Masalah kematian dan kesakitan ibu di Indonesia merupakan salah satu masalah yang perlu ditangani dengan menekan pertumbuhan penduduk melalui program Keluarga Berencana (KB). Metode pemasangan IUD yang dianjurkan adalah post plasenta karena dapat mengurangi risiko infeksi, perforasi dan perdarahan namun berisiko mengalami ekspulsi lebih tinggi. Puskesmas kembaran 1 mempunyai akseptor IUD tertingi di Kabupaten Banyumas yaitu sebanyak 253 akseptor dengan kejadian ekspulsi yang tertinggi yaitu ada 96 akseptor.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan penggunaan alat kontrasepsi IUD post plasenta dengan kejadian ekspulsi pada akseptor IUD di Puskesmas Kembaran 1 tahun 2013.
Penelitian ini adalah penelitian analitik korelasional dengan pendekatan cross sectional. Teknik sampling dalam penelitian ini menggunakan total sampling. Sampel penelitian ini adalah semua ibu yang menggunakan kontrasepsi IUD (Intra Uterine Device) yaitu sejumlah 253 akseptor. Uji statistik yang digunakan adalah uji chi square.
Hasil penelitian menunjuk kan bahwa sebagian besar responden menggunakan IUD bukan post plasenta sebanyak 138 responden (54,5%). Sebagian besar IUD yang digunakan responden tidak ekspulsi sebanyak 157 responden (62,1%). Tidak ada hubungan antara penggunaan alat kontrasepsi IUD post plasenta dengan kejadian ekspulsi pada akseptor IUD di Puskesmas Kembaran tahun 2013 dengan p-value = 0,288.
IUD Post Plasenta Ekspulsi Akseptor IUD
. (2014). Hubungan Penggunaan Alat Kontrasepsi IUD Post Plasenta Dengan Kejadian Ekspulsi Pada Akseptor IUD di Puskesmas Kembaran 1. (Digital collection of academic papers, undergraduate thesis & research). Retrieved from https://repository.shb.ac.id