Diabetes mellitus dikenal dengan istilah penyakit gula darah atau penyakit kencing manis dikalangan masyarakat umum. Diabetes sudah dikenal sejak dua ribuan tahun yang lalu oleh ahli kesehatan yunani, yaitu Celcus dan Areteus yang memberikan nama tersebut bagi orang yang menderita banyak minum dan banyak kencing (Lanywati, 2001 dalam Wijaya, 2018).
Diabetes mellitus merupakan sekumpulan gangguan metabolik yang ditandai dengan peningkatakan kadar glukosa darah (hiperglikemia) akibat kerusakan sekresi insulin, kerja insulin, atau keduanya (Brunner & Suddarth, 2013 ). Insiden penyakit diabetes mellitus terus meningkat dari waktu ke waktu. Data dari International Diabetic Federation (IDF) menunjukan insiden penyakit diabetes mellitus di dunia selama 3 tahun berturut-turut yaitu 7,2 % pada 2013, 8,3 % pada tahun 2014, dan 8,8 % pada tahun 2015. Data World Health Organization (2016) memperkirakan 422 juta orang hidup dengan diabetes.
Menurut International Diabetes Federation (2017), Indonesia memiliki sekitar 9,1 jiwa pengidap diabetes. Diperkirakan pada 2035, jumlahnya akan mencapai 14,1 juta. Saat ini Indonesia masuk
dalam daftar 10 negara pengidap diabetes tertinggi di dunia menduduki peringkat ke-7. Jenis diabetes yang paling banyak terjadi di Indonesia adalah diabetes tipe kedua, yang sangat berkaitan dengan pola makan yang tidak seimbang, konsumsi karbohidrat yang berlebihan dan kurang mengkonsumsi sayuran serta gaya hidup yang tidak benar (Tandra, 2017).
Data RISKESDAS, (2018) menyebutkan bahwa prevalensi diabetes mellitus berdasarkan diagnosis dokter pada penduduk umur lebih dari 15 tahun pada tahun 2013 ialah 1,5 % sedangkan pada tahun 2018 naik menjadi 2,0 %. Diabetes mellitus dengan berdasarkan pemeriksaan darah pada penduduk umur lebih dari 15 tahun menyebutkan bahwa prevalensi diabetes mellitus pada 2018 menurut konsensus perkeni 2015 pada penduduk umur kurang dari 15 tahun ialah 10,9 %.
Diabetes mellitus dapat terjadi karena berbagai faktor, diantaranya keturunan, pola makan tidak sehat. Risiko diabetes meningkat sejalan dengan bertambahnya usia, terutama setelah usia 40 tahun. Jenis kelamin baik pria maupun wanita memiliki risiko yang sama besar terkena diabetes hingga usia dewasa awal. Setelah usia 30 tahun, wanita memiliki risiko yang lebih tinggi dibandingkan pria, wanita yang terkena diabetes selama kehamilan memiliki risiko lebih tinggi terkena diabetes tipe II pada usia lanjut. Faktor penyebab lainnya yaitu obesitas atau kegemukan, infeksi pada kelenjar pankreas dan kurang aktivitas olahraga (Yahya, 2018).
Gejala awal yang sering muncul pada penderita diabetes mellitus ialah poliuri, polidipsi, dan polifagia. Gejala lain yang biasanya muncul adalah berat badan menurun drastis dalam waktu kurang dari sebulan tanpa sebab yang jelas. Gejala berikutnya ialah mata kabur atau retinopati, cepat lelah, kelainan fungsi saraf tepi diseluruh tubuh atau polineuropati, infeksi pada kulit baik jamur atau bakteri, dan luka yang sulit sembuh (Yahya, 2018).
Salah satu komplikasi dari diabetes mellitus adalah neuropati atau kerusakan saraf yang dapat menyebabkan rasa sakit atau rasa mati di tangan dan kaki yang mempunyai risiko untuk terjadinya ulkus pada kaki. Kadar glukosa yang tinggi mengakibatkan serat saraf hancur sehingga sinyal ke otak dan dari otak tidak terkirim dengan benar, akibat dari tidak terkirimnya sinyal tersebut maka hilangnya indera perasa, meningkatnya rasa nyeri di bagian yang terganggu. Kerusakan saraf tepi yang umum terjadi biasanya dimulai dari jempol kaki hingga seluruh kaki dan akan timbul mati rasa. Keluhan yang paling sering dirasakan adalah kesemutan. Ulkus kaki pada neuropati sering kali terjadi pada permukaan plantar kaki yaitu di area yang mendapatkan tekanan tinggi baik karena tekanan sandal maupun sepatu yang sempit sehingga dapat berkembang menjadi lesi dan infeksi (Kariadi, 2009 dalam Lathifah 2017).
Penderita diabetes mellitus perlu penanganan oleh tenaga kesehatan diantaranya dengan mengenali diabetes, merencanakan diet makanan, latihan fisik, obat-obatan, dan memantau gula darah secara mandiri. Berbagai masalah keperawatan dapat muncul seperti kerusakan integritas jaringan, risiko infeksi, dan risiko ketidakstabilan kadar glukosa darah (Yahya, 2018).
Berdasarkan hasil survey di RSUD Dr. R GOETENG TAROENADIBRATA PURBALINGGA selama kurun waktu 3 tahun, terdapat kasus diabetes mellitus pada tahun 2016 sebanyak 27 kasus, 2017 sebanyak 65 dan di tahun 2018 terdapat 65 kasus. Dari data tersebut menunjukan adanya peningkatan kasus diabetes mellitus dengan kerusakan integritas jaringan pada tahun 2017. Pada tahun 2018 ini tidak terjadi adanya peningkatan angka kejadian diabetes mellitus dengan kerusakan integritas jaringan.
Hal terpenting dalam asuhan keperawatan pada pasien diabetes mellitus dengan kerusakan jaringan adalah perawatan luka yang tepat. Pasien dengan diabetes mellitus harus menghindari penekanan pada daerah luka, dan menerapkan diet yang sehat. Perawat memiliki peran penting dalam membuat perencanaan untuk mencegah terjadinya komplikasi, terdapat komponen penatalaksanaan diabetes yang harus diperhatikan perawat yaitu nutrisi, olahraga, pemantauan kadar glukosa darah, terapi farmakologis dan edukasi. Berdasarkan hal tersebut, penulis tertarik untuk pembuatan laporan kasus dengan judul “Asuhan Keperawatan Kerusakan Integritas Jaringan pada Ny. Y Dengan Diabetes Mellitus Tipe 2 Di Ruang Menur RSUD Dr. R GOETENG TAROENADIBRATA PURBALINGGA ”.
URL : https://repository.uhb.ac.id/index.php?p=show_detail&id=2419
APA Citation
. (2019). Asuhan Keperawatan Kerusaakan Integritas Jaringan Pada NY.Y Dengan Mellitus Tipe 2 Di Ruang Menur RSUD DR.R Goeteng Taroenadibrata Purbalingga. (Digital collection of academic papers, undergraduate thesis & research). Retrieved from https://repository.shb.ac.id