Secara umum hernia sering terjadi pada orang yang sudah lanjut usia, karena pada usia lanjut dinding otot polos abdomen sudah lemah, sehingga sangat berpeluang terjadinya hernia. Penyebab penyakit hernia yaitu dengan bekerja berat untuk memenuhi kebutuhan seperti mengangkat benda berat atau pekerjaan berat, kebiasaan mengkonsumsi makanan kurang serat, yang dapat menyebabkan konstipasi sehingga mendorong mengejan saat defekasi (Hidayati 2009).
Menurut World Health Organization (WHO) usia dikelompokkan berdasarkan tingkatnya, bayi dan anak-anak 0-14 tahun, dewasa 15-59 tahun, sedangkan lansia 59 tahun keatas. Berdasarkan data yang dikemukakan bahwa insiden hernia inguinalis diperkirakan diderita oleh 15% populasi dewasa, 5-8% pada rentan usia 25-40 tahun, dan mencapai 45% pada usia 75 tahun. Dalam usia tua dikenal sindrom gagal pulih muncul secara bertahap dimulai dari malnutrisi dengan hilangnya jaringan lemak dan otot, penurunan fungsi fisik dan kognitif, menurunnya nafsu makan dan makin menarik diri dari aktifitas social, dengan melemahnya fungsi otot menyebabkan masalah pada lansia salah satunya adalah hernia akibat dari melemahnya otot pada abdomen (Martono et all., 2009). Secara umum, kejadian hernia inguinalis lebih banyak diderita oleh laki-laki daripada perempuan. Angka perbandingan kejadian hernia inguinalis 13,9% pada laki-laki dan 2,1% pada perempuan (Ruhl, 2007).
Di Indonesia hernia menempati urutan ke delapan dengan jumlah 291.145 kasus. Untuk data di Jawa Barat, mayoritas penderita selama bulan Januari-Desember 2007 diperkirakan 1425 penderita. Peningkatan angka kejadian Penyakit Hernia Inguinalis Lateralis di Indonesia khususnya Provinsi Jawa Barat bias disebabkan karena ilmu pengetahuan dan teknologi semakin berkembang dengan pesat, sejalan dengan hal tersebut, maka permasalahan manusiapun semakin kompleks, salah satunya yaitu kebutuhan ekonomi yang mendesak. Hal tersebut menuntut manusia untuk berusaha memenuhi kebutuhannya dengan usaha yang ekstra, tentunya itu mempengaruhi pola hidup dan kesehatannnya yang dapat menyebabkan kerja tubuh yang berat yang dapat menimbulkan kelelahan da kelemahan dari berbagai organ tubuh (Sugeng & Weni,2010).
Tindakan yang paling memungkinkan untuk terapi hernia inguinalis adalah tindakan pembedahan. Setiap tahun diperkirakan terdapat 20 juta kasus prosedur bedah mengenai hernia inguinalis. Insiden dan pravalensi di seluruh dunia tidak diketahui pasti. Tingkat prosedur operasi dalam berbagai negara memiliki tingkat yang bervariasi, berkisar antara 100 hingga 300 prosedur per 100.000 orang dalam satu tahun (Burney,2012).
Pada penderita dengan post pembedahan mengeluh nyeri. Munculnya nyeri karena ketika bagian tubuh terluka akibat tekanan, potongan, sayatan, atau kekurangan oksigen pada sel, maka bagian tubuh yang terluka akan mengeluarkan berbagai macam subtansi intraseluler yang dilepaskan ke ruang ekstraseluler, sehingga mengiritasi nosiseptor. Saraf ini akan merangsang dan bergerak sepanjang serabut saraf (neurotransmisi) yang akan menghasilkan subtansi yang disebut dengan neurotransmitter, seperti prostaglandin dan epineprin. Selanjuutnya pesan nyeri dari medulla spinalis ditransmisikan ke otak dan dipersepsikan sebagai nyeri (Judha, 2012).
Salah satu rumah sakit di Indonesia yaitu RSUD Goeteng Taroenadibrata Purbalingga terdapat 210 pasien hernia inguinalis dari keseluruhan pasien pada tahun 2015, 262 pasien hernia inguinalis dari keseluruhan pasien pada tahun 2016, dan 206 pasien hernia inguinalis dari keseluruhan pasien pada tahun 2017 (Rekam Medik, 2017).
Hasil pengkajian yang dilakukan penulis di bangsal Dahlia Rumah Sakit Umum Daerah dr. R Goeteng Taroenadibrata Purbalingga pada Tn.K dengan post operasi herniotomi didapatkan data: pasien mengatakan nyeri akibat post operasi, nyeri dirasakan seperti ditusuk-tusuk, dengan skala 6, pada daerah perut, dan muncul saat bergerak. Berdasarkan data dan prevalensi dari berbagai lembaga dunia dan negara yang terdiri dari riskesdes Departemen Kesehatan RI dinas kesehatan Jawa Tengah dan RSUD Goeteng Taroenadibrata Purbalingga terkait dengan hernia inguinal penulis tertarik untuk mengangkat judul karya tulis ilmiah dengan Asuhan Keperawatan Nyeri Akut dengan Post Operasi Herniotomi dengan indikasi Hernia Inguinalis dikarenakan penyakit tersebut merupakan salah satu kasus penyakit yang paling sering muncul di Indonesia.
URL : https://repository.uhb.ac.id/index.php?p=show_detail&id=2232
APA Citation
. (2018). Asuhan Keperawatan Nyeri Akut dengan Post Operasi Herniotomi dengan indikasi Hernia Inguinalis. (Digital collection of academic papers, undergraduate thesis & research). Retrieved from https://repository.shb.ac.id