Lanjut usia merupakan suatu hal yang akan dihadapi oleh setiap manusia dan akan berkembang menjadi masalah yang kompleks karena usia harapan hidup (life expectancy) kelak akan berada diatas 70 tahun, sehingga populasi Indonesia tidak saja akan melebihi jumlah balita, tetapi juga dapat menduduki peringkat keempat didunia setelah RRC, India, dan Amerika Serikat (Ardhiatma dkk, 2017).
Salah satu penyakit degeneratif yang sering dijumpai pada lansia adalah asam urat. Asam urat atau bisa di sebut juga Arthritis Gout. Hasil akhir metabolisme purin yang disebut asam urat. Purin merupakan turunan protein yang terkandung didalam tubuh. Purin juga didapat dari makanan yang kita konsumsi (Juliana dkk, 2017). Seseorang yang bertambah tua, kemampuan fisik dan mentalnya akan mengalami penurunan. Lansia yang mengalami penurunan tersebut akan mempengaruhi aktivitas hidupnya yang pada akhirnya akan mengurangi kesiapan seseorang dan rentan terhadap penyakit (Muhith, 2016). Lanjut usia mengalami kemunduran sel-sel karena proses penuaan yang dapat menimbulkan berbagai macam penyakit salah satunya seperti peningkatan kadar asam urat (hiperurisemia). Peningkatan kadar asam urat disebabkan oleh penurunan fungsi kerja ginjal sehingga mengakibatkan penurunan
eksresi asam urat dalam tubulus ginjal dalam bentuk purin. Proses penuaan juga terjadi penurunan produksi enzim urikinase sehingga pembuangan asam urat menjadi terhambat (Fatimah, 2017).
Seseorang dikatakan menderita asam urat bila kadar asam urat dalam darahnya diatas 7 mg/dl pada laki – laki sedangkan pada wanita diatas 6mg/dl (Ardhiatma dkk, 2017). Kelebihan asam urat dalam darah dinamakan hiperurisemia. Hiperurisemia disebabkan karena produksi purin yang berlebih dan atau penurunan sekresi asam urat oleh ginjal. Tingginya asam urat dalam darah sampai terjadi hiperurisemia disebabkan seperti ada gangguan metabolisme purin bawaan, kelainan pembawa sifat atau gen, kebiasaan pola makan yang mengandung kadar purin tinggi (seperti daging, jeroan, kepiting, kerang, keju, kacang tanah, bayam, buncis, penyakit seperti leukimia, kemoterapi, radioterapi. Peningkatan kadar asam urat dalam darah atau biasa disebut hiperurisemia disebabkan karena peningkatan produksi, penurunan pengeluaran asam urat organ ginjal, atau kombinasi diantara keduanya (Ardhiatma dkk, 2017).
Dampak yang bisa terjadi apabila kadar asam dalam tubuh melebihi dalam batas normal, dapat menimbulkan batu ginjal atau piral dipersendian. Asam urat tidak mengancam jiwa, tapi bila penyakit ini sudah mulai menyerang, penderita asam urat akan mengalami nyeri yang hebat, terjadi pembengkakan, sampai cacat pada persendian tangan serta kaki (Fitriana, 2015). Lokasi yang paling sering pada serangan pertama adalah sendi pangkal ibu jari (La Ode, 2012). Rasa sakit pada pembengkakan tersebut oleh endapan kristal monosodium yang menderita asam urat, biasanya disertai rasa sakit pada ginjal, diabetes atau hipertensi (Fitriana, 2015).
Nyeri yang terjadi pada arthritis gout akan membuat takut untuk bergerak sehingga mengganggu aktivitas sehari-harinya dan dapat menurunkan produktivitasnya. Penurunan kemampuan muskuloskeletal karena nyeri sendi dapat juga menurunkan aktivitas fisik dan latihan, sehingga akan mempengaruhi lansia dalam melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari (activity of daily living atau ADL). Aktivitas sehari-hari yang dimaksud seperti makan, minum, berjalan, tidur, mandi, berpakaian dan buang air kecil (Chintyawati, 2014). Hasil penelitian Seran (2016) menyebutkan adanya hubungan nyeri pada arthritis gout yang akan mempengaruhi kemandirian lansia. Aktivias pada responden yang mengalami nyeri hebat memerlukan bantuan orang lain (Seran dkk, 2016).
Lansia mengalami perubahan normal maupun patologis yang berkaitan dengan proses penuaan dalam berbagai sistem. Proses perubahan tersebut menyebabkan penurunan fungsi sistem muskuloskeletal yang menyebabkan lansia rentan mengalami hambatan mobilitas fisik. Perubahan normal akibat penuaan ini paling jelas terlihat pada sistem muskuloskeletal berupa penurunan otot secara keseluruhan pada usia 80 tahun mencapai 30% sampai 50%.
Perubahan patologis pada sistem muskuloskeletal seperti rheumatoid arthritis, osteoarthritis, dan osteoporosis yang sering terjadi pada lansia menyebabkan hambatan mobilitas fisik (Uda dkk, 2016). Rematik merupakan penyakit inflamasi sistemik kronis, inflamasi sistemik yang dapat mempengaruhi banyak jaringan dan organ, tetapi terutama menyerang fleksibel (sinovial) sendi (Bawarodi, 2017).
Osteoartritis (OA) merupakan golongan penyakit rematik yang paling sering menimbulkan gangguan sendi, dan menduduki urutan pertama baik yang pernah dilaporkan di Indonesia maupun di luar negeri (Mambodiyanto, 2016). Osteoporosis merupakan pengeroposan tulang, massa tulang yang sedikit serta terganggunya bentuk susunan tulang yang dapat meningkatkan resiko tulang patah (Tandra, 2009).
