Post partum merupakan situasi krisis bagi ibu, pasangan, dan keluarga akibat berbagai perubahan yang terjadi baik secara fisik, psikologis, maupun struktur keluarga yang memerlukan proses adaptasi atau penyesuaian. Adaptasi secara fisik dimulai sejak bayi dilahirkan sampai kembalinya kondisi tubuh ibu pada kondisi seperti sebelum hamil, yaitu kurun waktu 6 sampai 8 minggu. Proses adaptasi psikologi pada seorang ibu sudah di mulai sejak dia hamil. Kehamilan dan persalinan merupakan peristiwa yang normal terjadi dalam hidup, namun banyak ibu yang mengalami stres yang signifikan. Ada kalanya ibu mengalami perasaan sedih yang berkaitan dengan bayinya, keadaan ini disebut postpartum blues atau baby blues (Marmi, 2014).
Post partum merupakan masa atau waktu sejak bayi dilahirkan dan plasenta keluar lepas dari rahim, sampai enam minggu berikutnya, disertai dengan pulihnya kembali organ-organ yang berkaitan dengan kandungan, yang mengalami perubahan seperti perlukaan dan lain sebagainya yang berkaitan saat melahirkan (Suherni, 2009). Laktasi merupakan keseluruhan proses menyusui mulai dari ASI diproduksi, disekresi dan pengeluaran ASI sampai pada proses bayi menghisap dan menelan ASI (Marmi, 2014). Masa laktasi bertujuan untuk meningkatkan pemberian ASI ekslusif dan meneruskan pemberian ASI sampai anak mencapai usia 2 tahun secara baik dan benar dilaksanakan oleh ibu post partum (Anggraini, 2010).
Pemberian ASI memiliki banyak manfaat bagi bayi. Beberapa manfaat ASI bagi bayi yaitu sebagai perlindungan terhadap infeksi gastrointestinal, menurunkan risiko kematian bayi akibat diare dan infeksi, sumber energi dan nutrisi bagi anak usia 6 sampai 23 bulan, serta mengurangi angka kematian di kalangan anak-anak yang kekurangan gizi. Manfaat pemberian ASI bagi ibu yaitu mengurangi risiko kanker ovarium dan payudara, membantu kelancaran produksi ASI, sebagai metode alami pencegahan kehamilan dalam enam bulan pertama setelah kelahiran, dan membantu mengurangi berat badan lebih dengan cepat setelah kehamilan (WHO, 2016).
Data Riset Kesehatan Dasar menunjukkan cakupan ASI di Indonesia hanya 42 persen. Angka kelahiran di Indonesia mencapai 4,7 juta per tahun, maka bayi yang memperoleh ASI selama enam bulan hingga dua tahun, tidak mencapai dua juta jiwa. Angka ini menandakan hanya sedikit anak Indonesia yang memperoleh kecukupan nutrisi dari ASI. Padahal ASI berperan penting dalam proses tumbuh kembang fisik dan mental anak dengan dampak jangka panjangnya (Riskedas, 2013).
Menurut data Profil Kesehatan Indonesia pada tahun 2012 presentase cakupan pemberian ASI tertinggi adalah Nusa Tenggara Barat sebesar 68,84% dan di Jawa Tengah sendiri menempati urutan ke-6 yaitu sebesar 34,38% (DinKes, 2013).
Penurunan produksi ASI pada hari pertama setelah melahirkan dapat disebabkan oleh kurangnya rangsangan hormone prolaktin dan oksitosin yang sangat berperan dalam kelancaran ASI, hal ini menjadi kendala dalam memberikan ASI secara dini, ibu yang tidak dapat menyusui pada hari pertama setelah persalinan disebabkan oleh kecemasan terhadap pemberian ASI dan pengetahuan mengenai proses menyusui, hal ini yang membuat ASI tidak dapat keluar (Pace, 2009).
Setelah melahirkan, kadar estrogen, progesterone, dan human chorionic somatomatropin (HCS) menurun, dan human placenta lactogen (Hpl) merangsang alveoli mamae untuk memproduksi air susu. Sekresi air susu dimulai dari dasar sel-sel alveolar, tempat tetesan kecil dibentuk dan kemudian bermigrasi ke membran sel, tetesan kecil ini dikeluarkan ke dalam saluran alveolar untuk disimpan. Pengeluaran air susu merupakan suatu proses kontraksi sel mioepitel payudara mendorong air susu melewati saluran lalu masuk ke dalam sinus laktiferus. Sinus ini terletak di bawah areola dan air susu dikeluarkan dari isapan bayi. Suatu refleks neurohormonal mengontrol pengeluaran air susu atau refleks let down, dan bekerja melewati jaras saraf aferen utama, tetapi refleks let down dapat diaktifkan oleh stimulus pendengaran (tangisan bayi) dan stimulus visual (melihat bayi). Cabang eferen jaras ini secara jelas dipengaruhi oleh hormon, karena oksitosin yang dilepaskan dari kelenjar hipofisis posterior menyebabkan kontraksi sel-sel mioepitel payudara (Nurbaeti, dkk, 2013).
Perawatan payudara merupakan suatu tindakan untuk merawat payudara terutama pada masa nifas untuk memperlancar pengeluaran ASI. Perawatan payudara dapat dilakukan dua kali sehari yaitu saat mandi pagi dan mandi sore, teknik yang dapat digunakan yaitu seperti breast care, pijat oksitosin dan dapat pula menggunakan teknik marmet (Kumalasari, 2015).
Teknik yang dapat mempengaruhi produksi ASI yaitu dengan breast care atau perawatan payudara adalah suatu tindakan perawatan yang dilakukan baik oleh ibu post partum maupun dibantu oleh petugas kesehatan setelah hari pertama atau kedua setelah melahirkan. Gerakan pada payudara bermanfaat melancarkan pengeluaran ASI, mencegah tersumbatnya saluran susu, dan memperlancar sirkulasi darah. Perawatan payudara atau breast care tidak hanya dilakukan pada saat melahirkan, tetapi juga pada saat hamil (Astutik, 2014). Ibu post partum yang dilakukan perawatan payudara atau breast care 80,0% pengeluaran ASI-nya lancar, sedangkan yang tidak dilakukan perawatan payudara atau breast care 20,0% ASI-nya tidak lancar (Sholichah, 2011).
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2012, cakupan pemberian ASI eksklusif di Jawa Tengah hanya sekitar 25,6%. Angka tersebut lebih rendah dibandingakn pada tahun 2011 yakni sebesar 45,18%. Cakupan tertinggi di Kota Surakarta sebesar 46,1% dan terendah di Kabupaten Brebes sebesar 2,8%. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Boyolali, cakupan ASI eksklusif pada tahun 2012 sebesar 41,60%, pada tahun 2013 sebesar 51,30%, dan pada tahun 2014 sebesar 62%. Target pencapaian pemberian ASI eksklusif nasional sekitar 80%, sedangkan target pencapaian pemberian ASI di Jawa Tengah sekitar 55% (Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, 2012).
URL : https://repository.uhb.ac.id/index.php?p=show_detail&id=2457
APA Citation
. (2019). Asuhan Keperawatan Ketidakcukupan Produksi ASI Pada NY. P G5 P3 A1 Dengan Post Partum Normal Hari Ke 1 Di RSUD DR. R Goeteng Taronadibrata Purbalingga. (Digital collection of academic papers, undergraduate thesis & research). Retrieved from https://repository.shb.ac.id