Tuberkulosis merupakan penyakit infeksius, yang terutama menyerang parenkim paru. Tuberkulosis dapat juga ditularkan ke bagian tubuh lainnya, termasuk ginjal, tulang, dan nodus limfe. Agens infeksius utama Mycobacterium tuberculosis, adalah batang aerobik tahan asam yang tumbuh dengan lambat dan sensitif terhadap panas dan sinar ultraviolet (Bare & Smeltzer, 2013). Kuman ini memiliki sifat tahan terhadap asam karena dilapisi oleh lemak /lipid. Sifat lain dari kuman ini adalah aerob yang menyukai daerah yang banyak mengandung oksigen (Yasmara dkk., 2016).
Tuberkulosis merupakan masalah kesehatan global yang menyebabkan jutaan orang menderita penyakit ini dan menjadi penyakit yang meyebabkan kematian terbesar kedua setelah Human Immun deficiency Virus (HIV) (WHO, 2013). Pada tahun 2014 terdapat 9,6 juta penduduk dunia terinfeksi kuman TB, paling banyak berada pada wilayah Afrika (37%), wilayah Asia Tenggara (28%), dan wilayah Mediterania Timur (17%) (WHO, 2015).
Berdasarkan data dari World Health Organization (WHO) Global Tuberculosis Report tahun 2016 menyatakan bahwa Indonesia dengan jumlah penduduk 254.831.222 jiwa menempati posisi kedua dengan beban tertinggi di dunia. Tuberkulosis di Indonesia juga merupakan penyebab nomor empat kematian setelah penyakit kardiovaskular. Survei yang telah dilakukan memperkirakan prevalensi TB sebesar 660/100.000 atau berarti bahwa 0,65% populasi Indonesia menderita TB, atau setara 1.600.000 kasus TB, dimana tiap tahun terjadi 1.000.000 kasus baru. Sementara tingkat deteksi kasus hanya sebesar 33% atau sekitar 670.000 untuk kasus-kasus yang hilang.
Menurut Gobal Tuberculosis Report WHO (2016), diperkirakan insidensi tuberkulosis di Indonesia pada tahun 2015 sebesar 395 kasus/100.000 penduduk dan angka kematian sebesar 40/100.000 penduduk (penderita HIV dengan tuberkulosis tidak dihitung) dan 10/100.000 penduduk pada penderita HIV dengan tuberkulosis.
Berdasarkan data Profil Kesehatan Indonesia tahun 2017 angka kejadian TB di Jawa Tengah sebesar 14.139. Angka penemuan penderita TBC dengan BTA(+)/Case Detection Rate (CDR) di Kabupaten Purbalingga pada tahun 2012 mengalami peningkatan dari 54,54% menjadi 61,15% di tahun 2013 namun masih di bawah target nasional sebesar 70%. Pada tahun 2014 CDR diganti menjadi Case Notivication Rate (CNR) dan capaian CNR tahun 2016 di Kabupaten Purbalingga untuk kasus baru BTA (+) adalah 53,15 per 100.000 penduduk, CNR seluruh kasus 110,83 per 100.000 penduduk. Di RSUD dr. R. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga, angka kejadian tuberkulosis mencapai 120 pada tahun 2015, pada tahun 2016 sebesar 125, dan pada pertengahan tahun 2017 mencapai 95 kasus.
Keluhan yang muncul pada pasien TB paru adalah batuk berdahak selama 2 minggu atau lebih, dahak bercampur darah, berkeringat pada malam hari tanpa aktivitas, napsu makan menurun, berat badan menurun, malaise dan badan terasa lemas (Muttaqin, 2008).
Komplikasi pada pasien tuberkulosis paru dibagi menjadi dua yaitu, komplikasi dini meliputi : pleuritis, efusi pleura, empiem, laringitis, TB usus. Sedangkan komplikasi lanjut meliputi : obstruksi jalan nafas, kor pulmonale, amilodosis, karsinoma, sindrom gagal nafas (Ardiansyah, 2012). Berdasarkan data tersebut sekitar 80% penderita tuberculosis mengalami gangguan ketidakefektifan bersihan jalan napas, yang mana masalah tersebut hampir selalu muncul pada penderita tuberkolosis paru. Pada masalah keperawatan ketidakefektifan bersihan jalan nafas tindakan yang biasa perawat lakukan pada pasien tuberkulosis yaitu pemberian oksigen, fisioterapi dada, latihan batuk efektif, suction atau penghisapan lendir (Asmadi, 2008).
Asuhan keperawatan pada penderita tuberkulosis paru sangat penting terutama pada pencegahan komplikasi. Fokus pengkajian pada tuberkulosis paru meliputi, anamnesa (keluhan utama, riwayat kesehatan, riwayat penyakit dahulu, riwayat penyakit keturunan/keluarga, pemeriksaan fisik, pola kesehatan fungsional, dan data penunjang) (Wijaya & Putri, 2013).
Masalah keperawatan yang muncul pada penderita tuberkulosis diantaranya seperti, ketidakefektifan bersihan jalan nafas, gangguan pertukaran gas, hipertermia, ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh, resiko infeksi (Nurarif dan Kusuma, 2015). Pasien dengan tuberkulosis dapat diatasi dengan penatalaksanaan keperawatan seperti, pemberian terapi oksigen, fisioterapi dada, latihan batuk efektif, suction (penghisapan lendir), dan mengatur posisi pasien (Kozier dkk., 2010).
Berdasarkan latar belakang di atas dan data yang ada maka penulis tertarik melakukan penelitian tentang “Asuhan Keperawatan Ketidakefektifan Bersihan Jalan Nafas Pada Tn. E Dengan TB Paru Di Ruang Kenanga RSUD dr. R. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga.
URL : https://repository.uhb.ac.id/index.php?p=show_detail&id=2244
APA Citation
. (2018). Asuhan Keperawatan Ketidakefektifan Bersihan Jalan Nafas Pada Tn. E Dengan TB Paru Di Ruang Kenanga RSUD dr. R. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga. (Digital collection of academic papers, undergraduate thesis & research). Retrieved from https://repository.shb.ac.id