Penyakit diare merupakan penyakit yang sangat berbahaya dan terjadi hampir di seluruh daerah geografis di dunia dan bisa menyerang seluruh kelompok usia baik laki-laki maupun perempuan, tetapi penyakit diare dengan tingkat dehidrasi berat dengan angka kematian paling tinggi banyak terjadi pada bayi dan balita Diare seringkali dianggap sebagai penyakit sepele, padahal di tingkat global dan nasional fakta menunjukkan sebaliknya.
Diare adalah kondisi yang didefinisikan oleh peningkatan frekwensi defekasi (lebih dari tiga kali sehari), peningkatan jumlah feses (lebih dari 200 gram per hari), dan perubahan konsistensi (feses encer). Diare biasanya di sertai dengan urgensi, ketidaknyamanan/nyeri perianal, inkontinensia, atau kombinasi dari faktor-faktor tersebut. Diare dapat disebabkan oleh setiap kondisi yang mengakibatkan peningkatan sekresi usus, penurunan absorpsi mukosa, atau perubahan (peningkatan) motilitas. (Suddarth & Brunner, 2013).
Menurut WHO (World Health Organization) pada tahun 2013, setiap tahunnya ada sekitar 1, 7 miliar kasus, diare dengan angka kematian 760.000 anak dibawah 5 tahun. Pada negara berkembang anak-anak dibawah usia 3 tahun rata-rata mengalami 3 episode diare pertahun. Setiap episodenya, diare akan menyebabkan kehilangan nutrisi yang dibutuhkan anak untuk tumbuh, sehingga diare merupakan penyebab utama malnutrisi pada anak dan menjadi penyebab dan menjadi penyebab kematian kedua pada anak berusia dibawah 5 tahun. Berdasarkan data United Nation children’s Fund (UNICEF) dan World Health Organization (WHO) pada tahun 2013, secara global terdapat dua juta anak meninggal dunia setiap tahunnya karena diare (WHO, 2013). Berdasarkan profil kesehatan Indonesia tahun 2015, Penyakit diare merupakan penyakit endemis di Indonesia dan juga merupakan penyakit potensial KLB yang sering disertai dengan kematian. Pada tahun 2015 terjadi 18 kali KLB Diare yang tersebar di 11 provinsi, 18 kabupaten/kota, dengan jumlah penderita 1.213 orang dan kematian 30 orang (CFR 2,47%).
Sedangkan menurut profil dinas kesehatan provinsi Jawa tengah tahun 2015 sebesar 67,7%, menurun bila dibandingkan proporsi tahun 2014 yaitu 79,8%. Hal ini menunjukkan penemuan dan pelaporan masih perlu ditingkatkan. Kasus yang ditemukan maupun yang diobati di layanan pemerintah maupun swasta belum semua terlaporkan. Untuk kasus berdasarkan gender antara laki-laki dan perempuan lebih banyak perempuan, hal ini disebabkan bahwa perempuan lebih banyak berhubungan dengan faktor risiko diare, yang penularannya melalui vekal oral, terutama berhubungan dengan sarana air bersih, cara penyajian makanan dan PHBS (DINKES JATENG, 2015).
Diare merupakan penyebab kurang gizi yang penting terutama anak -anak. Diare menyebabkan anoreksia (kurang nafsu makan) sehingga mengurangi asupan gizi dan diare dapat mengurangi daya serap usus terhadap sari makanan. Dalam keadaan infeksi, kebutuhan sari makanan pada anak-anak yang mengalami diare akan meningkat, sehingga setiap serangan diare akan menyebabkan kekurangan gizi. Jika hal ini berlangsung teru-menerus akan mengakibatkan gangguan pertumbuhan anak. Penyakit diare dapat ditanggulangi dengan penangan yang tepat sehingga tidak sampai menimbulkan kematian terutama pada balita (Widoyono, 2012).
URL : https://repository.uhb.ac.id/index.php?p=show_detail&id=2465
APA Citation
. (2019). Asuhan Keperawatan Keluarga TN.A Dengan Masalah Kesehatan Utama Diare Pada AN.S Di Desa Rempoah RT 05 RW 04 Wilayah Kerja Puskesmas 11 Baturaden. (Digital collection of academic papers, undergraduate thesis & research). Retrieved from https://repository.shb.ac.id