Asuhan keperawatan Hambatan Mobilitas Fisik pada Ny. S dengan Post Partum Sectio Caesarea (SC) di Ruang Bougenvile RSUD dr. R. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga
Setiap wanita menginginkan persalinannya berjalan secara lancar dan dapat melahirkan bayi dengan sempurna. Ada dua cara persalinan yaitu persalinan lewat vagina yang dikenal dengan persalinan alami dan persalinan
Section Caesarea (SC) yaitu tindakan operasi untuk mengeluarkan bayi dengan melalui insisi pada dinding perut dan dinding Rahim (Wiknjosatro, 2007).
Angka kejadian SC di dunia pada tahun 2010 berdasarkan World Health Organization (WHO) mencapai 10% sampai 15% dari semua proses persalinan. Sedangkan angka kejadian SC di Indonesia berdasarkan data RISKESDAS tahun 2010 adalah 15,3% dari 20.591 ibu yang melahirkan dengan SC. Di Jawa Tengah tercatat 16,6% persalinan SC. Sedangkan di RSUD dr. R. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga menurut data yang ada di Ruang Bougenvile pada bulan april 2018 terdapat 24 ibu melahirkan secara SC.
Salah satu indikasi dilakukannya SC adalah Ketuban Pecah Dini (KPD) adalah pecahnya selaput ketuban sebelum ada tanda-tanda persalinan (Sukarni & Sudarti, 2014). Penyebab dari KPD adalah serviks inkompeten, ketegangan rahim berlebihan seperti pada kehamilan ganda, hidramnion, kelainan letak janin dalam rahim seperti seperti letak sungsang, letak lintang, kemungkinan kesempitan panggul seperti perut gantung, bagian terendah belum masuk Pintu Atas Panggul (PAP), disproporsi sefalopevik, kelainan bawaan dari selaput ketuban dalam bentuk proteolitik sehingga memudahkan ketuban pecah (Yulaikha, 2009).
Komplikasi utama persalinan SC adalah kerusakan organ-organ seperti vesica urinaria dan uterus saat dilangsungkannya operasi, komplikasi anestesi, perdarahan, infeksi, dan tromboemboli. Kematian terbesar terjadi pada persalinan SC dibandingkan persalinan pervaginam. Takipneu sesaat pada bayi baru lahir lebih sering terjadi pada persalinan SC, dan dapat terjadi kejadian trauma persalinan. Resiko jangka panjang yang dapat terjadi adalah plasenta previa, solusio plasenta, plasenta akreta, dan rupture uteri (Rasjidi, 2009).
Berdasarkan hasil pra survey bahwa penatalaksanaan pada pasien post SC di ruang Bougenvile RSUD dr. R. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga yaitu apabila pasien datang dari instalasi bedah sentral (IBS) maka pertama yang dilakukan adalah pemantauan TTV setiap 15 menit, yaitu meliputi nadi, tekanan darah, suhu, dan pernafasan. Kemudian setelah 30 menit cek kontraksi uterus. Setelah kurang lebih 4-6 jam cek laboraturium yaitu salah satunya cek hemoglobin ulang dan memasukan injeksi obat sesuai terapi yang sudah diresepkan dokter. Pasien bedrest 24 jam per 6 jam latihan miring kanan miring kiri. Pada saat post SC hari ke 1 latih setengah duduk jika tidak ada keluhan pada saat berlatih setengah duduk maka bisa dilanjutkan dengan kaki turun dari tempat tidur dengan posisi kaki menggantung dan jika ibu sanggup dan tidak ada keluhan maka bisa dilanjut dengan duduk. Di hari ke 2, melepas kateter dan latihan duduk berdiri, bisa dilanjutkan untuk latihan berjalan jika memungkinkan. Di hari ke 3, perawatan luka ganti balut jika luka kering dan tidak ada tanda-tanda infeksi serta bersih maka diperbolehkan pulang, terapi diganti dengan oral namun jika luka jelek atau ada tanda tanda infeksi maka tunggu sampai membaik. Jika anastesi yang digunakan spinal anastesi maka diperbolehkan makan minum sedikit-sedikit, namun jika menggunakan general anatesi maka tunggu sampai pasien flatus dn peristaltik baru boleh minum. Untuk diet nasi biasa namun pada post SC dengan indikasi Pre Eklamsia Berat (PEB) maka diit rendah garam.
Ibu post SC cenderung membatasi pergerakan tubuhnya karena ada luka operasi sehingga proses penyembuhan luka dan pengeluaran cairan atau bekuan darah kotor dari Rahim ibu akan terpengaruh. Mobilisasi dini adalah salah satu upaya untuk mempertahankan kemandirian sedini mungkin dengan cara membimbing penderita untuk mempertahankan fungsi fisiologis. Mobilisasi dini merupakan faktor yang mendukung dalam mempercepat pemulihan paska bedah dan dapat mencegah komplikasi paska bedah. Dengan mobilisasi dini vaskularisasi menjadi lebih baik sehingga akan mempengaruhi penyembuhan luka post operasi karena luka membutuhkan peredaran darah yang baik untuk pertumbuhan atau perbaikan sel (Sumarah, dkk. 2013)
Berdasarkan uraian diatas penulis tertarik untuk mengangkat masalah tersebut dalam suatu masalah tersebut dalam suatu karya tulis ilmiah dengan judul “Asuhan keperawatan Hambatan Mobilitas Fisik pada Ny. S dengan Post Partum Sectio Caesarea (SC) di Ruang Bougenvile RSUD dr. R. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga”.
URL : https://repository.uhb.ac.id/index.php?p=show_detail&id=2236
APA Citation
. (2018). Asuhan keperawatan Hambatan Mobilitas Fisik pada Ny. S dengan Post Partum Sectio Caesarea (SC) di Ruang Bougenvile RSUD dr. R. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga. (Digital collection of academic papers, undergraduate thesis & research). Retrieved from https://repository.shb.ac.id