Tekanan darah tinggi (Hipertensi) merupakan penyakit tidak menular yang ditandai dengan peningkatan tekanan darah lebih dari 140/90 mmHg. Hipertensi sering disebut sebagai sillent killer berpotensi menyebabkan komplikasi yang berat bahkan sampai kematian tanpa tanda gejala yang jelas (WHO, 2015). Hipertensi sangat dikenal terutama dikalangan Lansia, menjadi penyakit masyarakat umum, menjadi beban masyarakat, meluas dan dapat menyebabkan kematian. Beberapa faktor resiko yang mungkin menyebabkan hipertensi yaitu genetik, gaya hidup, pola makan, berat badan dan aktivitas fisik. Namun pada hipertensi sekunder masalah ginjal, obat-obatan dan beberapa masalah medis lain dapat menjadi faktor penyebabnya (World Heart Federation, 2016).
Seiring pertambahan usia akan terjadi penurunan elastisitas dari dinding aorta. Pada lansia umumnya juga akan terjadi penurunan ukuran dari organ-organ tubuh tetapi tidak pada jantung. Jantung pada lansia umumnya akan membesar. Hal ini nantinya akan berhubungan kelainan pada sistem kardiovaskuler yang akan menyebabkan gangguan pada tekanan darah seperti hipertensi (Fatmah, 2010). Hipertensi pada lanjut usia sebagian besar merupakan hipertensi sistolik terisolasi (HST), meningkatnya tekanan sistolik menyebabkan besarnya kemungkinan timbulnya kejadian stroke dan infark myocard bahkan walaupun tekanan diastoliknya dalam batas normal (isolated systolic hypertension). Pada suatu penelitian, hipertensi menempati 87% kasus pada orang yang berumur 50 sampai 59 tahun. Adanya hipertensi, baik HST maupun kombinasi sistolik dan diastolik merupakan faktor risiko morbiditas dan mortalitas untuk orang lanjut usia. Hipertensi masih merupakan faktor risiko utama untuk stroke, gagal jantung penyakit koroner, dimana peranannya diperkirakan lebih besar dibandingkan pada orang yang lebih muda (Kuswardhani, 2007).
Data WHO bulan September 2011, disebutkan bahwa hipertensi menyebabkan 8 juta kematian per tahun di seluruh dunia dan 1,5 juta kematian per tahun di seluruh dunia dan 1,5 juta kematian per tahun di wilayah Asia Tenggara (Nuarima, 2012). Prevalensi hipertensi di Indonesia yang didapat melalui kuesioner terdiagnosis tenaga kesehatan sebesar 9,4 %, yang didiagnosis tenaga kesehatan atau sedang minum obat sebesar 9,5% . Jadi, ada 0,1 % yang minum obat sendiri. Responden yang mempunyai tekanan darah normal tetapi sedang minum obat hipertensi sebesar 0,7% Jadi prevalensi hipertensi di Indonesia sebesar 26,5 % (25,8%+0,7%) (Riskesdas, 2013). Prevalensi kasus hipertensi di Jawa Tengah tahun 2012 sebesar 67,57 % lebih rendah di banding tahun 2011 sebesar 72,13 %. Berdasarkan laporan dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, kasus tertinggi hipertensi sebanyak 554.771 kasus (Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, 2014).
Penyebab terjadinya hipertensi, selain dikarenakan adanya faktor keturunan, juga erat kaitannya dengan perilaku dan gaya hidup yang kompleks dari individu bersangkutan. Faktor resiko perilaku tersebut antara lain perilaku makan tidak sehat, kurangnya aktivitas fisik, terlalu banyak mengkonsumsi alkohol, merokok dan obesitas. Keadaan obesitas meningkatkan resiko penyakit kardiovaskular karena keterkaitannya dengan sindrom metabolik meliputi resistensi insulin, gangguan toleransi glukosa, abnormalitas trigliserida dan hemostasis, disfungsi endotel dan hipertensi (Adam, 2009).
Dari beberapa faktor resiko yang disebutkan, pola aktivitas menjadi salah satu penyebab timbulnya hipertensi pada para lansia (lanjut usia) di Balai Pelayanan Sosial Lanjut Usia Dewanata Cilacap. Dalam hal ini dari pihak balai pelayanan sendiri sudah membuatkan jadwal kegiatan maupun aktivitas yang dikhususkan untuk para lansia sehingga diharapkan dapat mencegah atau mengurangi terjadinya hipertensi melalui pola aktivitas seperti senam yang dilakukan setiap pagi hari setelah melakukan apel pagi, lalu dilanjutkan dengan bersih-bersih lingkungan, adapula kegiatan membuat kerajinan, serta kegiatan yang dapat mencegah timbulnya stressor hipertensi pada lansia. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa melakukan olahraga berhubungan erat dengan penurunan tekanan darah. Hal tersebut diperkuat dengan hasil penelitian Mannan (2013) yang menunjukkan bahwa aktivitas fisik yang kurang berisiko 2,67 kali menderita hipertensi dibandingkan dengan yang sering beraktivitas fisik atau olahraga. Itu berarti bahwa olahraga dapat membantu menurunkan tekanan darah.
Melihat fenomena ini, proses asuhan keperawatan baik yang bersifat independen maupun kolaboratif sangat berpengaruh terhadap tingkat perkembangan kesehatan lansia. Penatalaksanaan medis dapat dilakukan secara farmakologis dan terapi somatik. Perawat dituntut untuk memberikan asuhan keperawatan yang berkualitas pada lansia yang mengalami hipertensi melalui tahap pengkajian, penetapan diagnosa keparawatan, perencanaan intervensi, implementasi dan evaluasi. Pada lansia yang mengalami hipertensi ini perlu suatu upaya yang tepat untuk memulihkan tekanan darah agar tidak berdampak terhadap fisik dan sosial lansia serta terjadinya gangguan pemenuhan kebutuhan lainnya (Miller, 2010).
Dari beberapa analisa dan hasil penelitian perlu dilakukan suatu pelayanan melalui proses keperawatan lansia oleh tenaga kesehatan di Balai Pelayanan Sosial Lanjut Usia Dewanata Cilacap melalui proses keperawatan lansia dimana tenaga kesehatan memberikan pelayanan kepada lansia. Proses keperawatan merupakan sekumpulan tindakan asuhan keperawatan yang diberikan untuk memperbaiki status kesehatan lansia maupun pasien (Zidin, 2009).
Berdasarkan dari data tersebut serta penelitian yang dilakukan di Balai Pelayanan Sosial Lnjut Usia Dewanata Cilacap terdapat kurang lebih 100 lansia, data yang telah diperoleh terdapat lansia yang mengalami hipertensi sebanyak 23 lansia atau sekitar 28 %. Dari 6 lansia yang diwawancarai ada 3 lansia mengatakan apabila tekanan darah meningkat mereka mengkonsumsi obat penurun hipertensi sedangkan 3 lainnya mengatakan bila hipertensi nya kambuh tidak teratur dalam meminum obat termasuk Ny.S sehingga penulis tertarik untuk mengambil studi tugas akhir dengan judul “Asuhan Keperawatan Pada Ny.S. Dengan hipertensi di wisma 4 Balai Pelayanan Sosial Lanjut Usia Dewanata Cilacap.
URL : https://repository.uhb.ac.id/index.php?p=show_detail&id=2253
APA Citation
. (2018). Asuhan Keperawatan Pada Ny.S. Dengan hipertensi di wisma 4 Balai Pelayanan Sosial Lanjut Usia Dewanata Cilacap.. (Digital collection of academic papers, undergraduate thesis & research). Retrieved from https://repository.shb.ac.id