Era globalisasi membawa pengaruh yang sangat besar tidak hanya dalam bidang ekonomi tetapi juga dalam bidang kesehatan. Salah satunya adalah penyakit diabetes melitus (DM) yang merupakan jenis penyakit yang tidak menular. Peningkatan jumlah diabetes yang cukup tinggi di picu oleh gaya hidup yang tidak sehat di tandai konsumsi makanan seperti makanan instan, juga gerak fisik yang minim dilakukan. Gaya hidup seperti ini mudah menimbulkan kegemukan (obesitas). Dengan berat badan berlebih, resiko seseorang terkena diabetes mellitus juga semakin meningkat (Maulana, 2009).
Angka kejadian DM menurut data Riskesdas (2013) terjadi peningkatan dari 1,1 % di tahun 2007 meningkat menjadi 2,1 % di tahun 2013 dari keseluruhan penduduk sebanyak 250 juta jiwa. Menurut profil kesehatan provinsi Jawa Tengah (2016) jumlah penderita diabetes melitus di Jawa Tengah mencapai 154.972 jiwa, dengan jumlah penderita diabetes melitus tipe 1 sebanyak 35.572 jiwa sedangkan jumlah penderita diabetes melitus tipe 2 sebanyak 119.400 jiwa.
Di kabupaten Banyumas pada tahun 2016, angka kejadian DM mencapai 1.939 jiwa, dengan jumlah penderita diabetes mellitus tipe 1 sebanyak 341 jiwa sedangkan jumlah penderita diabetes mellitus tipe 2 sebanyak 1.598 jiwa (Profil kesehatan provinsi Jawa Tengah, 2016).
Diabetes melitus merupakan penyakit metabolisme yang ditandai dengan meningkatnya kadar glukosa darah (glukosa) seseorang di dalam tubuh yang tinggi melebihi batas normal (hyperglycemia). Kadar gula yang tinggi dikeluarkan melalui air seni (urine), sehingga air seni mengandung gula atau manis sehingga disebut sebagai penyakit kencing manis. Kencing manis pada akhirnya bisa menimbulkan komplikasi baik akut maupun kronis (Marewa, 2015).
Pada penyakit diabetes melitus terjadi kekurangan insulin apabila pankreas tidak menghasilkan sama sekali insulin atau menghasilkan insulin, tetapi dalam jumlah yang tidak cukup, misalnya terjadi pada DM tipe 1. Dengan kekurangannya insulin di dalam tubuh maka kadar gula darah di dalam tubuh naik, kondisi ini biasa dinamakan hiperglikemia (Baradero, 2009).
Menurut Digiulio (2014) digolongkan berdasarkan klasifikasi DM yaitu Gejala klinis pada DM tipe II ialah serangan lambat karena sedikit insulin diproduksi. Adanya Peningkatan rasa haus dan minum (Polidipsi), banyak kencing atau Urinasi meningkat (polyuria) karena tubuh berusaha membuang glukosa dan Infeksi candida karena bakteri hidup dari kelebihan glukosa, dan Penyembuhan tertunda/ lama karena naiknya kadar glukosa di dalam darah menghalangi proses kesembuhan.
Menurut Sujono (2011) DM mempunyai etiologi yang heterogen, akan tetapi determinan genetik biasanya memegang peranan penting pada mayoritas penderita DM. Faktor lain yang dianggap sebagai kemungkinan etiologi dari penyakit DM, yaitu Kelainan sel β pankreas, berkisar dari hilangnya sel β sampai kegagalan sel β melepas insulin, Faktor-faktor lingkungan yang mengubah fungsi sel β, antara lain agen yang dapat menimbulkan infeksi, diet dimana pemasukan karbohidrat dan gula yang diproses secara berlebihan, obesitas dan kehamilan, Gangguan sistem imunitas, respon abnormal dimana antibodi terarah pada jaringan normal tubuh dengan cara bereaksi terhadap jaringan tersebut yang dianggapnya seolah-olah jaringan asing.
Upaya penatalaksanaan DM ada empat pilar utama dimulai dengan pendekatan non farmakologi yaitu berupa pemberian edukasi diabetik, perencanaan makan/diet, olahraga serta obat antidiabetik (Waspadji, 2011). Menurut Krisnatuti et al., (2014) ada beberapa jenis pangan yang harus dibatasi atau dihindari oleh penderita diabetes melitus, diantaranya yaitu: Makanan yang mengandung banyak gula sederhana, makanan yang mengandung banyak lemak, mengandung banyak natrium.
Menurut Whall (1986) dalam Friedman (2010) mengidentifikasi keluarga sebaagai sebuah kelauarga yang mengidrntifikasi diri dan terdiri atas dua individu atau lebih yang memiliki hubungan khusus, yang dapat terkait hubungan darah atau hukum atau dapat juga tidak, namun berfungsi sedemikian rupa sehingga mereka menganggap dirinya sebagai keluarga.
Harmoko (2009) mengukapkan bahwa asuhan keperawatan keluarga adalah merupakan proses yang komplek dengan menggunakan pendekatan sistematis untuk bekerja sama dengan keluarga dan individu sebagai anggota keluarga. Dimana tujuan dari keperawatan keluarga itu sendiri yaitu meningkatkan kesadaran, keinginan dan kemampuan keluarga dalam meningkatkan, mencegah, memelihara kesehatan mereka sampai tahap optimal dan mampu melaksanakan tugas-tugas mereka secara produktif (Zaidin, 2009).
Fungsi perawatan keluarga yaitu keluarga menyediakan makanan, pakaian, perlindungan, dan asuhan kesehatan/keperawatan. Kemampuan keluarga melakukan asuhan keperawatan atau pemeliharaan kesehatan mempengaruhi status kesehatan kelauarga (Harmoko, 2012).
Ketidakefektifan Pemeliharaan Kesehatan merupakan ketidak mampuan mengidentifikasi, mengelola, dan/atau mencari bantuan untuk mempertahankan kesehatan (Heardman, T. Heather. 2015 - 2017).
Berdasarkan data yang di dapat di bagian rekam medik puskesmas kedungbanteng 2015 - 2017 prevalensi orang yang mengalami Diabetes Mellitus di desa kalikesur sebanyak 10 orang yang terjadi di sebabkan karna pola hidup yang kurang baik dan kurang menjaga pola makan yang baik dalam kehidupan sehari-hari.
Sehubung dengan latar belakang masalah di atas, maka penulis tertarik untuk melaksanakan asuhan keperawatan keluarga dengan Diabetes Mellitus pada Ny.T di desa kalikesur. Penulis akan melakukan asuhan keperawatan keluarga secara komprehensif dan sistematis.
URL : https://repository.uhb.ac.id/index.php?p=show_detail&id=2231
APA Citation
. (2018). asuhan keperawatan keluarga dengan Diabetes Mellitus pada Ny.T di desa kalikesur. (Digital collection of academic papers, undergraduate thesis & research). Retrieved from https://repository.shb.ac.id