homescontents
homescontents

Repository Universitas Harapan Bangsa.
Digital collection of academic papers, undergraduate thesis, research

Repository Universitas Harapan Bangsa.
Digital collection of academic papers, undergraduate thesis, research


Detail Cantuman

Kembali

Asuhan Keperawatan Hambatan Mobilitas Fisik pada Ny. S Dengan Post Sectio Caesarea Indikasi Disproporsi Kepala Panggul (DKP) Di Ruang Teratai RSUD Hj Anna Lasmanah Banjarnegara

XML
Pengarang
Linda Lestari - Personal Name
Pernyataan Tanggungjawab
Lampiran Berkas
LOADING LIST...
Bahasa
Indonesia
Penerbit
STIKES Harapan Bangsa
Tahun Terbit
2018
Tempat Terbit
Fakultas Ilmu Kesehatan SHB
Deskripsi Fisik

Abstract

Persalinan menurut American College of Obstetrician and Gynaecologist (ACOG) menjadi 3 yaitu kelainan kekuatan (power), kelainan janin (passenger), kelainan jalan lahir (passage). Kelainan jalan lahir merupakan kelainan dalam ukuran atau bentuk jalan lahir bisa menghalangi kemajuan persalinan atau menyebabkan kemacetan. Penyebab tersering dari kelainan jalan lahir yaitu panggul sempit. Sejatinya, yang dimaksud panggul sempit yaitu ketidaksesuaian antara kepala janin dengan panggul, sehingga kepala janin tidak dapat memasuki panggul, bukan panggul sempit secara anatomis. Kesempitan panggul dibagi 4 macam yaitu kesempitan pintu atas panggul, kesempitan bidang tengah panggul, kesempitan pintu bawah panggul, kombinasi kesempitan pintu atas panggul, bidang tengah, dan pintu bawah panggul (Fauziyah, 2012).
Disproporsi Kepala Panggul (DKP) merupakan keadaan yang menggambarkan ketidakseimbangan antara kepala janin dan panggul ibu sehingga janin tidak bisa keluar melalui vagina. Disproporsi Kepala Panggul (DKP) disebabkan oleh panggul sempit, janin yang besar atau keduanya. Cephalopelvic Disproportion (CPD) merupakan diagnosa medis digunakan ketika kepala bayi dinyatakan terlalu besar untuk muat melewati panggul ibu (Pahlevi,dkk 2017).
Persalinan Sectio Caesarea (SC) merupakan persalinan buatan dimana janin dilahirkan melalui suatu insisi pada dinding perut dan dinding rahim dengan saraf rahim dalam keadaan utuh serta berat diatas 500 gram (Mitayani, 2009). Setelah tindakan Sectio Caesarea harus dilakukan mobilisasi dini. Mobilisasi dini merupakan kebijaksanaan untuk selekas mungkin membimbing penderita keluar dari tempat tidurnya dan membimbingnya selekas mungkin untuk berjalan. Mobilisasi dini merupakan faktor yang menonjol dalam mempercepat pemulihan paska bedah dan dapat mencegah komplikasi paska bedah. Dengan mobilisasi dini kontraksi uterus akan baik sehingga fundus uteri keras, maka resiko perdarahan abnormal dapat dihindarkan, karena kontraksi membentuk penyempitan pembuluh darah yang terbuka. Selain itu tindakan mobilisasi dini diharapkan ibu nifas dapat menjadi lebih sehat dan lebih kuat, selain juga dapat melancarkan pengeluaran lochea, membantu proses penyembuhan luka akibat proses persalinan, mempercepat involusi alat kandungan, melancarkan fungsi alat gastrointestinal dan alat perkemihan serta meningkatkan kelancaran peredaran darah, sehingga mempercepat fungsi Air Susu Ibu (ASI) dan pengeluaran sisa metabolisme (Manuaba, 2010).
Mobilisasi merupakan suatu proses yang sangat penting dilakukan oleh ibu post partum, karena dengan melakukan mobilisasi akan membantu mempercepat proses pemulihan masa nifas terutama pada ibu post Sectio Caesarea supaya ibu mendapatkan perawatan dan penyembuhan luka yang normal. Apabila mobilisasi tidak segera dilakukan akan berdampak pada proses pemulihan dan penyembuhan yang lambat dan juga bisa menyebabkan komplikasi seperti infeksi dan perdarahan (Saleha, 2009).
