Congestive Heart Failure (CHF) merupakan salah satu masalah kesehatan dalam sistem kardiovaskuler, yang angka kejadiannya terus meningkat. Menurut data dari WHO dilaporkan bahwa ada sekitar 3000 warga Amerika menderita CHF. Menurut American Heart Association (AHA) tahun 2012 dilaporkan bahwa ada 5,7 juta penduduk Amerika Serikat yang menderita gagal jantung (Padila, 2012).
Penyakit kardiovaskuler adalah penyebab utama kematian secara global. Di dunia 17,5 juta orang meninggal akibat gangguan kardiovaskuler atau 31% mewakili dari seluruh kematian secara global (WHO, 2016). Benua Asia menduduki tempat tertinggi kematian akibat penyakit kardiovaskuler dengan jumlah 712,1 ribu jiwa, Indonesia menduduki peringkat kedua setelah Filipina dengan jumlah kematian 371,0 ribu jiwa (WHO, 2014). Dilaporkan 80% atau lebih penyebab kematian adalah gangguan kardiovaskuler terjadi di negara-negara dengan penghasilan rendah dan menengah. Berdasarkan seluruh data yang dikumpulkan oleh WHO, pada tahun 2015 diperkirakan kematian akibat penyakit jantung meningkat menjadi 20 juta jiwa. Kemudian akan tetap meningkat sampai tahun 2030, diperkirakan 23,6 juta jiwa penduduk akan meninggal akibat penyakit jantung (WHO, 2015).
Penderita gagal jantung atau CHF di Indonesia pada tahun 2012 menurut data dari Departemen Kesehatan mencapi 14.449 jiwa penderita yang menjalani rawat inap di rumah sakit. Pada tahun 2012 di Jawa Tengah terdapat 520 penderita CHF dan menjalani rawat inap. Selain itu, penyakit yang paling sering memerlukan perawatan ulang di rumah sakit adalah gagal jantung (readmisson), walaupun pengobatan dengan rawat jalan telah diberikan secara optimal. Hal serupa juga dibenarkan oleh Rubeinstein (2007) bahwa sekitar 44% pasien Medicare yang dirawat dengan diagnosis CHF akan kembali pada 6 bulan kemudian (Depkes, 2012).
Berdasarkan diagnosis dokter prevalensi penyakit gagal jantung kongestif di Indonesia yaitu 0,13% atau sekitar 229,696 orang. Jumlah penderita penyakit gagal jantung kongestif terbanyak terdapat di provinsi Jawa Timur sebanyak 54,826 orang (0,19%) sedangkan provinsi Jawa Tengah berada di urutan ketiga untuk penderita gagal jantung kongestif dengan jumlah sebanyak 43,361 orang (0,18%) (Riskesdes, 2013).
Pada umumnya CHF diderita lansia yang berusia lebih dari 50 tahun, CHF merupakan alasan yang paling umum bagi lansia untuk dirawat di rumah sakit (usia 65-75 tahun mencapai presentase sekitar 75% pasien yang dirawat dengan CHF). Resiko kematian yang diakibatkan oleh CHF adalah sekitar 5-10% per bulan pada kasus gagal jantung ringan, dan meningkat menjadi 30-40% pada gagal jantung berat. Menurut penelitian, sebagian besar lansia yang didiagnosis menderita CHF tidak dapat hidup lebih dari 5 tahun (Kowalak, 2011).
Penyebab umum gagal jantung kongestif adalah rusaknya atau masa otot jantung yang berkurang karena iskemi akut atau kronik, peningkatan resistensi vaskuler karena hipertensi, atau karena takiaritmia (misalnya fibrilasi atrial). Pada dasarnya semua kondisi yang menyebabkan perubahan struktur atau fungsi ventrikel kiri merupakan predisposisi untuk gagal jantung kongestif. Penyakit jantung koroner merupakan penyebab terbanyak (60-75%) diikuti penyakit katup (10%) dan kardiomiopati (10%). Dewasa ini studi epidemiologi menunjukkan bahwa sekitar setengah pasien gagal jantung kongestif memiliki fraksi ejeksi (ejectin fraction, EF) ventrikel kiri yang baik (EF 40-50%), sehingga tidak lagi dipikirkan bahwa gagal jantung kongestif secara primer terjadi akibat penurunan fraksi ejeksi ventrikel kiri (Ervinaria, 2014).
Faktor resiko yang menjadi pemicu tingginya angka penderita kardiovaskuler adalah diet yang tidak sehat, kurangnya aktivitas, merokok, dan minum-minuman yang beralkohol untuk jangka waktu yang lama. Dari semua faktor resiko tersebut dapat menyebabkan tekanan darah yang tinggi, gula darah yang meningkat, kadar lemak pada darah tinggi dan obesitas. Jika semua faktor resiko tersebut tidak dicegah sedini mungkin akan menyebabkan berbagai penyakit kardiovaskuler seperti serangan jantung, gagal jantung kongestif dan penyakit komplikasi lainnya (WHO, 2016).
Manifestasi klinis dari gagal jantung dikelompokkan menjadi gagal jantung akut dan kronik yang meliputi, anoreksia, asites, nokturia, intoleransi aktivitas, peningkatan berat badan, fatigue, takikardi, dan penurunan urine output. Congestive Heart Failure ini dapat menjadi kronik apabila disertai penyakit-penyakit lain seperti, hipertensi, penyakit katup jantung, dan kardiomiopati (Ardiansyah, 2012). Sedangkan komplikasi yang mungkin muncul pada penyakit ini adalah edema paru dan syok kardiogenik (Wijaya dan Putri, 2013). Penanganan yang dapat diberikan pada pasien gagal jantung meliputi, pemberian oksigen, terapi nitrat dan vasodilator, pemberian diuretik dan diet berupa pembatasan natrium yang ditujukan untuk mencegah, mengatur, atau mengurangi edema (Ardiansyah, 2012).
Berdasarkan data yang diperoleh selama kurun waktu 1 minggu (13 November-19 November 2017) di Ruang Mawar RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto dengan melihat Rekam Medik dan pasien yang terdiagnosis medis Congestive Heart Failure (CHF) terdapat 3 pasien dengan Congestive Heart Failure dari jumlah keseluruhan pasien sebanyak 53 pasien.
Berdasarkan fenomena tersebut penulis tertarik untuk menggambarkan dan mendokumentasikan asuhan keperawatan dalam sebuah karya ilmiah dengan judul “Asuhan Keperawatan Penurunan Curah Jantung pada Tn. A dengan Congestive Heart Failure (CHF) di Ruang Mawar RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto”.
URL : https://repository.uhb.ac.id/index.php?p=show_detail&id=2202
APA Citation
. (2018). Asuhan Keperawatan Penurunan Curah Jantung pada Tn. A dengan Congestive Heart Failure (CHF) di Ruang Mawar RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto. (Digital collection of academic papers, undergraduate thesis & research). Retrieved from https://repository.shb.ac.id