Lansia sering mengalami gangguan yang disebabkan karena proses penuan, salah satunya mengalami gangguan pada persendian seperti menderita penyakit gout artritis. Penyakit gout artritis merupakan sejenis penyakit yang menyerang sendi otot atau peradangan pada sendi otot. Faktor pemicunya yaitu genetik, hormonal, pola makan kurang baik seperti mengkonsumsi jeroan, kepiting, kerang, keju, kacang tanah, bayam, buncis, kembang kol secara berlebih sehingga terjadi penumpukan purin (Afridah dan Dewi, 2017).
Penyakit gout artritis terjadi terutama pada laki-laki, mulai dari usia pubertas hingga mencapai puncak usia 40-50 tahun, sedangkan pada perempuan, persentase gout artritis mulai didapati setelah memasuki masa menopause. Kadar gout artritis pada pria meningkat sejalan dengan peningkatan usia seseorang. Hal ini terjadi karena pria tidak memiliki hormon estrogen yang dapat membantu pembuangan zat purin, sedangkan pada perempuan memiliki hormon estrogen yang ikut membantu pembuangan zat purin melalui urine (Soekanto, 2012).
Berdasarkan hasil riset kesehatan dasar (Riskesdas) tahun 2013 angka kejadian gout artritis di Indonesia mencapai 11.9%, dan di Jawa Tengah 11,2%, akan tetapi dari hasil survei epidemiologik yang dilakukan di Jawa Tengah atas kerjasama terhadap 4683 sampel berusia 15-45 tahun, didapatkan prevalensi gout artritis sebesar 24,3% (Nengsi dkk, 2014).
Penyakit gout artritis masih menjadi masalah utama dalam dunia kesehatan, dibuktikan dari berbagai komplikasi penyakit gout artritis seperti gagal ginjal, batu ginjal dan lain-lain masih cukup tinggi. Hal ini dipengaruhi oleh kurangnya kesadaran masyarakat dalam memperhatikan kesehatan, seperti masih banyak masyarakat yang mengkonsumsi makanan tanpa memperhatikan kandungan dari makanan tersebut. Faktor aktivitas yang berlebihan juga dapat memperburuk dan mendukung adanya komplikasi penyakit gout artritis (Damayanti, 2012).
Penanganan penyakit gout artritis secara umum yang dilakukan adalah memberikan edukasi, pengaturan diet, istirahat sendi dan pengobatan yang memadai (Nofriga, 2017).
Secara garis besar ada dua manajemen untuk mengatasi nyeri yaitu manajemen farmakologi dan manajemen non farmakologi. Salah satu cara menurunkan nyeri pada pasien gout secara non farmakologi adalah diberikan kompres hangat atau dingin untuk mengurangi nyeri dan terapi herbal untuk menurunkan kadar purin (Zakhiah, 2015).
Metode penulisan yang dilakukan dengan menggunakan pendekatan menurut Nursalam (2011) meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan, intervensi, implementasi keperawatan, evaluasi dan dokumentasi keperawatan. Metode pengumpulan data dengan cara wawancara atau komunikasi, observasi, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan diagnostik.
Pengkajian keperawatan ialah tindakan utama yang dilakukan sebelum melakukan asuhan keperawatan. Tujuan pengkajian ini antara lain untuk menentukan rencana tindakan perawatan yang akan dilakukan pada klien, menentukan kemampuan klien untuk memelihara diri sendiri, membantu mengidentifikasi dan mengenali masalah-masalah yang dihadapi klien, pengkajian ini dimulai dari pengumpulan data, analisis data, perumusan masalah, dan prioritas masalah (Tanujaya, 2009).
Panti Dewanata merupakan salah satu tempat dimana para lanjut usia tinggal untuk meneruskan sisa hidupnya dengan berbagai alasan yang mendasari. Gout artritis merupakan salah satu masalah kesehatan yang sering dikeluhkan oleh para lansia. Berdasarkan hasil pengkajian yang dilakukan oleh penulis pada tanggal 14 November 2017 dari total lansia sebanyak 100 jiwa terdapat 4 orang yang mengalami gout artritis.
Berdasarkan data diatas, maka penulis tertarik untuk mengambil kasus gout artritis sebagai Karya Tulis Ilmiah (KTI) dengan alasan agar penulis dapat memberikan asuhan keperawatan pada klien dengan kasus gout artritis dengan baik.
. (2018). asuhan keperawatan pada klien dengan kasus gout artritis. (Digital collection of academic papers, undergraduate thesis & research). Retrieved from https://repository.shb.ac.id