Pertambahan jumlah lansia di beberapa negara, salah satunya Indonesia telah mengubah profil kependudukan baik nasional maupun dunia. Hasil sensus penduduk tahun 2010 menunjukan bahwa jumlah penduduk lansia di Indonesia berjumlah 18,57 juta jiwa, meningkat sekitar 7,93% dari tahun 2000 yang sebanyak 14,44 juta jiwa. Diperkirakan jumlah penduduk lansia di Indonesia akan terus bertambah sekitar 450.000 jiwa pertahun. Dengan demikian, pada tahun 2025 jumlah penduduk lansia di Indonesia akan sekitar 34,22 juta jiwa (Badan Pusat Statistik, 2010)
Perubahan-perubahan akan terjadi pada tubuh manusia sejalan dengan makin meningkatnya usia. Perubahan tubuh terjadi sejak awal kehidupan hingga usia lanjut pada semua organ dan jaringan tubuh. Keadaan demikian itu tampak pula pada semua sistem muskuloskeletal dan jaringan lain yang ada kaitannya dengan kemungkinan timbulnya beberapa artritis rematoid. Salah satu golongan penyakit artritis rematoid yang sering menyertai usia lanjut yang menimbulkan gangguan muskuloskeletal terutama adalah osteoarthritis. Kejadian penyakit tersebut akan semakin meningkat sejalan dengan meningkatnya usia manusia. Artritis rematoid dapat mengakibatkan perubahan perubahan otot, hingga fungsinya dapat menurun bila otot pada bagian yang menderita tidak dilatih guna mengaktifkan fungsi otot. Dengan meningkatnya usia menjadi tua (menua) fungsi otot dapat dilatih dengan baik. Namun usia lanjut tidak selalu mengalami atau menderita artritis rematoid. Bagaimana timbulnya kejadian artritis rematoid ini, sampai sekarang belum sepenuhnya dapat dimengerti (Darmojo dan Martono, 2009)
Pada lansia mengalami proses degenerasi yang disertai oleh berbagai penderitaan akibat bemacam penyakit yang menyertai proses menua. Salah satu penyakit yang sering di derita pada lansia adalah artritis rematoid. Artritis reumatoid adalah penyakit inflamasi kronis dan sistemik yang simetris, yang terutama menyerang sendi perifer dan otot, tendon, ligamen, dan pembuluh darah disekitarnya. Remisi spontan dan eksaserbasi yang tidak dapat diperkirakan menandai jalannya penyakit yang mengakibatkan kecacatan ini (Stockslager, 2007)
Artritis rematoid dapat menyerang semua sendi, tetapi yang paling sering diserang adalah sendi dipergelangan tangan, kuku-kuku jari, lutut dan engkel kaki. Sendi-sendi yang lain mungkin diserang termasuk sendi ditulang belakang, pinggul, leher, bahu, dan bahkan sampai ke sambungan antara tulang kecil dibagian telinga dalam. Artritis rematoid juga mempengaruhi organ tubuh bagian dalam seperti jantung, pembuluh darah, kulit, dan paru-paru. Serangan artritis rematoid biasanya simetris yaitu menyerang sendi yang sama di kedua sisi tubuh (Haryono, 2013)
Penyakit artritis rematoid dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti, gaya hidup kurang sehat, kurang gerak dan olahraga, serta pengetahuan mengenai pencegahan artritis rematoid yang kurang. Self care lansia yang menderita artritis rematoid di identifikasikan sebagai tindakan yang berkaitan dengan upaya atau kegiatan lansia untuk memberbaiki dan meningkatkan kesehatannya, seperti perbaikan nutrisi dan olahraga teratur, istirahat cukup, obat-obatan untuk meningkatkan dan memulihkan penyakitnya. Dalam pemulihan penyakit artritis rematoid diperlukan tindakan keperawatan mandiri. Untuk mencapai itu diperlukan peran perawat gerontik yaitu memberikan asuhan keperawatan secara langsung kepada lansia dan dengan pemberian nasehat, dengan memberikan bantuan terhadap lansia.
