Hipertensi Gestasional merupakan sebuah penyakit peningkatan tekanan darah 140/90 mmHg atau lebih untuk pertama kali dialaminya saat kehamilan, tetapi tidak terdapat proteinuria. Hipertensi Gestasional disebut juga hipertensi sementara jika preeklamsia tidak terjadi dan tekanan darah kembali normal dalam 12 minggu post partum. Hal yang penting, wanita dengan hipertensi gestasional dapat mengalami tanda-tanda lain yang berkaitan dengan preeklamsia contohnya nyeri kepala, nyeri epigastrium, atau trombositopenia yang mempengaruhi penanganan. Penyebabnya meliputi faktor genetik, lingkungan, hiperaktivitas dan faktor-faktor yang meningkatkan resiko seperti obesitas, alkohol, merokok (Leveno, 2010).
Hipertensi gestasional merupakan jenis hipertensi yang paling beresiko pada kehamilan. Angka kejadian hipertensi gestasional pada wanita primigravida adalah 6-17%, sedangkan pada wanita multigravida angka kejadian hipertensi gestasional adalah 2-4%. Hipertensi gestasional apabila tidak ditangani dengan baik dapat berkembang menjadi preeklamsia yang dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas pada ibu dan janin (Sibai, 2010). Hipertensi gestasional lebih banyak terjadi pada usia 20-35 tahun yaitu sebesar 84% dibandingkan angka kejadian pada usia 36-40 tahun yaitu sebesar 16% (Supriatiningsih, 2009). Pelaksanaan bantuan medis selama kehamilan, komplikasi selama kehamilan dapat dicegah. Hipertensi gestasional selama kehamilan selalu menimbulkan perhatian khusus, memiliki kemungkinan komplikasi pada kehamilannya lebih besar (Abidin, 2009).
Hipertensi gestasional selama kehamilan menjadi penyebab kematian ibu hamil, kematian bayi dan berat bayi lahir rendah. Tekanan darah yang meningkat mengakibatkan pembuluh darah mengalami vasokontriksi (penyusutan/ penyempitan). Akibatnya suplai darah ke jaringan tubuh akan berkurang. Organ akan kehilangan asupan nutrisi dan oksigen sehingga lambat laun mengakibatkan organ tidak berfungsi dan bahkan kematian organ. Akibatnya, ibu hamil meninggal karena komplikasi dari hipertensi seperti gagal ginjal atau kematian organ lainnya. Nutrisi dan oksigen bagi pertumbuhan janin disuplai dari ibu. Bila suplai terganggu, bayi bisa meninggal dan kurang gizi, hipertensi juga dapat mengakibatkan solusio plasenta, dan adanya kerusakan end-organ, seperti disfungsi ginjal atau jantung memperbesar risiko hambatan pertumbuhan janin (Yudasmara K, 2015).
Hipertensi terjadi melalui terbentuknya angiotensi II dari angiotensin I oleh Angiotensin-ConvertingEnzime (ACE). (ACE) memegang peranan penting dalam mengatur tekanan darah. Dari faktor resiko hipertensi akan mengaktifkan kemudian meningkatkan produksi hormon estrogen akan menyebabkan peningkatan sekresi renin, renin uterus yang dikeluarkan akan mengalir bersama darah sampai organ hati dan bersama-sama angiotensinogen menjadi angiotensin I dan selanjutnya menjadi angiotensin II. Angiotensin II bersama tromboksan akan menyebabkan terjadinya vasokontriksi. Vasokontriksi atau penyempitan peredaran darah akan menyebabkan tekanan darah meningkat. Karena adanya tekanan intra vaskuler cerebral meningkat sehingga dapat menyebabkan nyeri kepala hebat, kemudian menimbulkan diagnosis keperawatan nyeri akut. Dari buku panduan diagnosa keperawatan NANDA (2015-217) Nyeri akut adalah pengalaman sensori dan emosional tidak menyenangkan yang muncul akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial atau yang digambarkan sebagai kerusakan : awitan yang tiba-tiba atau lambat dari intensitas ringan hingga berat dengan akhir yang dapat diantisipasi atau diprediksi dan berlangsung
URL : https://repository.uhb.ac.id/index.php?p=show_detail&id=2249
APA Citation
. (2018). asuhan keperawatan nyeri akut pada ibu hamil dengan hipertensi gestasional di Puskesmas Kedungbanteng Kabupaten Banyumas. (Digital collection of academic papers, undergraduate thesis & research). Retrieved from https://repository.shb.ac.id