asuhan keperawatan risiko ketidakstabilan kadar glukosa darah pada Tn. X dengan Diabetes Mellitus tipe II di RSUD dr. R Goeteng Taroenadibrata Purbalingga
Diabetes melitus (DM) atau disebut diabetes saja merupakan penyakit gangguan metabolik menahun akibat pankreas tidak memproduksi cukup insulin atau tubuh tidak dapat menggunakan insulin secara efektif. Insulin adalah hormon yang mengatur keseimbangan kadar gula darah. Akibatnya terjadi peningkatan konsentrasi glukosa di dalam darah atau hiperglikemia (Kementrian Kesehatan RI, 2014). DM merupakan sekelompok kelainan metabolik yang diakibatkan oleh adanya kenaikan kadar glukosa darah dalam tubuh/hiperglikemia (Kumar et al.,, 2013).
Beberapa tipe DM diantaranya adalah tipe 1 dan tipe 2. DM tipe 1 ditandai dengan kurangnya produksi insulin, sedangkan DM tipe 2 disebabkan penggunaan insulin yang kurang efektif oleh tubuh. DM tipe 2 merupakan bentuk umum dan diidap sekitar 90% penderita DM di seluruh dunia. DM masih merupakan masalah kesehatan di Indonesia (Kementrian Kesehatan RI, 2016).
Data Riskesdas (2013) menunjukkan peningkatan prevalensi DM di Indonesia dari 5,7% pada tahun 2007 menjadi 6,9% atau sekitar 12.191.564 penderita pada tahun 2013. Sementara itu, dataInternational Diabetes Federation (IDF) tahun 2015 juga menyatakan bahwa estimasi penyandang
DM di Indonesia diperkirakan sebesar 10 juta penderita. Jika tidak dicegah, maka angka penyandang DM diperkirakan akan meningkat menjadi 16,2 juta pada tahun 2040. DM merupakan penyebab kematian terbesar ke tiga di Indonesia dengan persentase 6,7% (Kementrian Kesehatan RI, 2016).
Jumlah kasus DM tergantung insulin (DM tipe 1) di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2013 sebesar 9.376 kasus, lebih rendah dibanding tahun 2012 (19.493). Sedangkan jumlah kasus DM tidak tergantung insulin (DM tipe 2), mengalami penurunan dari 181.543 kasus menjadi 142.925 kasus (Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, 2013). Walaupun kasus DM tipe 2 pada berdasarkan data tersebut mengalami penurunan, namun kasus DM tipe 2 masih jauh lebih besar bila dibandingkan dengan DM tipe 1.
Hasil pra survey yang dilakukan penulis di RSUD dr. R Goeteng Taroenadibrata Purbalingga selama kurun waktu 3 tahun (2015, 2016, 2017) terdapat kasus Diabetes Melitus berturut-turut sebanyak 159, 173 dan 98 kasus (Rekam Medik RSUD dr. R Goeteng Taroenadibrata Purbalingga, 2017). Dari hasil pengamatan penulis selama periode praktik klinik keperawatan medikal bedah tanggal 27 November 2017 sampai tanggal 17 Desember 2017 di ruang dahlia RSUD dr. R Goeteng Taroenadibrata Purbalingga penulis menjumpai sebanyak 12 pasien DM.
Rata-rata pasien DM yang dirawat di ruang dahlia RSUD dr. R Goeteng Taroenadibrata Purbalingga memiliki masalah risiko ketidakstabilan kadar glukosa darah. Bahkan yang penulis jumpai pada penderita DM dengan hiperglikemia, dalam beberapa saat setelah diberikan tindakan dapat terjadi hipoglikemia. Oleh karenanya, penulis tertarik untuk mendeskripsikan asuhan keperawatan risiko ketidakstabilan kadar glukosa darah pada Tn. X dengan Diabetes Mellitus tipe II di RSUD dr. R Goeteng Taroenadibrata Purbalingga.
URL : https://repository.uhb.ac.id/index.php?p=show_detail&id=2238
APA Citation
. (2018). asuhan keperawatan risiko ketidakstabilan kadar glukosa darah pada Tn. X dengan Diabetes Mellitus tipe II di RSUD dr. R Goeteng Taroenadibrata Purbalingga. (Digital collection of academic papers, undergraduate thesis & research). Retrieved from https://repository.shb.ac.id