Asuhan Keperawatan Ketidakseimbangan Nutrisi Kurang Dari Kebutuhan Tubuh Pada TN.M Dengan Tuberkulosis Paru Di Ruang Isolasi Lavender Lama Rumah Sakit Goeteng Taroenadibrata Purbalingga
Tuberkulosis paru (TB paru) merupakan penyakit radang paru yang mencakup 80% dari keseluruhan kejadian penyakit tuberkulosis, sedangkan 20% selebihnya merupakan tuberkulosis ekstrapulmonal (Djojodibroto, 2017). Bakteri penyebab tuberkulosis paru menularkan kepada orang lain terutama pada keluarga yang tinggal satu rumah dan dapat menyebabkan kematian. Penyakit tuberkulosis paru (TB paru) yang paling sering diserang adalah paru-paru (Sholeh, 2014).
Kasus insiden TB paru pada tahun 2016 terdapat 10,4 juta kasus yang setara dengan 120 per 100.000 penduduk di dunia. Negara dengan insiden kasus tertinggi yaitu India, Indonesia, China, Philipin dan Pakistan.Insiden tuberkulosis paru pada tahun 2016 sebagian besar terjadi di Kawasan Asia Tenggara (45%), dimana Indonesia merupakan salah satu didalamnya, 25% nya terjadi di Kawasan Afrika, 17% di Kawasan Pasifik Barat, 7% di Kawasan Mediterania Timur, 3% di Kawasan Eropa dan 3% di Kawasan Amerika. Penyakit TB paru masih menjadi masalah kesehatan di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Meskipun hanya memiliki jumlah penduduk sekitar 261 juta, Indonesia menduduki peringkat ke-2 di dunia. Berdasarkan laporan WHO, tahun 2017 diperkirakan ada 1.020.000 kasus TB di Indonesia, namun baru terlapor ke Kementrian Kesehatan sebanyak 420.000 kasus. Artinya Indonesia memiliki permasalahan besar dalam menghadapi TB paru (Kemenkes, 2018).
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Hadifah at all, (2017) menunjukan penderita TB paru dengan jenis kelamin laki-laki lebih banyak yang terdiagnosa, sebanyak 62% kasus TB berjenis kelamin laki-laki dan 38% kasus TB paru ditemukan pada perempuan. Hal ini karena kebiasaan laki-laki yang sering keluar rumah atau berinteraksi dengan orang lain dan kebiasaan merokok, sehingga risiko terpapar oleh kuman TB paru lebih tinggi. Sedangkan perempuan lebih banyak menghabiskan waktu di rumah.
Angka notifikasi kasus/case notification rate (CNR) merupakan jumlah semua kasus TB paru yang diobati dan dilaporkan diantara 100.000 penduduk yang ada di suatu wilayah tertentu. Case notification rateakan menggambarkan kecenderungan penemuan kasus setiap tahun.Angka ini menunjukan kecenderungan meningkat atau menurunnya penemuan kasus dari tahun ke tahun di suatu wilayah (Kemenkes, 2018).
Case Notification Rate untuk semua kasus TB di Jawa Tengah tahun 2016 sebesar 118 per 100.000 penduduk, hal tersebut menunjukan bahwa penemuan kasus TB paru di Jawa Tengah mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2015 yaitu 117 pe 100.000 penuduk. Kabupaten yang memiliki CRN tertinggi TB paru yaitu Kabupaten Magelang yaitu 791,0 per 100.000 penduduk, diikuti Tegal (505,6 per 100.000 penduduk), dan Surakarta (370,5 per 100.000 penduduk) (Depkes, 2016).
Berdasarkan Profil Kesehatan Kabupaten Purbalingga Penanggulangan penyakit TB paru di Kabupaten Purbalingga telah menunjukan hasil yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Angka penemuan penderita TB paru dengan CNR di Kabupaten Purbalingga mengalami peningkatan dari 54,54% pada tahun 2012 menjadi 61,15% diahun 2013. Angka penemuan penderita TB paru yang diperoleh di data RSUD Goeteng Taroenedibrata Purbalingga pada tahun 2017 terdapat 124 kasus dan pada tahun 2018 terdapat 192 kasus.
Penyakit TB paru terjadi ketika daya tahan tubuh menurun.Pada sistem penjamu kerentanan terhadap Mycobaterium tuberculosis sangat dipengaruhi oleh daya tahan tubuh seseorang pada saat daya tahan tubuh menurun. Gejala utama TB paru adalah demam, keletihan, anoreksia, penurunan berat badan, berkeringat malam, nyeri dada dan batuk menetap. Status gizi merupakan faktor risiko terhadap kejadian TB paru (Smeltzer, 2013).
Nutrisi berperan penting dalam proses penyembuhan dengan menerapkan pola makan yang sehat, maka bisa membantu tubuh melawan infeksi dan melawan bakteri penyebab tuberkulosis paru. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh pada pasien TB paru akan menimbulkan masalah keperawatan salah satunya ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh. Tuberkulosis dapat memperparah malnutrisi dengan cara mengurangi nafsu makan dan meningkatkan katabolisme (Bhargava, 2013). Keadaan ini berhubungan dengan keparahan penyakit TB paru dan kematian pada penderita TB paru. Penderita dengan kenaikan berat badan yang rendah selama terapi TB paru berisiko untuk gagal terapi dari penyakit TB paru (Kawai, 2011).
Berdasarkan keluhan utama yang dirasakan pasien adalah ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan faktor biologis maka penulis melakukan tindakan untuk mengatasi masalah ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh salah satunya dengan manajemen nutrisi. Tindakan keperawatan dalam manajemen nutrisi yaitu dengan memonitor kalori dan asupan makanan, memonitor kecenderungan terjadinya penurunan dan kenaikan berat badan, menentukan status gizi pasien dan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan gizi, mengidentifikasi adanya alergi atau intoleransi makanan yang dimiliki pasien, menentukan jumlah kalori dan jenis nutrisi yang dibutuhkan untuk memenuhi persyaratan gizi (Bulecheck at al, 2013). Berdasarkan masalah diatas bahwa status gizi merupakan faktor risiko terhadap kejadian TB paru, sehingga penulis tertarik melakukan asuhan keperawatan dengan “Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh Pada Tn. M dengan Tuberkulosis Paru di ruang Isolasi Lavender Lama RSUD Goeteng Taroenadibrata Purbalingga”.
URL : https://repository.uhb.ac.id/index.php?p=show_detail&id=2425
APA Citation
. (2019). Asuhan Keperawatan Ketidakseimbangan Nutrisi Kurang Dari Kebutuhan Tubuh Pada TN.M Dengan Tuberkulosis Paru Di Ruang Isolasi Lavender Lama Rumah Sakit Goeteng Taroenadibrata Purbalingga. (Digital collection of academic papers, undergraduate thesis & research). Retrieved from https://repository.shb.ac.id