Angka kematian merupakan faktor penilaian dalam kesehatan masyarakat. Penyebab kematian dapat disebabkan oleh penyakit menular maupun tidak menular. Penyakit tidak menular saat ini mengalami kenaikan, akan tetapi penyakit menular masih menjadi masalah besar seperti fenomena gunung es. Penyakit menular antara lain TB paru, AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome), pneumonia, kusta dan diare. Penyakit menular tersebut masih menjadi ancaman kesehatan masyarakat. Terutama TB paru, masih menjadi perhatian pemerintah. TB paru merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis yang ditularkan melalui udara dari droplet infeksi (Kemenkes RI, 2016).
Pada tahun 2014 tuberkulosis diperkirakan menyerang 9,6 juta orang dan menyebabkan 1,2 juta kematan. Pada tahun 2015, diperkirakan 10,4 juta kasus baru (Insiden) TB di seluruh dunia, dimana 5,9 juta (56%) terjadi pada laki-laki, 3,5 juta (34%) terjadi pada perempuan dan 1 juta (10%) terjadi pada anak-anak., Penyakit Tuberkulosis termasuk dalam 10 penyebab kematian diseluruh dunia pada tahun 2015, diperkirakan terdapat 1,4 juta kematian akibat Tuberkulosis (WHO, 2016).
Saat ini Indonesia adalah negara ke 2 (dua) naik dari peringkat ke 3 (tiga) dengan beban TB terbesar di dunia setelah India dan nomor 9 dengan TB-MDR terbesar di dunia, dengan angka prevalensi 280 / 100.000 penduduk. (Kemenkes RI, 2014). Jumlah kasus tuberkulosis yang ditemukan di Indoneisa pada tahun 2015 adalah sebanyak 330.910 kasus, meningkat bila dibandingkan dengan semua kasus tuberkulosis yang ditemukan pada tahun 2014 yang sebesar 324.539 kasus (Kemenkes RI, 2016).
Di Kabupaten Purbalingga angka penemuan penderita TB Paru dengan BTA (+) / Case Detection Rate (CDR) mengalami peningkatan dari 54,54% pada tahun 2012 menjadi 61,15% di tahun 2013 namun masih dibawah target nasional sebesar 70,00%. Mulai tahun 2014 CDR diganti menjadi Case Notification Rate (CNR) dan capaian CNR tahun 2016 di Kabupaten Purbalingga untuk kasus baru BTA (+) adalah 53,15 per 100.000 penduduk, CNR seluruh kasus 110,83 per 100.000 penduduk. Keberhasilan pelaksanaan program penanggulangan TB paru dapat diukur dari pencapaian angka kesembuhan penderita. Pada tahun 2016 angka kesembuhan penderita TB Paru di Kabupaten Purbalingga sebesar 77,35% yang berarti belum mencapai target >85,00%. Pada tahun 2016 jumlah kematian selama pengobatan meningkat dibanding tahun 2015 sebanyak 21 kasus menjadi 23 kasus kematiSdr. Jumlah suspek kasus pada tahun 2016 sebanyak 4.893 kasus dengan jumlah kasus BTA positif ditemukan sebanyak 480 kasus (11,38%) dari jumlah suspek. Hal ini menunjukan bahwa kasus yang ditemukan masih jauh dari angka seharusnya 4.807 kasus sehingga upaya penemuan kasus TB paru perlu ditingkatkan untuk menekan penyeberan penyakit ini (Dinkes Purbalingga, 2016).
Berdasarkan hasil dari data pra survey di RSUD dr. R Goeteng Taroenadibrata Purbalingga di dapatkan data Pada Tahun 2015 Penderita TB paru BTA (+) sebanyak 52 kasus, TB paru anak 225 kasus, dan TB paru dewasa sebanyak 449 kasus. Sedangkan pada tahun 2016 penderita TB paru BTA (+) sebanyak 44 kasus, TB paru anak sebanyak 144 kasus, dan TB paru dewasa sebanyak 527 kasus. Dan pada tahun 2017 penderita TB paru BTA (+) sebanyak 24 kasus, TB paru anak sebanyak 103 kasus, dan TB paru dewasa sebanyak 574 kasus.
Berdasarkan uraian data diatas, penderita TB paru semakin banyak terutama TB paru dewasa, padahal TB paru ini penyakit yang dapat disembuhkan apabila cara penanganannya menggunakan prosedur dengan benar, yaitu menerapkan asuhan keperawatan pada klien dengan baik. Pentingnya peran perawat sebagai tenaga kesehatan dalam memberikan asuhan keperawatan termasuk berupaya bersama-sama mencegah dan mengendalikan penyebaran penyakit TB paru baik dengan cara pendidikan kesehatan kepada klien dan keluarga yang telah terinfeksi atau melalui pencegahan dengan memperhatikan kebersihan lingkungan rumah dan pencahayaan yang baik.
Dari berbagai gejala klinis penyakit TB paru yang paling sering muncul salah satunya adalah batuk produktif yang terjadi karena penumpukan sekret yang berlebih. Dari gejala batuk ini dapat mengakibatkan berbagai masalah keperawatan diantaranya bersihan jalan nafas. Berdasarkan masalah tersebut penulis tertarik untuk membuat suatu karya tulis ilmiah dengan judul “Asuhan Keperawatan Ketidakefektifan Bersihan Jalan Nafas Pada Sdr. I dengan TB Paru di Ruang Lavender RSUD Dr. R Goeteng Taroenadibrata Purbalingga”.
URL : https://repository.uhb.ac.id/index.php?p=show_detail&id=2242
APA Citation
. (2018). Asuhan Keperawatan Ketidakefektifan Bersihan Jalan Nafas Pada Sdr. I dengan TB Paru di Ruang Lavender RSUD Dr. R Goeteng Taroenadibrata Purbalingga. (Digital collection of academic papers, undergraduate thesis & research). Retrieved from https://repository.shb.ac.id