homescontents
homescontents

Repository Universitas Harapan Bangsa.
Digital collection of academic papers, undergraduate thesis, research

Repository Universitas Harapan Bangsa.
Digital collection of academic papers, undergraduate thesis, research


Detail Cantuman

Kembali

asuhan keperawatan pada pasien dengan apendisitis

XML
Pengarang
Vivin Alfania Sarianti - Personal Name
Pernyataan Tanggungjawab
Lampiran Berkas
LOADING LIST...
Bahasa
Indonesia
Penerbit
STIKES Harapan Bangsa
Tahun Terbit
2018
Tempat Terbit
Fakultas Ilmu Kesehatan SHB
Deskripsi Fisik

Abstract

Apendiks merupakan ujung seperti jari yang kecil panjangnya kira-kira 10cm 94 inci, melekat pada sekum tepat di bawah katup ileosekal. Apendiks berisi makanan dan mengosongkan diri secara teratur ke dalam sekum. Apendiks yang pengosongannya tidak efektif dan lumennya kecil, cenderung menjadi tersumbat dan rentan terhadap infeksi. Apendisitis merupakan peradangan pada apendiks (umbai cacing). Kira-kira 7% populasi akan mengalami apendisitis pada waktu yang bersamaan dalam hidup mereka. Pria lebih cenderung terkena apendisitis dibanding wanita. Apendisitis lebih sering menyerang pada usia 10 sampai 30 tahun (Haryono, 2012).
Berdasarkan data dunia di negara-negara berkembang menurut World Health Organization (WHO, 2014), pada beberapa negara berkembang memiliki prevalensi yang tinggi seperti Singapura berjumlah 15% pada anak-anak 16,5% pada orang dewasa, sedangkan Thailand 7% pada anak-anak dan orang dewasa 10%.
Sementara untuk Indonesia sendiri pada data Biro Pusat Statistik (BPS, 2014) menyatakan tingkat kejadian kasus apendisitis dari 140 orang kasus apendisitis per 100.000 jiwa. Pada tingkat kejadian terendah kasus apendisitis ditemukan pada usia 0-4 tahun, sedangkan tertinggi ditemukan pada usia 15-34 tahun. Dari semua kasus apendisitis di Indonesia menempati peringkat tertinggi diantara kegawatan pada abdomen. Dari hasil penelitian sebelumnya bahwa angka kejadian kasus apendisitis Indonesia hingga saat ini, merupakan kasus tertinggi. Jumlah pasien yang menderita apendisitis berjumlah 7% dari jumlah penduduk Indonesia atau sekitar 179.000 jiwa (Amalia & Susanti, 2014 dalam Novriyenti, 2016).
Berdasarkan data Rekam Medik di RSUD HJ. Anna Lasmanah Banjarnegara, selama tahun 2016 jumlah pasien penderita apendisitis ada sebanyak 308 pasien. Terdiri dari 217 pasien dengan rawat jalan dan 91 pasien dengan rawat inap. Pada tahun 2017 terjadi peningkatan yaitu sebanyak 371 pasien. Terdiri dari 278 pasien dirawat jalan dan 93 pasien dirawat inap.
Apendisitis dapat disebabkan oleh beberapa sebab terjadinya proses radang bakteria yang dicetuskan oleh beberapa faktor pencetus diantaranya hiperplasia jaringan limfe, fekalith, tumor apendiks, dan cacing askaris yang menyumbat. Ulserasi mukosa merupakan tahap awal dari kebanyakan penyakit ini (Haryono, 2012).
Serangan akut apendisitis biasanya dimulai dengan nyeri abdomen menyeluruh yang parah dan progresif. Kemudian, nyeri dan nyeri tekan akan terlokalisasi di kuadran kanan bawah pada pertengahan antara umbilikus dan krista ilium (titik McBurney). Serangan apendisitis dapat mereda dan kemudian timbul kembali.Ultrasound sering kali dapat mendiagnosis pembesaran apendiks. Nyeri pantul biasanya muncul ketika pemeriksa dengan cepat melepaskan tekanan selama palpasi, nyeri menjadi lebih tajam daripada ketika tekanan diberikan langsung pada sisi yang ditekan.Kualitas nyeri tekan berhubungan dengan lokasi apendiks yang tepat. Biasanya mual, muntah, demam ringan hingga demam sedang dan peningkatan leukosit menyertai nyeri. Apendiks yang ruptur akan menyebabkan gejala yang lebih berat yang berhubungan dengan peritonitis (Rosdahl, 2014).
Komplikasi utama apendisitis adalah perforasi apendiks yang dapat berkembang menjadi peritonitis atau abses. Perforasi jarang terjadi dalam 8 jam pertama, observasi aman untuk dilakukan masa tersebut. Tanda-tanda perforasi meliputi meningkatnya nyeri, spasme otot dinding perut kuadran kanan bawah dengan tanda peritonitis umum, ileus, demam. Bila terjadi peritonitis umum terapi spesifik yang dilakukan adalah operasi untuk menutup asal perforasi. Bila terbentuk abses apendiks akan teraba massa di kuadran kanan bawah yang cenderung menggelembung ke arah rektum atau vagina. Komplikasi lain yaitu dehidrasi, sepsis, dan pneumoni (Dermawan & Rahayuningsih, 2010).