Menurut Depkes pada tahun 2010, penyebab langsung kematian maternal di Indonesia terkait kehamilan, persalinan dan nifas yaitu perdarahan 28%, eklamsi 24%, infeksi 11%, partus lama 5%, dan abortus 5%. Pada masa persalinan komplikasi paling tinggi terjadi pada persalinan yang dilakukan dengan cara Sectio Caesarea, dengan kata lain Sectio Caesarea juga merupakan resiko morbiditas dan mortalitas ibu yang lebih tinggi daripada persalinan pervaginam (Depkes, 2013).
Hasil data Rikesdas tahun 2013 persalinan dengan Sectio Caesarea di Indonesia 9,8 %, dengan proporsi tertinggi di DKI Jakarta 19,9 %, dan terendah di Sulawesi Tenggara 3,3 %. Faktor ibu saat melahirkan dengan Sectio Caesarea karena Disproporsi Kepala Panggul sebanyak 136 orang.
Berdasarkan data dari rekam medik RSUD Hj Anna Lasmanah Banjarnegara menyebutkan bahwa jumlah total Sectio Caesarea pada tahun 2016 sebanyak 310 orang dan ibu hamil yang mengalami Disproporsi Kepala Panggul sebanyak 9 orang. Pada tahun 2017 jumlah total Sectio Caesarea sebanyak 610 orang dan ibu hamil yang mengalami Disproporsi Kepala Panggul sebanyak 41 orang.
Apabila persalinan dengan panggul sempit dibiarkan berlangsung sendiri tanpa pengambilan tindakan yang tepat, dapat timbul bahaya pada ibu dan janin. Bahaya pada ibu dapat berupa partus lama yang dapat menimbulkan dehidrasi serta asidosis, ruptur uteri, resiko terjadinya vesikoservikalis, atau fistula vesikovaginalis, atau fistula rektofaginalis karena tekanan yang lama antara kepala janin dengan tulang panggul. Sedangkan bahaya pada janin dapat berupa meningkatkan kematian perinatal, dan perlukaan pada jaringan di atas tulang kepala janin bahkan bisa menimbulkan fraktur pada os parietalis (Pahlevi,dkk 2017). Penatalaksanaan setelah dilakukan tindakan Sectio Caesarea adalah cairan intravena, pencegahan infeksi pasca operasi, analgesi, mengobservasi tanda-tanda vital, terapi cairan dan diet, fungsi kandung kemih dan usus, ambulasi, perawatan luka pemeriksaan laboratorium, perawatan payudara (Cunningham, dkk 2012).
Alasan mengapa mengangkat diagnosa hambatan mobilitas fisik pada pasien Post Sectio Caesarea karena pada pasien Post Sectio Caesarea memerlukan perawatan yang maksimal. Pengembalian fungsi fisik pasien Post Sectio Caesarea dilakukan segera setelah operasi dengan latihan mobilitas fisik. Pemberian asuhan keperawatan pada pasien Post Sectio Caesarea menjadi masalah keperawatan utama yang harus diselesaikan adalah melatih pasien melakukan mobilitas fisik dengan kekuatan yang ada pada pasien (miring kanan dan miring kiri, duduk, serta berjalan) agar tidak terjadi masalah lain : kenaikan suhu tubuh, peredaran darah tidak lancar dan tubuh menjadi lemas. Komplikasi yang timbul setelah dilakukannya Sectio Caesarea pada ibu seperti nyeri pada daerah insisi, potensi terjadinya thrombosis, potensi terjadinya penurunan kemampuan fungsional, penurunan elastisitas otot perut dan otot dasar panggul, perdarahan,luka kandung kemih, infeksi, bengkak pada ekstremitas bawah, dan gangguan laktasi (Kurniawati, 2008).
Berdasarkan uraian di atas maka penulis tertarik untuk membuat Karya Tulis Ilmiah dengan judul “Asuhan Keperawatan Hambatan Mobilitas Fisik pada Ny. S Dengan Post Sectio Caesarea Indikasi Disproporsi Kepala Panggul (DKP) Di Ruang Teratai RSUD Hj Anna Lasmanah Banjarnegara.


URL : https://repository.uhb.ac.id/index.php?p=show_detail&id=2212
APA Citation
. (2018). Asuhan Keperawatan Hambatan Mobilitas Fisik pada Ny. S Dengan Post Sectio Caesarea Indikasi Disproporsi Kepala Panggul (DKP) Di Ruang Teratai RSUD Hj Anna Lasmanah Banjarnegara. (Digital collection of academic papers, undergraduate thesis & research). Retrieved from https://repository.shb.ac.id




© 2018. UPT Perpustakaan - Universitas Harapan Bangsa, Formerly STIKes Harapan Bangsa Purwokerto, www.uhb.ac.id.
This software and this template are released Under GNU GPL License Version 3 II SLiMS distro version ETD
Made by The Happy Team :-D
web
statistics

SHB YPDP


https://103.189.235.100/

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor