homescontents
homescontents

Repository Universitas Harapan Bangsa.
Digital collection of academic papers, undergraduate thesis, research

Repository Universitas Harapan Bangsa.
Digital collection of academic papers, undergraduate thesis, research


Detail Cantuman

Kembali

Asuhan Keperawatan Nyeri Akut pada Tn.N Dengan Post Operasi Transurethral Resection Of The Prostate (TURP) Di Ruang Edelweis RSUD Prof.Dr.Margono Soekarjo Purwokerto

XML
Pengarang
Eva Riani - Personal Name
Pernyataan Tanggungjawab
Lampiran Berkas
LOADING LIST...
Bahasa
Indonesia
Penerbit
STIKES Harapan Bangsa
Tahun Terbit
2018
Tempat Terbit
Fakultas Ilmu Kesehatan SHB
Deskripsi Fisik

Abstract

Benigna prostate hyperplasia (BPH) atau pembesaran prostat jinak merupakan suatu penyakit yang sering terjadi baik di negara maju maupun negara berkembang. Benigna prostate hyperplasia (BPH) merupakan suatu kondisi penyakit yang erat kaitannya dengan penambahan usia sehingga semakin bertambahnya usia semakin meningkat pola prevalensinya. Tanda klinis BPH biasanya muncul pada lebih dari 50% laki-laki yang berusia 50 tahun ke atas. Prevalensi BPH di dunia meningkat 25 % pada umur 40-49 tahun, 80 % pada umur 70-79 tahun (Sarma, 2012).
Menurut data WHO (2013), memperkirakan terdapat sekitar 70 juta kasus degeneratif. Salah satunya adalah BPH, dengan insidensi di negara maju sebanyak 19%, sedangkan di negara berkembang sebanyak 5,35% kasus. Yang ditemukan pada pria dengan usia lebih dari 65 tahun dan dilakukan pembedahan setiap tahunnya. Tingginya kejadian BPH di Indonesia telah menempatkan BPH sebagai penyebab angka kesakitan nomor dua terbanyak setelah penyakit batu pada saluran kemih. Tahun 2013 di Indonesia terdapat 9,2 juta kasus BPH, diantaranya diderita pada pria berusia di atas 60 tahun.


Benigna Prostate Hyperplasia (BPH) merupakan salah satu penyakit yang ditakuti dikalangan pria usia lanjut. Kelenjar prostate sering menimbulkan masalah dalam kehidupan kaum pria. Berdasarkan data, tidak kurang dari 70% pria usia lanjut mengalami BPH. Biasanya BPH mulai mengintai pria umur 50 tahun, dan 10 tahun kemudian sering mengganas (Mulyadi, 2009).
Penyebab terjadinya BPH hingga saat ini belum diketahui secara pasti, tetapi beberapa kadar dehidrostesteron (DHT) dan proses aging (penuaan) (Purnomo, 2012). Apapun penyebabnya, BPH dimulai dengan perubahan pada jaringan glandular periuretral. Saat membesar, prostat bisa meluas sampai ke kandung kemih dan mengobstruksi aliran kencing keluar dengan menekan atau menyimpangkan uretra prostatik. Benigna prostate hyperplasia (BPH) juga bisa menyebabkan terbentuknya kantung dalam kandung kemih yang menahan urin saat bagian lain dalam kandung kemih dalam keadaan kosong. Urin yang tertahan ini bisa menyebabkan pembentukan kalkulus atau sistitis (Williams & Wilkins, 2011).
Jika pasien BPH tidak ditangani maka akan menyebabkan komplikasi diantaranya adalah retensi kronik, proses kerusakan ginjal, hernia/hemoroid, hematuria, sistitis dan pielonefritis (Brunner & Suddarth, 2013). Adapun penanganan pada pasien BPH dapat dilakukan dalam berbagai cara di antaranya watchfull waiting, medikamentosa dan tindakan pembedahan Transurethral Resection Of The Prostate (TURP).
TURP merupakan tindakan pembedahan via endoscopy transurethral tanpa melakukan pembedahan atau insisi terbuka. Tindakan pembedahan ini di pilih karena memiliki efek minimal jika dibandingkan dengan jenis pembedahan lainnya. Angka mortalitas pasien TURP sebesar 1-2 %, sedangkan angka keberhasilan TURP dalam mengatasi gejala klinik akibat BPH sebesar 88% (Madjid, 2011).
Pasien BPH sebelum dan sesudah menjalani pembedahan akan muncul berbagai masalah biologis, psikologis, maupun spiritual antara lain retensi urin, nyeri akut, ansietas, gangguan pola tidur. Oleh karena itu pasien BPH perlu dilakukan asuhan keperawatan dengan tepat. Peran perawat sangat penting dalam merawat pasien BPH antara lain sebagai pemberi pelayanan kesehatan, pendidik, pemberi asuhan keperawatan atau untuk mengatasi masalah keperawatan yang timbul (Purnomo, 2011). Gangguan pada pasien dengan post prostatektomi dapat terjadi gangguan rasa nyaman (nyeri) karena terputusnya jaringan, maka reseptor nyeri akan ditrasmisikan oleh suatu serabut syaraf ke pembuluh darah. Stimulus serabut ini mengakibatkan pelepasan histamine dan mengakibatkan vasodilatasi. Histamin, bradikin, asetikolin, prostagliin, merupakan zat kimia yang dapat meningkatkan sensitivitas reseptor nyeri (Smeltzer, 2013).

Berdasarkan data pra survey selama kurun waktu satu minggu (20-26 November 2017) di Ruang Edelweis RSUD prof Dr. Margono Soekarjo Purwokerto dengan melihat rekam medik dan pasien yang terdiagnosis medis BPH terdapat 3 pasien dari jumlah keseluruhan pasien sebanyak 28 pasien.
Berdasarkan uraian data diatas maka penulis termotivasi untuk membuat Karya Tulis Ilmiah dengan judul “Asuhan Keperawatan Nyeri Akut pada Tn.N Dengan Post Operasi Transurethral Resection Of The Prostate (TURP) Di Ruang Edelweis RSUD Prof.Dr.Margono Soekarjo Purwokerto”


URL : https://repository.uhb.ac.id/index.php?p=show_detail&id=2250
APA Citation
. (2018). Asuhan Keperawatan Nyeri Akut pada Tn.N Dengan Post Operasi Transurethral Resection Of The Prostate (TURP) Di Ruang Edelweis RSUD Prof.Dr.Margono Soekarjo Purwokerto. (Digital collection of academic papers, undergraduate thesis & research). Retrieved from https://repository.shb.ac.id




© 2018. UPT Perpustakaan - Universitas Harapan Bangsa, Formerly STIKes Harapan Bangsa Purwokerto, www.uhb.ac.id.
This software and this template are released Under GNU GPL License Version 3 II SLiMS distro version ETD
Made by The Happy Team :-D
web
statistics

SHB YPDP


https://103.189.235.100/

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor