Stroke merupakan suatu penyakit serebrovaskuler dimana terjadi gangguan fungsi otak yang berhubungan dengan penyakit pada pembuluh darah yang mensuplai darah ke otak (Wardhani dan Santi, 2015). Dalam bahasa medis, stroke disebut cerebro-vascular accident (CVA). Stroke didefinisikan sebagai gangguan saraf permanen akibat terganggunya peredaran darah ke otak, yang terjadi sekitar 24 jam atau lebih. Sindrom klinis ini terjadi secara mendadak serta bersifat progresif sehingga menimbulkan kerusakan otak secara akut (Lingga, 2013).
Menurut American Heart Association (AHA) angka kejadian stroke pada laki-laki usia 20-39 tahun sebanyak 0,2% dan perempuan sebanyak 0,7%. Angka terjadinya stroke pada Usia 40-59 tahun, perempuan sebanyak 2,2% dan laki-laki 1,9%. Seseorang yang menderita stroke pada usia 60-79 tahun pada perempuan sebanyak 5,2% dan pada laki-laki sebanyak 6,1%. Prevalensi stroke pada usia lanjut semakin meningkat setiap tahunnya, hal ini dapat dilihat dari angka kejadian stroke pada usia 80 keatas dengan angka kejadian stroke pada laki-laki sebanyak 15,8% dan pada perempuan sebanyak 14%. Prevalensi angka kematian yang terjadi di Amerika disebabkan oleh stroke dengan populasi 100.000 pada perempuan sebanyak 27,9% dan pada laki-laki sebanyak 25,8%. Di Asia angka kematian yang diakibatkan oleh stroke pada perempuan sebanyak 30% dan pada laki-laki 33,5% per 100.000 populasi (AHA, 2015).
Menurut Riset Kesehatan Dasar Republik Indonesia, angka kejadian stroke di Indonesia jumlah penderita stroke semakin hari semakin bertambah dan menduduki peringkat pertama di Asia. Di Indonesia stroke merupakan penyebab kematian nomor tiga setelah penyakit jantung dan kanker. Prevalensi stroke mencapai 8,3 per 1000 penduduk, 60,7 persennya disebabkan oleh stroke non hemoragik. Sebanyak 28,5 % penderita meninggal dunia dan sisanya mengalami kelumpuhan total atau sebagian. Hanya 15 % saja yang dapat sembuh total dari serangan stroke atau kecacatan (Riskesdas, 2013).
Berdasarkan hasil rekapitulasi data kasus penyakit tidak menular (PTM), jumlah kasus yang dilaporkan pada tahun 2015 di Jawa Tengah adalah 603.840 kasus. Adapun proporsi kasus stroke di Jawa Tengah adalah sebanyak 2,87% dari jumlah kasus yang dilaporkan (Dinkes Jawa Tengah, 2015). Berdasarkan hasil pra survey pada tanggal 18 Desember 2017 – 23 Desember 2017 ditemukan sebanyak 15 kasus stroke di ruang Kemuning RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto, dengan jumlah 9 pasien stroke non hemoragik dan 6 pasien stroke hemoragik.
Stroke iskemik atau cedera serebrovaskuler (CVA) secara mendadak mengakibatkan gangguan suplai darah ke bagian otak. Dampaknya adalah gangguan suplai darah ke otak yang menyebabkan hilangnya pergerakan, daya pikir, memori, kemampuan bicara, atau sensasi untuk sementara waktu atau permanen (Smeltzer, 2013).
Gangguan suplai darah ke otak bisa terjadi dengan beberapa cara. Iskemia (non hemoragik) terjadi ketika suplai darah ke otak terganggu atau tersumbat total. Iskemia (non hemoragik) biasanya terjadi karena trombosis atau embolik. Stroke yang terjadi karena trombosis lebih sering terjadi dibandingkan dengan embolik. Faktor penyebab lain adalah perdarahan (hemoragik). Perdarahan ini paling banyak disebabkan oleh adanya ruptur arteriosklerotik dan hipertensi pembuluh darah yang bisa menyebabkan perdarahan ke dalam jaringan otak. Perdarahan paling sering terjadi akibat hipertensi dan umumnya terjadi setelah usia 50 tahun (Saunders, 2009).
Menurut Mansjoer (2002) dalam Andra dan Yessi (2013) gejala khusus sebagain akibat adanya penurunan suplai darah ke otak diantaranya mengalami kehilangan motorik (hemiplegi, hemiparesis, dan menurunnya tonus otot), kehilangan komunikasi seperti disartria dan disfasia/afasia, dan gangguan persepsi. Gejala lain yang muncul pada stroke adalah vertigo, mual, muntah, dan nyeri kepala.
Pada klien dengan stroke non hemoragik sering ditemukan masalah neuro-muskuloskeletal yang dapat berpengaruh terhadap kemampuan mobilitas pasien. Kelumpuhan merupakan gejala klinis yang ditimbulkan oleh penyakit stroke. Selain itu kelumpuhan yang dialami klien stroke akan menimbulkan perubahan perilaku sehingga memperpanjang masa penyembuhan atau pemulihan kesehatannya menyebabkan gangguan fisik dan psikis serta komplikasi penyakit lainnya. Masalah keperawatan yang muncul adalah hambatan mobilitas. Hambatan mobilitas adalah keterbatasan dalam gerakan fisik atau lebih ekstremitas secara mandiri dan terarah. Pemberian latihan pergerakan sendi atau Range of Motion (ROM) merupakan salah satu bentuk intervensi yang dilakukan perawat untuk meningkatkan kualitas hidup klien yang terkena stroke. Beberapa studi mengenai latihan ROM yang diberikan kepada klien stroke telah dilakukan, didapatkan hasil bahwa kekuatan otot meningkat dan kemampuan fungsional meningkat secara signifikan setelah diberikan latihan (Cahyati, 2011).
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka penulis tertarik untuk mengambil karya tulis ilmiah “Asuhan Keperawatan Hambatan Mobilitas Fisik pada Tn. M dengan Stroke Non Hemoragik di ruang Kemuning RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto”.
URL : https://repository.uhb.ac.id/index.php?p=show_detail&id=2208
APA Citation
. (2018). Asuhan Keperawatan Hambatan Mobilitas Fisik pada Tn. M dengan Stroke Non Hemoragik di ruang Kemuning RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto. (Digital collection of academic papers, undergraduate thesis & research). Retrieved from https://repository.shb.ac.id