Kejadian rheumatoid arthritis 20-300/100.000 orang per tahun. Usia 70 tahun sebesar 40% menderita osteoarthritis dan 80% dari pasien dengan osteoarthritis memiliki beberapa tingkat keterbatasan gerakan, serta 25 % tidak dapat melakukan aktivitas sehari-hari (Uda dkk, 2016). Gangguan hambatan mobilitas fisik dapat juga ditimbulkan oleh penyakit stroke. Stroke merupakan salah satu penyakit kronis yang sering diderita oleh lansia. Stroke merupakan suatu gangguan cerebrovaskuler (Mukhtarom, 2016).
Prevalensi penyakit gout di dunia mengalami kenaikan jumlah penderita hingga dua kali lipat antara tahun 1990-2010. Penyakit arthritis gout diperkirakan terjadi pada 840 orang dari setiap 100.000 orang (Juliana dkk, 2017). Prevalensi penyakit stroke menurut data WHO 2013, didapatkan setiap tahun terdapat 15 juta orang diseluruh dunia yang mengalami stroke, sekitar 5 juta orang penderita kelumpuhan permanen (Dermawan dkk, 2018). Prevalensi penyakit rematik didunia menurut WHO (2016) sebesar 335 juta penduduk didunia mengalami rematik (Bawarodi, 2017). Penderita Osteoarthritis sebanyak 151 juta jiwa di seluruh dunia (Mambodiyanto, 2016). Jumlah penderita osteoporosis di dunia sebanyak 200 juta orang (Tandra, 2019).
Prevalensi penyakit arthritis gout di Indonesia terjadi pada usia dibawah 34 tahun sebesar 32% dan diatas 34 tahun sebesar 68% (Juliana dkk, 2017). Hasil wawancara berdasarkan diagnosis dokter pada penduduk umur ≥ 15 tahun prevalensi penyakit sendi di Indonesia sebesar 7,3% , stroke 10,9 ‰ (Riskesdas, 2018). Prevalensi penderita arthritis gout berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan di provinsi Jawa Tengah sebesar 11,2 persen. Prevalensi penderita arthritis gout berdasarkan diagnosis atau gejala sebesar 25,5 persen (Riskesdas, 2013). Hasil wawancara berdasarkan diagnosis dokter prevalensi penyakit sendi di Jawa Tengah sebesar 7%, penyakit stroke 8‰ (Riskesdas, 2018). Data proyeksi penduduk, diperkirakan tahun 2017 terdapat 23,66 juta jiwa penduduk lansia di Indonesia (9,03%) (Kemenkes RI, 2017). Hasil penelitian puskesmas, prevalensi penyakit Arthritis gout di Puskesmas Purwokerto Selatan tahun 2018 sebanyak 60 kasus.
Hasil penelitian Siam, 2015, pada lansia yang menderita arthritis gout akan mengalami kekakuan sendi dan akhirnya mengakibatkan masalah keperawatan terjadinya hambatan mobilitas fisik. Penderita gout kronis mengalami gangguan pergerakan yang disebut juga dengan gangguan mobilisasi. Gangguan mobilisasi merupakan keadaan dimana seseorang tidak dapat bergerak secara bebas karena kondisi yang mengganggu pergerakan (aktivitas), misalnya mengalami trauma tulang belakang, cedera otak berat disertai fraktur pada ekstremitas dan sebagainya (Taufik, 2009). Hambatan mobilitas tersebut dapat ditandai dengan adanya ketidakmampuan melakukan pergerakan (La Ode, 2012).
Proses asuhan keperawatan yang dapat diberikan pada klien arthritis gout dengan gangguan mobilitas fisik meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan, intervensi, pelaksanaan dan evaluasi (Saputro W, 2016). Pemberian asuhan keperawatan pada penderita arthritis gout yang menjadi masalah keperawatan utama adalah hambatan mobilitas fisik dapat diselesaikan dengan melatih gerak aktif dan pasif pada ektermitas yang sakit sehingga dapat mengurangi kekakuan pada sendi (Aji, 2017).
Perilaku peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit serta mengukur pola makan merupakan salah satu dari beberapa cara perilaku sehat yang melengkapi satu sama lain untuk mendapatkan kesehatan yang optimal. Seseorang yang sudah memasuki usia lanjut, maka pola konsumsi makanannya harus dijaga dengan benar dan harus membatasi makanan yang dikonsumsinya karena lansia akan mudah terserang penyakit (Ardhiatma dkk, 2017).
Berdasarkan penjelasan latar belakang masalah diatas, dapat di ketahui bahwa asuhan keperawatan dengan kasus arthritis gout dengan melakukan intervensi lebih awal guna mengurangi gejala seperti nyeri yang dapat menyebabkan hambatan mobilitas fisik dan menghindari komplikasi yang dapat ditimbulkan, penulis tertarik mengenai “Asuhan Keperawatan Gerontik Gangguan Nyeri Akut pada Tn. S dengan Arthritis Gout di Puskesmas Purwokerto Selatan”.
URL : https://repository.uhb.ac.id/index.php?p=show_detail&id=2422
APA Citation
. (2019). Asuhan Keperawatan Gerontik Gangguan Nyeri Akut Pda TN.S Arthritis Gout Di Puskesmas Purwokerto Selatan. (Digital collection of academic papers, undergraduate thesis & research). Retrieved from https://repository.shb.ac.id