Asuhan Keperawatan Nyeri Akut Pada An. A Dengan Post Operasi Apendiktomi Atas Indikasi Appendiksitis Di Ruang Dahlia RSUD Dr. R Goeteng Taroenadibrata Purbalingga
Appendiksitis merupakan peradangan dari apendiks performis, dan merupakan penyebab abdomen akut yang paling sering terjadi. Appendiksitis akut adalah keadaan yang disebabkan oleh peradangan yang mendadak pada suatu apendiks. Appendiksitis merupakan penyakit bedah mayor yang paling sering terjadi, walaupun appendiksitis dapat terjadi setiap usia, namun paling sering pada orang dewasa muda, sebelum era antibiotik (Dermawan dan Rahayuningsih, 2010).
Tingkat kejadian appendiksitis di negara maju lebih tinggi dibandingkan dengan negara berkembang. Appendiksitis dapat terjadi pada laki-laki maupun perempuan pada segala usia. Appendiksitis umumnya terjadi pada laki-laki karena disebabkan adanya peningkatan limfoid pada masa tersebut (Kowalak, 2012).
Appendiksitis akut juga merupakan suatu keadaan yang sering membutuhkan operasi karena merupakan kegawatan perut pada anak. Satu diantara enam orang menjalani apendiktomi (Jones & Irving, 1996 dalam Sodikin, 2011). Jarang ditemukan di bawah usia dua tahun, akan tetapi menyerang semua kelompok umur pada usia lain, terutama pada anak-anak dan dewasa, insiden tertinggi pada masa anak-anak (Kiegman & Arvin, 2000 dalam Sodikin, 2011).
Berdasarkan data dunia dinegara-negara berkembang menurut World Health Organization (WHO, 2014), pada beberapa negara berkembang memiliki prevalensi yang tinggi seperti Singapura berjumlah 15% pada anak-anak 16,5% pada orang dewasa, sedangkan Thailand 7% pada anak-anak dan orang dewasa 10% (Amalia & Susanti, 2014 dalam Novriyenti, 2016).
Sementara untuk Indonesia sendiri pada data Biro Pusat Statistik (BPS, 2014) menyatakan tingkat kejadian kasus appendiksitis berjumlah 7% dari jumlah penduduk Indonesia atau sekitar 179.000 jiwa. Semua kasus appendiksitis di Indonesia menempati peringkat tertinggi diantara kegawatan pada abdomen. Hasil penelitian sebelumnya bahwa angka kejadian kasus appendiksitis Indonesia hingga saat ini, merupakan kasus tertinggi (Amalia & Susanti, 2014 dalam Novriyenti, 2016).
Berdasarkan data dari RSUD Dr. R Goeteng Taroenadibrata Purbalingga menunjukkan bahwa jumlah penderita pada tahun 2015 berjumlah 116 penderita dan terjadi kenaikan pada tahun 2016 menjadi 118 penderita, sedangkan data yang dihimpun selama bulan Januari sampai Oktober tahun 2017 didapatkan bahwa jumlah keseluruhan penderita appendiksitis berjumlah 99 penderita dan 23 diantaranya adalah anak-anak dengan rentang usia 14 tahun kebawah. Dari semua penderita 94 diantaranya menjalani prosedur operasi apendiktomi.
Tindakan laparatomi apendiktomi merupakan tindakan konvensional dengan membuka dinding abdomen. Tindakan ini juga digunakan untuk melihat apakah ada komplikasi pada jaringan apendiks maupun di sekitar apendiks. Tindakan laparatomi dilakukan dengan membuang apendiks yang terinfeksi melalui suatu insisi di regio kanan bawah perut dengan lebar insisi sekitar 2 hingga 3 inci. Setelah menemukan apendiks yang terinfeksi, apendiks dipotong dan dikeluarkan dari perut. Pada prosedur laparatomi apendiktomi pasien akan mendapatkan luka sayatan, sehingga diperlukan manajemen perawatan luka post operasi yang tepat agar luka dapat sembuh dengan baik tanpa terjadi komplikasi. Ada beberapa fase yang akan terjadi pada tahapan penyembuhan luka post operasi, salah satunya adalah fase inflamasi, Pada fase ini pasien akan mengalami tanda-tanda radang, yaitu kalor (panas), dolor (nyeri), rubor (kemerahan), Tumor (bengkak), dan perubahan fungsi (Farizal, 2016).
Pada umumnya post operasi apendiktomi mengalami nyeri akibat bedah luka operasi. Menurut Maslow bahwa kebutuhan rasa nyaman merupakan kebutuhan dasar setelah kebutuhan fisiologis yang harus terpenuhi. Seorang yang mengalami nyeri akan berdampak pada aktivitas sehari-hari. Seorang tersebut akan terganggu pemenuhan kebutuhan istirahat tidur, pemenuhan individu, juga aspek interaksi sosialnya yang dapat berupa menghindari percakapan, menarik diri dan menghindari kontak. Selain itu orang yang mengalami nyeri hebat akan berkelanjutan, apabila tidak ditangani pada akhirnya dapat mengakibatkan syok neurogenic pada orang tersebut. penatalaksanaan nyeri harus menjadi prioritas utama dalam memenuhi kebutuhan akan rasa nyaman pada pasien post operasi apendiktomi (Ganong, 2008).
Intervensi nyeri dapat dilakukan dengan strategi penatalaksanaan nyeri, mencakup baik pendekatan farmakologi maupun non-farmakologi. Pendekatan ini diseleksi berdasarkan pada kebutuhan dan tujuan pasien. Intervensi akan berhasil bila nyeri belum menjadi hebat, dan keberhasilan terbesar sering dicapai jika beberapa intervensi diterapkan secara stimulant. Pendekatan secara farmakologi yaitu dengan pemberian obat-obatan analgesik dan penenang. Sedangkan pendekatan secara non-farmakologi manajemen nyeri dengan melakukan terapi relaksasi, merupakan intervensi eksternal yang mempengaruhi respon internal pasien terhadap nyeri. Manajemen nyeri dengan intervensi relaksasi mencangkup latihan pernapasan dalam, relaksasi progresif, relaksasi guided imagery (imajinasi terbimbing), dan meditasi (Smeltzer & Bare, 2014).
Berdasarkan latar belakang maka penulis tertarik untuk membuat karya tulis ilmiah dengan judul “Asuhan Keperawatan Nyeri Akut Pada An. A Dengan Post Operasi Apendiktomi Atas Indikasi Appendiksitis Di Ruang Dahlia RSUD Dr. R Goeteng Taroenadibrata Purbalingga”, sehingga dapat melakukan asuhan keperawatan nyeri akut pada pasien post operasi appendiksitis dengan baik.
URL : https://repository.uhb.ac.id/index.php?p=show_detail&id=2245
APA Citation
. (2018). Asuhan Keperawatan Nyeri Akut Pada An. A Dengan Post Operasi Apendiktomi Atas Indikasi Appendiksitis Di Ruang Dahlia RSUD Dr. R Goeteng Taroenadibrata Purbalingga. (Digital collection of academic papers, undergraduate thesis & research). Retrieved from https://repository.shb.ac.id