homescontents
homescontents

Repository Universitas Harapan Bangsa.
Digital collection of academic papers, undergraduate thesis, research

Repository Universitas Harapan Bangsa.
Digital collection of academic papers, undergraduate thesis, research


Detail Cantuman

Kembali

Asuhan Keperawatan Keluarga TN.M Dengan Masalah Keperawatan Utama Ketidakefektifan Bersihan Jalan Napas Pada NY.S Di Desa Dawuhan Wetan Kecamatan Kedungbanteng Kabupaten Banyumas

XML
Pengarang
DEWI NURBAETIN - Personal Name
Pernyataan Tanggungjawab
Lampiran Berkas
LOADING LIST...
Bahasa
Indonesia
Penerbit
Universitas Harapan Bangsa
Tahun Terbit
2019
Tempat Terbit
Purwokerto
Deskripsi Fisik

Abstract

Oksigenasi merupakan kebutuhan dasar manusia yang paling mendasar yang digunakan untuk kelangsungan hidup metabolisme sel tubuh, mempertahankan hidup dan aktivitas berbagai organ dan sel tubuh. Apabila terjadi gangguan pada oksigen, maka akan berdampak pada tiga proses yaitu ventilasi, difusi, dan transportasi. Ventilasi akan terganggu karena saluran pernafasan mengalami obstruksi akibat adanya penumpukkan sekret sehingga jumlah udara yang masuk dan keluar tidak adekuat. Pada proses difusi, infeksi bakteri akan menyebabkan penebalan pada dinding membran alveolar sehingga mengakibatkan gangguan proses pengiriman oksigen ke jaringan. Sedangkan transportasi merupakan proses pendistribusian antara oksigen kapiler ke jaringan tubuh dan karbondioksida jaringan tubuh ke kapiler (Mubarak dkk, 2015).
Gejala-gejala yang sering muncul pada seseorang terserang gangguan pernapasan yaitu batuk, peningkatan produk sputum, dyspnea, hemoptysis, mengi dan nyeri dada. Berbagai faktor yang berpengaruh dalam timbulnya penyakit atau gangguan pada saluran nafas diantaranya alergi pada saluran pernapasan yang meliputi debu yang terdapat didalam udara pernapasan, bulu binatang, serbuk benang sari bunga, kapuk yang dapat menyebabkan bersin, dan perilaku atau gaya hidup juga dapat mempengaruhi gangguan pada saluran pernapasan meliputi merokok, stress, latihan fisik/aktivitas, nutrisi, penyalahgunaan substansi dan juga karena faktor lingkungan (Sutanto, 2017).
Gangguan Sistem Pernapasan atau Respirasi meliputi Asma, Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK), Tuberculosis Paru, dan Pneumonia (Djojodibroto, 2014). Menurut World Health Organization (WHO) tahun 2015 terdapat 9,6 juta kasus tuberculosis paru di dunia dan 58% kasus terjadi di daerah Asia Tenggara dan Afrika. Tahun 2013, penderita asma di seluruh dunia dari 235 juta orang dengan prediksi kematian lebih dari 8% pada negara-negara yang berkembang dan tahun 2015 terdapat 600 juta orang menderita penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) di dunia dengan 65 juta orang dari derajat sedang hingga berat, Lebih dari 3 juta orang meninggal karena PPOK pada tahun 2005, yang setara dengan 5% dari semua kematian secara global.
Menurut data dari Departemen Kesehatan Republik Indonesia (Depkes RI) pada tahun 2013 prevalensi Tuberculosis Paru di Indonesia mencapai 800 ribu – 900 ribu kasus (297 per 100.000 penduduk) dan telah mengalami penurunan angka kematian dan kesakitan pada tahun 2015 menjadi 280 per 100.000 penduduk, prevalensi penyakit asma di Indonesia terdapat 18 provinsi, dari 18 provinsi tersebut 5 provinsi teratas adalah Sulawesi Tengah, Nusa Tenggara Timur, DI Yogyakarta, Sulawesi Selatan, dan Kalimantan Selatan dan Jawa tengah menempati posisi ke-15 dan prevalensi pada kasus penyakit paru obstruktuf kronik (PPOK) Indonesia sebanyak 5,6% atau 4,8 juta kasus untuk PPOK derajat sedang sampai berat, angka kematian akibat PPOK menduduki peringkat ke-6 dari 10 penyebab kematian di Indonesia dan prevalensi PPOK rata-rata sebesar 3,7% (Depkes RI, 2013).
Berdasarkan data dari Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS, 2013) penyakit asma mencapai 94.95 kasus (11,7%). Prevalensi penyakit Asma di Jawa tengah mencapai 4,3 % dan kabupaten Banyumas menempati posisi ke-10 tebanyak dari penyebaran penyakit asma di jawa tengah bersama dengan kabupaten Banjarnegara, dan Purbalingga. Kemudian, pada kasus Tuberculosis Paru di Jawa Tengah sebesar 55,99 per 100.000 penduduk dan Prevalensi PPOK meningkat di Provinsi Jawa Tengah dengan angka kejadian pada tahun 2014 rata-rata sebesar 2,14% menjadi 2,27% pada tahun 2015. Prevalensi di wilayah Surakarta juga meningkat dengan jumlah penderita PPOK pada tahun 2014 sebanyak 52 kasus dan pada tahun 2015 menjadi 204 kasus (Dinkes Jateng, 2015).
Berdasarkan data dari Puskesmas Kedungbanteng pada tahun 2018 prevalensi pada kasus Asma terdapat 68 dari 60.569 penduduk, pada kasus Tuberculosis Paru terdapat 260 per 60.596 penduduk dan pada kasus PPOK terdapat 124 per 60.596 penduduk. Dari 68 penderita Asma 27 orang diantaranya berjenis kelamin laki-laki dan 41 orang berjenis kelamin perempuan.

