Asma merupakan salah satu penyakit saluran napas yang banyak dijumpai, baik pada anak-anak maupun dewasa. Asma untuk menggambarkan kejadian pernafasan yang pendek-pendek (shortnes of breath). Asma merupakan penyakit yang manifestasinya sangat bervariasi. Sekelompok pasien mungkin bebas dari serangan dalam jangka waktu lama dan hanya mengalami gejala jika mereka berolahraga atau terpapar alergen atau terinfeksi virus pada saluran pernapasanya. Pasien lain mungkin mengalami gejala yang terus menerus atau serangan akut yang sering, yang bahkan bisa berakibat fatal. Pola gejalanya juga berbeda antar satu pasien dengan pasien yang lainya (Ikawati, 2016).
Prevalensi asma menurut Word Health Oraganization (WHO) tahun 2016 sekitar 235 juta dengan angka kematin lebih dari 80% di Negara-negara berkembang. Data prevalensi Asma di Amerika Serikat berdasarkan umur sebesar 7,4% pada dewasa dan 8,6% pada anak-anak, berdasarkan jenis kelamin 6,3% laki-laki dan 9,0% perempuan, dan berdasarkan ras sebesar w7,6% ras kulit putih dan 9,9% ras kulit hitam (WHO, 2016).
Prevalensi asma meningkat, terutama dinegara-negara barat, dimana kurang dari 5% populasi mungkin simtomatik dan mendapat pengobatan. Bersamaan dengan prevalensi yang meningkat terjadi peningkatan
mortilitas, meskipun ada perbaikan pengobatan. Di Inggris satu dari tujuh orang memiliki penyakit alergi dan lebih dari 9 juta orang mengalami mengi pada tahun 2003. Jumlah remaja dengan asma hampir berlipat ganda selama lebih dari 12 tahun terakhir. Asma jarang terjadi ditimur dan paling sering terjadi di Inggris, Australia dan Selandia Baru. Terdapat beberapa korelasi dengan gaya hidup kebarat-baratan, termasuk kondisi lingkungan yang disukai tungai, berdebu, dan polusi atmosferik.
Hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 2013 menyatakan hasil prevalensi asma bronkhial secara nasional adalah 4,5%. Asma bronkhial termasuk dalam sepuluh besar penyebab kesakitan dan kematian di Rumah Sakit ,dimana diperkirakan 10% dari 25 juta penduduk Indonesia menderita asma bronkhial. Prevalensi asma bronkhial di Provinsi Jawa Tengah yaitu sebesar 4,3%.
Menurut Smeltzer dan Susan (2013) gejala asma yang paling umum adalah batuk (dengan atau tanpa disertai produksi mukus), dyspnea, dan mengi (pertama pada ekspirasi, kemudian bisa juga sering terjadi selama inspirasi). serangan asma bronkhial paling sering terjadi pada malam hari.
Peningkatan permeabilitas dan sensitivitas terhadap alergen yang terhirup, iritan, dan mediator inflamasi merupakan konsekuesi dari adanya cedera pada epitel. Inflamasi kronis pada saluran pernapasan dapat menyebabkan penebalan membran dasar dan deposisi kolagen pada dinding bronkial. Perubahan ini dapat menyebabkan sumbatan saluran nafas secara kronis, pelepasan berbagai mediator inflamasi menyebabkan
bronkokontriksi, sumbatan vaskuler, permeabilitas vaskuler, produksi dahak yang kental sehingga mengakibatkan ketidakefektifan bersihan jalan nafas (Ikawati, 2016).
Dari hasil studi pendahuluan yang dilakukan penulis pada Tahun 2017-2018 Di Ruang Lavender RSUD dr.R. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga didapatkan data jumlah pasien yang menderita asma bronkhial sebanyak 20 pasien. Salah satunya yang diderita oleh Ny.S
Berdasarkan latar belakang tersebut maka penulis tertarik untuk menyusun karya tulis ilmiah tentang asuhan keperawatan secara komprehensif, dengan judul Asuhan Keperawatan Ketidakefektifan Bersihan Jalan Nafas pada Ny.S dengan Asma Bronkhial Di Ruang Lavender RSUD dr.R. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga sebagai pemenuhan pada tugas akhir.
. (2019). Asuhan Keperawatan Ketidakefektifan Bersihan Jalan Napas Pada NY.S Dengan Asma Bronkhial Di RSUD DR.R.Goeteng Taroenadibrata Purbalingga. (Digital collection of academic papers, undergraduate thesis & research). Retrieved from https://repository.shb.ac.id