Indonesia tercatat memiliki angka kejadian tertinggi nomor empat di dunia dengan risiko 50% yang berakhir pada kematian. Data kecelakaan lalu lalu lintas yang diperoleh dari Profil Kesehatan Indonesia pada tahun 2011 menunjukan bahwa dari 104.824 kasus kecelakaan lalu lintas yang terdiri 89.896 kasus mengalami luka ringan, 67.098 kasus mengalami luka berat dan 29.992 kasus berakhir pada kematian. Jawa Tengah terdapat 749 kasus pada tahun 2013 berakhir pada kematian (Suara Merdeka 2013). Angkakejadian cedera kepala yang dirawat di rumah sakit di Indonesiamerupakan penyebab kematian urutan ke dua (4,37%) setelah stroke, dan merupakanurutan ke lima (2,18%) pada 10 pola penyakit terbanyak yang di rawat di rumah sakit diIndonesia (Desi, 2010).
Kecelakaan lalu lintas di Indonesia, sebagian besar disebabkan karena faktor perilaku pengemudi yaitu sebesar 89,50%. Faktor tersebut berpengaruh terhadap tingkat keparahan yang dialami oleh korban kecelakaan seperti mengemudi dengan kecepatan tinggi, tidak menggunakan helm dengan baik, dan mengkonsumsi alkohol saat mengemudikan kendaraan (Riyadina,2007) .Dari sekian banyak kasus dapat ditelusur penyebab cedera kepala traumatikterbanyak adalah kecelakaan kendaraan bermotor (50%), akibat jatuh 25%, akibat olahraga 10% sisanya akibat kejadian lain. Puncak insiden cedera kepala pada usia 5tahun, 15-24 tahun dan diatas 70 tahun. Cedera kepala pada laki-laki lebih sering daripada wanita (Muttaqin, 2008).
Menurut World Health Organization (WHO) tahun 2004, Case Fatality Rate (CFR) trauma akibat kecelakaan lalu lintas tertinggi didunia dijumpai di beberapa negara Amerika Latin (41,7%), Korea Selatan (21,9%), dan Thailand (21,0%). Dengan demikian dapat disimpulkan menurut Departemen Kesehatan Republik Indonesia (Depkes RI) tahun 2006 kasus kecelakaan kendaraan bermotor, 50% adalah berupa cedera kepala. Angkakejadian cedera kepala yang dirawat di rumah sakit di Indonesia merupakan penyebab kematian urutan ke dua (4,37%) setelah stroke, dan merupakan urutan ke lima (2,18%) pada 10 pola penyakit terbanyak yang di rawat di rumah sakit di Indonesia (Desi, 2010).
Menurut Brain Injury Assosiation of America, (2007), cedera kepala adalah suatu kerusakan pada kepala bukan bersifat congenital ataupun degeneratif, tetapi disebabkan serangan atau benturan fisik dari luar yang dapat mengurangi atau mengubah kesadaran yang mana menimbulkan kerusakan kemampuan kognitif dan fungsi fisik. Cedera kepala atau trauma kepala adalah gangguan fungsi normal otak karena trauma baik trauma tumpul maupun trauma tajam. Defisit neorologis terjadi karena robeknya substansia alba, iskemia dan pengaruh massa karena hemoragic, serta edema serebral disekitar jaringan otak (Batticaca,2008). Cedera kepala merupakan penyebab kematian terbesar di Amerika dan terdapat 100.000 sampai dengan 150.000 anak berusia kurang dari 15 tahun dirawat di rumah sakit setiap tahunnya karena cedera kepala (Dewanto, 2009)
Berdasarkan data di tahun 2016, menurut Rumah Sakit Umum Daerah dr. R Goeteng Taroenadibrata Purbalingga, pasien yang mengalami cedera kepala akibat kecelakaan lalu lintas sebanyak 439 jiwa dengan proporsi jenis kelamin laki-laki yang paling domain sebesar 279 jiwa dan rentang umur pasien 14 tahun sampai >65 tahun sebesar 439 jiwa. Pada bulan Februari 2017 didapatkan data sejumlah 279 klien laki-laki dan157 klien perempuan yang mengalami cedera kepala.
Agar penanganan terhadap kasus cedera kepala ringan dilaksanakan dengan tepat maka sangat dibutuhkan asuhan keperawatan yang berkesinambungan. Penatalaksanaan cedera kepala pada umumnya, penderita biasanya tampak kebingungan atau mengantuk, namun masih mampu menuruti perintah-perintah sederhana. Pemeriksaan awal dilakukan dengan melakukan cek kesadaran untuk menguji respon pasien dan denyut nadi. Kelancaran jalan napas (airway) merupakan hal yang pertama yang harus diperhatikan. Jika penderita dapat berbicara kemungkinan besar dalam keadaan adekuat. Obstruksi jalan napas sering terjadi pada penderita yang tidak sadar, dalam hal ini kita dapat melakukan chin lift atau jaw thrust sambil merasakan hembusan napas yang keluar dari hidung. Bila terdapat sumbatan dapat dihilangkan dengan cara membersihkan dengan jari. Bila hembusan napas tidak adekuat perlu dilakukan bantuan napas dari mulut ke mulut.
Berdasarkan uraian diatas maka peneliti tertarik untuk mengambil judul “Asuhan Keperawatan Pada Pasien dengan Cedera Kepala di RSUD dr. R Goeteng Taroenadibrata Purbalingga Tahun 2017”.
URL : https://repository.uhb.ac.id/index.php?p=show_detail&id=2257
APA Citation
. (2018). Asuhan Keperawatan Pada Pasien dengan Cedera Kepala di RSUD dr. R Goeteng Taroenadibrata Purbalingga Tahun 2017. (Digital collection of academic papers, undergraduate thesis & research). Retrieved from https://repository.shb.ac.id