Pembedahan apendiktomi diindikasikan apabila apendisitis telah ditegakkan dan harus segera dilakukan untuk mengurangi risiko perforasi (Smeltzer, 2013). Apendiktomi merupakan pengangkatan terhadap apendiks terimplamasi dengan prosedur atau pendekatan endoskopi (Haryono, 2012). Komplikasi yang terjadi pasca operasi yaitu infeksi luka operasi, untuk mencegah terjadinya komplikasi tindakan yang dilakukan yaitu dengan memberikan nutrisi yang adekuat, penggantian balutan dan terapi intravena (IV) (Rosdahl & Kowalski, 2017).
Pengkajian dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya komplikasi dan keberhasilan operasi. Adapun yang harus dikaji pada pasien appendisitis akut pasca atau post operasi yaitu adanya nyeri tekan abdomen, demam, muntah, kekakuan abdomen, dan takikardi, dimungkinkan terjadi peritonitis. Anoreksia, menggigil, demam, diaforesis, diare yang menunjukkan abses pelvis, abses subfrenik (abses di bawah diafragma) atau lumbal (Dermawan dan Rahayuningsih, 2010). Apendiktomi dapat terjadi berbagai masalah keperawatan salah satunya adalah nyeri akut, karena distensi jaringan usus oleh inflamasi dan insisi pembedahan pada apendiktomi (Haryono, 2012). Nyeri pasien diakibatkan karena tindakan pembedahan atau operasi dapat menghambat proses penyembuhan pasien karena menghambat kemampuan pasien untuk terlibat aktif dalam proses penyembuhan dan meningkatkan resiko komplikasi akibat imobilisasi sehingga rehabilitasi dapat tertunda dan hospitalisasi menjadi lama jika nyeri akut tidak terkontrol sehingga harus menjadi prioritas perawatan (Agung, 2013).
Penanganan nyeri akut dapat dilakukan berbagai macam cara dilaksanakan dengan cara farmakologis dan non farmakologis. Dengan cara farmakologi dilakukan secara berkolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat-obatan mencakup penggunaan opioid (narkotik), obat-obatan anti inflamasi nonopioid/nonsteroid (NSAIDS), dan analgesik penyerta, atau koanalgesik. Sedangkan dengan cara non farmakologi mencakup stimulasi kutaneus, imobilisasi, stimulasi saraf elektrik transkutan (TENS), akupuntur, teknik distraksi, teknik relaksasi, imajinasi, meditasi, umpan balik biologis, hipnosis (Kozier et al., 2010).
Asuhan keperawatan pada pasien apendisitis ditangani dengan memberikan infus untuk mencegah dehidrasi, tidak memberikan obat pencahar atau enema yang dapat menimbulkan ruptur apendiks, memberikan obat analgetik dengan pertimbangan yang cermat karena obat ini dapat menyamarkan keluhan serta gejala apendisitis. Untuk mengurangi rasa nyeri tempatkan pasien pada posisi semifowler. Tidak melakukan kompres hangat pada abdomen kanan bawah karena dapat menimbulkan ruptur apendiks. Kompres dingin dengan kantung es dapat dilakukan untuk mengurangi rasa nyeri (Kowalak, 2011).
Penanganan pasien apendisitis di RSUD HJ. Anna Lasmanah dengan pemberian infus dan untuk memulihkan keadaan dehidrasi yang mungkin terjadi karena mual dan muntah, diberikannya antibiotik dan pereda nyeri, selanjutnya dilakukan operasi (apendiktomi). Sebelum dilakukan operasi, pasien dipuasakan terlebih dahulu sampai operasi dilakukan kurang lebih 8 jam sebelum operasi. Pasien diposisikan fowler untuk mengurangi rasa nyeri. Setelah dilakukan operasi, pasien dilarang untuk bergerak termasuk miring kanan dan miring kiri setelah 24 jam post operasi. Pasien akan dirawat sampai pasien diperbolehkan pulang. Selama dirawat pasien mendapatkan antibiotik, pereda nyeri dan dilakukan perawatan luka untuk mencegah infeksi.
Berdasarkan hal tersebut diatas maka dari itu, penulis tertarik mengambil kasus apendisitis sebagai Karya Tulis Ilmiah, dengan alasan agar penulis bisa memberikan asuhan keperawatan pada pasien dengan apendisitis secara baik.


URL : https://repository.uhb.ac.id/index.php?p=show_detail&id=2226
APA Citation
. (2018). asuhan keperawatan pada pasien dengan apendisitis. (Digital collection of academic papers, undergraduate thesis & research). Retrieved from https://repository.shb.ac.id




© 2018. UPT Perpustakaan - Universitas Harapan Bangsa, Formerly STIKes Harapan Bangsa Purwokerto, www.uhb.ac.id.
This software and this template are released Under GNU GPL License Version 3 II SLiMS distro version ETD
Made by The Happy Team :-D
web
statistics

SHB YPDP


https://103.189.235.100/

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor