasi hasil asuhan yang telah diberikan. Proses keperawatan ini berfokus pada klien dan berorientasi pada tujuan dimana setiap tahap saling terjadi ketergantungan dan saling berhubungan (Hidayat, 2011). Asuhan keperawatan pasien yang mengalami dermatitis berfokus pada pemberikan informasi. Salah satu informasi yang dapat diberikan adalah cara perawatan sendiri dirumah (Priscilla et al. , 2016).
Penanganan masalah kulit dapat dilakukan dengan cara non farmakologi. Salah satunya yaitu menggunakan lidah buaya atau Aloe verasecara topikal pada kulit. Menurut Sugiaman (2011), pemberian Aloe verasecara topikal pada luka, akan menghasilkan penyembuhan luka yang lebih baik. Hal ini dapat terjadi karena Aloe vera memiliki kemampuan angiogenik dan mitogenik yang dapat meningkatkan rata-rata kontrasi luka, meningkatkan epitalisasi, sehingga akan menurunkan waktu penyembuhan luka secara signifikan. Selain itu, Aloe verajuga memiliki kemampuan untuk menyediakan mikronutrien penting yang diperlukan tubuh dalam membantu mempercepat proses penyembuhan luka.
Masalah yang sering muncul pada kasus penyakit dermatitis salah satunya adalah kerusakan integritas kulit. Dari buku pandauan diagnosa keperawatan NANDA (2015-2017), kerusakan integritas kulit adalah perubahan atau gangguan epidermis dan atau dermis. Menurut buku panduan diagnosa keperawatan NANDA (2015-2017) kerusakan integritas kulit dapat terjadi jika ditemukan faktor resiko sebagai berikut : adanya benda asing yang menusuk permukaan kulit dan adanya kerusakan integritas kulit. Untuk penanganan kelainan kulit pada lansia, pada dasarnya sama dengan penyakit kulit pada umumnya, yang terdiri dari pengobatan sistemik, topikal, bedah serta pengobatan khusus, sesuai dengan kelompok penyakit (infeksi/infestasi, alergi/erupsi obat/dermatitis, tumor jinak maupun ganas). Perhatian yang khusus terutama ditunjukan kepada perawatan kulit, menua yang umumnya terlihat adanya xerosis (kekeringan), keriput, dan pigmentasi.
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka penulis tertarik untuk melakukan proses asuhan keparawatan. Asuhan keperawatan ini berfokus pada lansia yang menderita dermatitis. Judul yang digunakan adalah “Asuhan Keperawatan Kerusakan Integritas Kulit Pada Ny.S Dengan Dermatitis Di Wisma Shinta Panti Pelayanan Sosial Lanjut Usia Dewanata Cilacap”.
. (2018). Asuhan Keperawatan Kerusakan Integritas Kulit Pada Ny.S Dengan Dermatitis Di Wisma Shinta Panti Pelayanan Sosial Lanjut Usia Dewanata Cilacap. (Digital collection of academic papers, undergraduate thesis & research). Retrieved from https://repository.shb.ac.id