Demam thypoid merupakan masalah kesehatan yang sangat penting di negara berkembang. Demam thypoid merupakan penyakit infeksi akut pada saluran pencernaan yang berpotensi menjadi penyakit multi sistemik yang disebabkan oleh Salmonella typhy. Penyakit ini sangat erat kaitannya dengan kualitas kebersihan pribadi dan sanitasi lingkungan seperti lingkungan kumuh, kebersihan tempat umum yang kurang serta perilaku masyarakat yang tidak mendukung untuk hidup sehat (Muttaqin & Sari, 2011).
Demam merupakan peningkatan suhu tubuh diatas batas normal antara 36-37oC. Terjadinya peningkatan suhu tubuh pada penderita dengan demam thypoid disebabkan oleh adanya reaksi kuman salmonella yang masuk kedalam tubuh, kemudian kuman berkembang biak dan masuk ke peredaran darah kembali (Asmadi, 2008).
Kebutuhan pengaturan suhu tubuh merupakan kebutuhan dasar secara fisiologis. Pada dasarnya kebutuhan fisiologis merupakan hal yang perlu dan penting untuk bertahan hidup, manusia memiliki delapan macam kebutuhan salah satunya temperatur. Temperatur tubuh diluar rentang normal dapat menimbulkan kerusakan efek yang permanen seperti kerusakan otak sehingga menimbulkan kematian. Masalah Hipertermia
adalah suatu masalah yang harus dipenuhi, maka apabila terjadi demam harus segera diatasi. Demam yang tidak segera diatasi atau berkepanjangan akan menyebabkan kejang, dehidrasi bahkan terjadi syok. Penatalaksanaan untuk mengatasi hipertermia yaitu anjurkan banyak minum, anjurkan banyak istirahat, beri obat penurun panas, dan beri kompres hangat di beberapa bagian tubuh seperti ketiak, lipatan paha, leher belakang (Corpenito, 2011).
Menurut data World Health Organitation (WHO) memperkirakan angka insidensi demam di seluruh dunia sekitar 17 juta jiwa per tahun, angka kematian akibat demam thypoid mencapai 600.000 dan 70% terjadi di Asia. Penyakit thypoid bersifat endemik, menurut WHO angka penderita demam thypoid di Indonesia mencapai 81% per 100.000 (Depkes RI, 2013). Angka kejadian demam thypoid di Indonesia diperkirakan rata-rata 900.000 kasus pertahun dengan lebih dari 20.000 kematian. Berdasarkan profil kesehatan Indonesia tahun 2015 jumlah kejadian demam thypoid dan parathypoid di rumah sakit adalah 80.000 kasus pada penderita rawat inap dan 1.013 diantaranya meninggal dunia. Tahun 2016 penderita demam thypoid dan paratyphoid sejumlah 41.000 kasus pada penderita rawat inap dan jumlah pasien meninggal dunia sebanyak 276 jiwa. Hasil telah kasus di rumah sakit besar di Indonesia menunjukkan adanya kecenderungan penurunan jumlah kasus thypoid dari tahun ke tahun dengan rata-rata kesakitan 500-100.000 penduduk dan kematian diperkirakan sekitar 0,6-5 (Purba et al., 2015).
Data yang diperoleh dari catatan rekam medik RSUD dr R Goeteng Taroenadibrata Purbalingga pada tahun 2015 didapatkan jumlah kasus sebanyak 2112, pada tahun 2016 didapatkan jumlah kasus sebanyak 2662, dan pada tahun 2017 didapatkan jumlah kasus sebanyak 2019.
Berdasarkan latar belakang dan data diatas demam thypoid dengan masalah hipertermia masih tinggi, sehingga penulis tertarik untuk menyusun karya tulis ilmiah yang berjudul “Asuhan Keperawatan Hipertermia Pada Ny. M dengan Demam Thypoid di Ruang Lavender RSUD dr. R. Goeteng Troenadibrata Purbalingga” agar penulis mengetahui bagaimana asuhan keperawatan pada pasien tersebut dan bertujuan untuk mengurangi angka pasien yang menderita demam thypoid.
URL : https://repository.uhb.ac.id/index.php?p=show_detail&id=2214
APA Citation
. (2018). Asuhan Keperawatan Hipertermia Pada Ny. M dengan Demam Thypoid di Ruang Lavender RSUD dr. R. Goeteng Troenadibrata Purbalingga. (Digital collection of academic papers, undergraduate thesis & research). Retrieved from https://repository.shb.ac.id