Kegiatan asuhan keperawatan dasar bagi lansia menurut Departemen kesehatan, dimaksudkan untuk memberikan bantuan, bimbingan pengawasan, perlindungan dan pertolongan kepada lanjut usia secara individu maupun kelompok, seperti di rumah/lingkungan keluarga, Panti Wreda maupun Puskesmas, yang diberikan oleh perawat. Untuk asuhan keperawatan yang masih dapat dilakukan oleh anggota keluarga atau petugas sosial yang bukan tenaga keperawatan, diperlukan latihan sebelumnya atau bimbingan langsung pada waktu tenaga keperawatan melakukan asuhan keperawatan di rumah atau panti. Adapun asuhan keperawatan dasar yang diberikan, disesuaikan pada kelompok lanjut usia, apakah lanjut usia aktif atau pasif, untuk lanjut usia yang masih aktif asuhan keperawatan dapat berupa dukungan tentang personal hygiene sedangkan untuk lanjut usia yang mengalami pasif yang tergantung pada orang lain perlu diperhatikan lebih dalam memberikan asuhan keperawatan pada lanjut usia pasif dengan bantuan penuh oleh anggota keluarga atau petugas (Darmojo dan Martono, 2009).
Nyeri pada penderita artritis rematoid dapat dikurangi salah satu caranya adalah terapi non farmakologi kompres jahe karena jahe memiliki kandungan enzim siklo-oksigenase yang dapat mengurangi peradangan pada penderita artritis rematoid, selain itu jahe juga memiliki efek farmakologis yaitu rasa panas dan pedas, dimana dapat meredakan rasa nyeri, kaku, dan spasme otot atau terjadinys vasodilatasi pembuluh darah, manfaat ysng maksimal akan dicapai dalam waktu 20 menit setelah aplikasi panas (Brunner dan Suddarth, 2013).
Menurut WHO (Word Health Organization) tahun 2013, di kawasan Asia Tenggara populasi lansia sebesar (8%) atau sekitar 14,2 juta jiwa. pada tahun 2000 jumlah lansia sekitar 15,3, sedangkan pada tahun 2005-2010 jumlah lansia akan sama dengan jumlah anak balita, yaitu sekitar 19,3 (±9%) juta jiwa dari total populasi. Pada tahun 2020 diperkirakan jumlah lansia mencapai 28,8 juta jiwa (11,34%) dari total populasi. Di Indonesia akan menduduki peringkat Negara dengan struktur dan jumlah penduduk lanjut usia setelah RRC, India dan Amerika serikat dengan harapan hidup di atas 70 tahun. Menurut WHO tahun 2013 mencatat angka kejadian artritis rematoid di dunia mencapai 20% dari penduduk dunia yang telah terserang penyakit artritis rematoid, dimana 5-10% adalah mereka yang berusia 5-20 tahun dan 20% adalah mereka yang berusia 55 tahun, hasil riset kesahatan dasar Indonesia tahun 2013 prevalensi penyakit sendi adalah 11,9% dan kecenderungan prevalensi penyakit sendi/artritis rematoid 24,7% (Wiyono, 2013).
Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang dilakukan penulis didapatkan hasil observasi dengan 10 lansia penderita artritis rematoid di Wisma Balai Pelayanan Sosial Lanjut Usia Dewanata Cilacap mengeluh nyeri pada kaki, kekakuan pada sendi, nyeri yang di rasakan seperti ditusuk-tusuk, bertambah nyeri saat beraktivitas, tiga orang lansia tersebut merasa kelelahan setelah beraktivitas meskipun hanya beraktivitas ringan. Mereka semua mengatakan tidak mengkonsumsi obat secara rutin untuk menghilangkan rasa nyerinya karena keterbatasan obat. Jika lansia merasakan sakit hanya meminta obat kepada petugas Wisma Balai Pelayanan Sosial Lanjut Usia Dewanata Cilacap. Lansia hanya mengolesi balsam pada sendi yang sakit dan itu pun tidak dilakukan setiap hari
Berdasarkan data diatas, serta masih banyaknya angka-angka kejadian artritis Reumatoid maka penulis tertarik untuk mengelola pasien dengan artritis rematoid sebagai asuhan keperawatan yang berjudul “Asuhan Keperawatan Nyeri Akut pada Tn. S Dengan Atritis Reumatoid di Wisma Ratih Panti Pelayanan Sosial Lanjut Usia Dewanata Cilacap.
URL : https://repository.uhb.ac.id/index.php?p=show_detail&id=2228
APA Citation
. (2018). Asuhan Keperawatan Nyeri Akut pada Tn. S Dengan Atritis Reumatoid di Wisma Ratih Panti Pelayanan Sosial Lanjut Usia Dewanata Cilacap. (Digital collection of academic papers, undergraduate thesis & research). Retrieved from https://repository.shb.ac.id