Menurut Herdman (2018), diagnosis keperawatan untuk klien dengan masalah oksigenasi meliputi salah satunya adalah ketidakefektifan bersihan jalan napas. Ketidakefektifan bersihan jalan napas adalah ketidakmampuan membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran napas untuk mempertahankan bersihan jalan napas. Secara umum tujuan asuhan keperawatan untuk klien dengan masalah oksigenasi adalah untuk mempertahankan kepatenan jalan napas, meningkatkan kenyamanan dan mudah saat bernapas, mempertahankan dan meningkatkan ventilasi dan oksigenasi paru, serta mencegah berbagai resiko yang terkait dengan masalah oksigenasi (Mubarak dkk, 2015).
Peran perawat juga sangat penting, peran perawat diantaranya sebagai pendidik kesehatan, pemberi pelayanan atau pengawas dan pengubah atau pemodifikasi lingkungan (Saheb, 2011). Tindakan keperawatan yang dapat dilakukan pada klien dengan gangguan pernapasan adalah posisi semi fowler dan latihan batuk efektif. Posisi semi fowler paling efektif bagi klien karena saat terjadi sesak nafas biasanya klien tidak dapat tidur dalam posisi berbaring, melainkan harus dalam posisi duduk atau setengah duduk untuk meredakan penyempitan jalan napas dan memenuhi oksigen dalam darah dan dapat membantu pengembangan paru dan mengurangi tekanan dari abdomen ke diafragma (Refi, 2011).
Batuk efektif merupakan suatu metode batuk dimana pasien dapat mengeluarkan dahak secara maksimal dengan teknik yang benar. Dengan melakukan batuk efektif maka sekret yang menghambat saluran pernapasan dapat dikeluarkan atau dihilangkan. Tindakan inilah yang digunakan perawat untuk mengeluarkan lendir pada penderita gangguan pernapasan sebagai salah satu intervensi dari manajemen ketidakefektifan bersihan jalan napas (Andarmoyo, 2012).
Hasil studi kasus yang diperoleh di Puskesmas Kedungbanteng penulis mendapatkan kasus penyakit asma dikeluarga Tn. M bertempat tinggal di Desa Dawuhan Wetan RT 05 RW 02 dengan keluhan sesak napas, batuk berdahak dan terdengar suara mengi sejak 3 hari yang lalu. Merasakan sesak napas jika sering memakan ikan asin, kecapean dan terkena debu, mempunyai riwayat penyakit asma sejak 3 tahun yang lalu.
Berdasarkan penjelasan latar belakang masalah di atas, penulis tertarik untuk mengambil studi tugas akhir dengan judul “Asuhan Keperawatan Keluarga Tn. M dengan Masalah Keperawatan Utama Ketidakefektifan Bersihan Jalan Napas pada Ny. S di Desa Dawuhan Wetan Kecamatan Kedungbanteng Kabupaten Banyumas“.


URL : https://repository.uhb.ac.id/index.php?p=show_detail&id=2423
APA Citation
. (2019). Asuhan Keperawatan Keluarga TN.M Dengan Masalah Keperawatan Utama Ketidakefektifan Bersihan Jalan Napas Pada NY.S Di Desa Dawuhan Wetan Kecamatan Kedungbanteng Kabupaten Banyumas. (Digital collection of academic papers, undergraduate thesis & research). Retrieved from https://repository.shb.ac.id




© 2018. UPT Perpustakaan - Universitas Harapan Bangsa, Formerly STIKes Harapan Bangsa Purwokerto, www.uhb.ac.id.
This software and this template are released Under GNU GPL License Version 3 II SLiMS distro version ETD
Made by The Happy Team :-D
web
statistics

SHB YPDP


https://103.189.235.100/

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor