Benigna Prostat Hyperplasia (BPH) adalah pembesaran kelenjar dan jaringan selular prostat yang berhubungan dengan perubahan endokrin berkenaan dengan proses penuaan (Majid dan Suharyanto, 2009). Benigna Prostat Hyperplasia (BPH) merupakan pembesaran atau hipertrofi, Kelenjar prostat membesar meluas ke atas menuju kandung kemih dan menghambat aliran keluar urin. Berkemih yang tidak tuntas dan retensi urine yang memicu statis urin dapat menyebabkan hidronefrosis, hidroureter, dan infeksi saluran kemih (urinary tract disease, UTI) (Smeltzer,C Susan, 2013).
Hiperplasia noduler ditemukan sekitar 70% pada usia 60 tahun dan menjadi 90% pada usia 70 tahun. Pembesaran ini bukan merupakan kanker prostat, karena konsep BPH dari karsinoma prostat berbeda. Secara anatomis sebenarnya kelenjar prostat merupakan kelenjar ejakulat yang membantu menyemprotkan sperma dari saluran (ductus). Pada waktu melakukan ejakulasi, secara fisiologis prostat membesar untuk mencegah urin dari vesika urinaria melewati uretra. Namun, pembesaran prostat yang terus menerus akan berdampak pada obstruksi saluran kencing (meatus urinarius internatus) (Mitchell, 2009).
Menurut World Health Organization (WHO) Pada tahun 2012, diperkirakan bilangan penderita Benigna prostat Hiperplasia (BPH) adalah sebanyak 30 juta, bilangan ini hanya kaum pria karena wanita tidak memunyai kelenjar prostat, maka oleh sebab itu, Benigna Prostat Hiperplasia (BPH) terjadi hanya pada kaum pria (samidah & Romadhon,2015). Di indonesia, berdasarkan tahun 2013 terdapat 9,2 juta kasus BPH, Diantaranya diderita oleh laki-laki berusia diatas 60 tahun. Dijawa tengah terdapat 3248 BPH tahun 2012 (Riskesdas, 2013).
Penanganan BPH dapat dilakukan dalam watchfull waiting, medikamentosa, dan tindakan pembedahan transurethal resection prostatectomy (TURP) menjadi salah satu tindakan pembedahan yang paling umum dilakukan untuk mengatasi pembesaran prostat. Tindakan pembedahan ini dipilih karena memiliki efek minimal jika dibandingkan dengan jenis pembedahan lainya.
Hasil pra survey di RSUD dr. R Goeteng Taroenadibrata Purbalingga bahwa pada tahun 2015 didapatkan kasus BPH sejumlah 159 pasien, Sedangkan pada tahun 2016 terdapat 177 pasien, Pada bulan januari sampai oktober tahun 2017 terdapat 111 pasien dari data diatas kasus BPH mengalami peningkatan ditahun 2016 (Rekam Medik RSUD dr. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga, 2017). Dari hasil pengamatan pada saat penulis melakukan pembelajaran praktik klinik keperawatan medikal bedah diruang Dahlia dr. R Goeteng Taroenadibrata Purbalingga penulis menjumpai sebanyak 16 pasien post operasi TURP dan TUIP dalam kurun waktu 3 minggu dari tanggal 30 Oktober sampai 20 November. Rata- rata pasien post operasi TURP dengan masalah retensi urin akibat sumbatan stolsel. Berdasarkan hal tersebut di atas maka dari itu, penulis tertarik untuk mendiskripsikan asuhan keperawatan pada pasien dengan post operasi TURP pada Tn.T di Ruang Dahlia RSUD dr. R Goeteng Taroenadibrata Purbalingga.
URL : https://repository.uhb.ac.id/index.php?p=show_detail&id=2200
APA Citation
. (2018). Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Post Operasi TURP Pada Tn.T di Ruang Dahlia RSUD dr. R Goeteng Taroenadibrata Purbalingga. (Digital collection of academic papers, undergraduate thesis & research). Retrieved from https://repository.shb.ac.id