Diabetes Mellitus (DM) merupakan penyakit yang ditandai dengan terjadinya hiperglikemia dan gangguan metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein yang dihubungkan dengan kekurangan secara absolut atau relatif dari kerja dan atau sekresi insulin. Gejala yang dikeluhkan pada penderita DM yaitu polidipsia, poliuria, polifagia, penurunan berat badan (Buraerah, 2010).
Secara klinis terdapat dua tipe DM yaitu Diabetes Militus tipe 1 dan Diabetes Militus tipe 2. Diabetes Mellitus tipe 1 disebabkan karena kurangnya insulin secara absolut akibat proses autoimun sedangkan DM tipe 2 merupakan kasus terbanyak (90-95% dari seluruh kasus diabetes) yang umumnya mempunyai latar belakang kelainan diawali dengan resistensi insulin (Smeltzer dan Bare 2008).
Diabetes Melitus Tipe II atau Insulin Non-dependent Diabetes Mellitus/ NIDDM. Pada penderita DM tipe ini terjadi hiperinsulinemia tetapi insulin tidak bisa membawa glukosa masuk ke dalam jaringan karena terjadi resistensi insulin yang merupakan turunnya kemampuan insulin untuk merangsang pengambilan glukosa oleh jaringan perifer dan untuk menghambat produksi glukosa oleh hati. Oleh karena terjadinya resistensi insulin (reseptor insulin sudah tidak aktif karena dianggap kadarnya masih
tinggi dalam darah) akan mengakibatkan defisiensi relatif insulin. Adanya resistensi yang terjadi perlahan-lahan akan mengakibatkan sensitivitas reseptor akan glukosa berkurang. Diabetes Mellitus tipe ini sering terdiagnosis setelah terjadi komplikasi (Gregg et al., 2014).
Menurut American Diabetes Association (ADA) tahun 2014 penderita DM memiliki risiko 40% menderita glukoma dan 60% berisiko terjadinya katarak pada mata dibanding dengan bukan penderita DM. Orang dengan DM memiliki risiko 1,5 kali terkena stroke. Risiko kematian pasien stroke dengan DM 2,8 kali lebih tinggi dibandingkan yang tidak mengalami DM.
International Diabetes Federation (IDF) (2014) orang dengan diabetes berisiko 25 kali untuk diamputasi dibanding dengan orang bukan penderita DM. Global status report on non communicable diseases (2014) yang dikeluarkan oleh World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa prevalensi DM di seluruh dunia diperkirakan sebesar 9%. Pada tahun 2003 diperkirakan DM menempati urutan ke-7 penyebab kematian di dunia. International Diabetes Federation (IDF) juga menyatakan bahwa lebih dari 382 juta orang di dunia menderita DM dan Indonesia merupakan negara yang menempati urutan ke 5 di dunia dengan jumlah penderita diabetes sebanyak 8,5 juta jiwa.
Data Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, prevalensi DM tipe I di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2012 sebesar 0,06%, angka ini lebih rendah dibanding tahun 2011 yakni berkisar 0,09%, sedangkan prevalensi kasus DM tidak tergantung insulin lebih dikenal dengan DM tipe II, mengalami penurunan dari 0,63% menjadi 0,55% pada tahun 2012 (Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, 2013).
Penyakit DM berdasarkan hasil survey di RSUD Goeteng Taroenadibrata Purbalingga pada tahun 2015 terdapat pasien sebanyak 250, dan pada tahun 2016 mengalami kenaikan jumlah pasien diabetes militus yaitu sebanyak 379 pasien. Asuhan keperawatan tentang penyakit DM di RS Goeteng Taroenadibrata sendiri cukup menjadi perhatian karena jumlah penderita yang setiap tahunnya meningkat (Rekam medik RSUD Goeteng Taroenadibrata Purbalingga, 2017).
Asuhan keperawatan pada pasien DM sendiri meliputi 4 pilar yaitu edukasi, terapi gizi medis, latihan jasmani, farmakologis. Edukasi pada penderita DM meliputi glukosa mandiri, senam kaki, penggunaan obat-obatan, berhenti merokok, diet tinggi lemak. Terapi gizi medis yaitu penderita DM harus mengkonsumsi makanan yang seimbang dengan kebutuhan kalori masing-masing individu. Komposisi makanan yang dianjurkan karbohidrat 45%-65%, lemak 20%-25%, protein 10%-20% dan diet serat 25g/hari. Latihan jasmani 3-4 kali dalam seminggu kurang lebih 30 menit. Terapi farmakologis diberikan bersama dengan peningkatan pengetahuan pasien. Anamnesa pada penyakit DM meliputi pengkajian yang berisi usia, pendidikan dan pekerjaan, keluhan utama, riwayat penyakit dahulu, riwayat penyakit keluarga, pemeriksaan fisik head to toe dan pemeriksaan abdomen (Sujono dan Sukarmin, 2008). Implementasi asuhan keperawatan DM perawat harus memprioritaskan untuk mempertahankan kadar gula darah yang dapat terjadi hiperglikemia atau hipoglikemi, awasi kadar gula darah pasien dan kolaborasi pemberian insulin, pemeriksaan gula darah dan diit. menyeimbangkan volume cairan dalam tubuh. Perawat juga harus mampu memberikan pendidikan kesehatan tentang diit dan cairan, dapat melakukan perawatan luka pada pasien DM yang terdapat luka gangren dan mengajarkan perawatan DM di rumah. Penjelasan juga harus diberikan secara berulang agar pasien dapat memahami secara lebih mendalam dan evaluasi yang didapat mampu mencapai kriteria setiap implementasi yang sudah dilakukan.
Berdasarkan hal tersebut maka penulis tertarik untuk menyusun karya tulis ilmiah tentang asuhan keperawatan pada pasien DM di RSUD Goeteng Taroenadibrata Purbalingga sebagai pemenuhan pada tugas akhir.
URL : https://repository.uhb.ac.id/index.php?p=show_detail&id=2258
APA Citation
. (2018). asuhan keperawatan pada pasien DM di RSUD Goeteng Taroenadibrata Purbalingga. (Digital collection of academic papers, undergraduate thesis & research). Retrieved from https://repository.shb.ac.id